Patriotisme di Tiongkok kuno mempunyai konotasi moral yang mendalam. Dari kaisar hingga rakyat jelata, mereka menekankan kultivasi diri dan memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa negara, mengukuhkan kepercayaan tradisional Tiongkok tentang patriotisme.
Orang dahulu berkata, “Seorang penguasa seharusnya ada demi rakyatnya.” Pemikir terkenal, Mencius mencatat, “rakyat adalah yang paling berharga, setelah itu negara, dan penguasa yang terakhir.”
Kepercayaan Tiongkok Tradisional Terhadap Patriotisme
Selama ratusan tahun, Yue Fei, seorang jenderal militer di Dinasti Song Selatan merupakan panutan dari kata “kesetiaan”
Legenda mengatakan bahwa ibu Yue Fei mentatto kata-kata jing zhong bao guo ( “Melayani Negara dengan Kesetiaan Sepenuhnya” ) di punggungnya ketika dia muda untuk mengingatkan dia agar selalu tetap setia kepada negaranya. Setelah menjadi jenderal negara, ia memimpin pasukannya bertempur dengan gagah berani untuk mempertahankan negara, namun, ia juga tidak pernah lupa berbakti kepada ibunya, memperhatikan tentaranya, dan berempati dengan warga sipil. Dia berpegang teguh pada apa yang benar, dan tidak akan membelokkan prinsip-prinsipnya demi keuntungan pribadi, bahkan bila itu bertentangan dengan kehendak kaisar.
Baik Kepada Semua Orang
Yue Fei diperintahkan untuk mengusir pemberontak dan mengembalikan pemerintahan di Qianzhou dan Jizhou. Dia mengirim pasukan untuk cepat menduduki puncak gunung dan menangkap semua pemberontak di sana. Para pemberontak berteriak dan memohon pengampunan, jadi Yue Fei memerintahkan pasukannya agar tidak membunuh mereka, dan mengakhiri pertempuran dengan damai.
Kaisar Gao Zong memerintahkan Yue Fei untuk membunuh semua orang di kota setelah merebut Qianzhou. Namun, Yue Fei memohon kaisar untuk mengeksekusi hanya para pelaku, tetapi mengampuni komplotan dan warga sipil. Dia tidak menyerah hingga Gao Zong mengabulkan permohonannya. Bersyukur atas penyelamatan nyawa mereka, warga sipil menggantung potret Yue Fei di rumah mereka sebagai pahlawan.
Berempati dengan Rakyat Jelata
Ketika Luzhou diduduki oleh penjajah dari Dinasti Jin, Yue Fei dikirim untuk menaklukkan penjajah. Mengikuti benderanya dengan kata-kata, “Yue” dan “Kesetiaan,” pasukannya bertempur dengan berani dan mengalahkan penjajah Jin.
Saat berperang melawan pasukan Jin di Luzhou, Yue Fei menemukan bahwa sebagian besar warga sipil di sana kekurangan makanan untuk dimakan, dan ternak untuk diternakkan. Dia meminta kepada Kaisar Gao Zong untuk memberikan pinjaman kepada warga sipil, dan mengampuni hutang mereka untuk menarik kembali mereka yang di pengasingan, dan kembali ke kampung halaman mereka.
Yue Fei memastikan bahwa mata pencaharian warga sipil tidak terganggu saat perang, dan ia membagikan uang penghargaan yang ia terima secara merata di antara para komandan dan prajuritnya setiap kali ia memenangkan pertempuran. Salah satu pepatahnya yang dikenang adalah:
Jika pegawai negeri sipil tidak mencintai uang, dan para jenderal tidak takut mati, dunia akan damai.
Yue Fei
Untuk mengamankan makanan yang cukup untuk pasukannya, Yue Fei mengirim tentara untuk merebut kembali lahan kosong dan merekrut petani lokal untuk bertani di tanah itu. Dengan melakukan itu, mereka dapat menghemat setengah dari simpanan padi-padian tahunan negara itu.
“Patriotisme” di Bawah Partai Komunis Sekarang
Bertentangan dengan kepercayaan tradisional, Partai Komunis Tiongkok (PKT) mempromosikan “pertempuran melawan langit, bumi, dan orang-orang,” dan “menghancurkan pemikiran lama, budaya dan tradisi kuno, dan kebiasaan lama” untuk menghasut “filosofi perjuangan” di masyarakat Tiongkok.
PKT memanipulasi tradisi Tiongkok untuk mempromosikan agendanya, mempertahankan kekuatan politiknya, dan ‘menstabilkan’ pengendaliannya. Di bawah pemerintahannya, “patriotisme” telah menjadi candu spiritual yang menanamkan kebencian dalam Tiongkok. Bukannya mendorong orang Tionghoa untuk mengultivasikan karakternya sendiri, dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat, PKT malah sengaja mengkonotasikan “patriotisme” sebagai “nasionalisme,” dan dengan demikian mempropagandakan yang lama sebagai orang yang setia kepada PKT sendiri. Oleh karena itu, di RRC, sekolah dasar mulai mengajar siswa untuk membenci negara lain, serta siapa pun yang mengkritik PKT. Ia ingin orang-orang Tiongkok percaya bahwa PKT adalah Tiongkok, dan dengan demikian anti-PKT setara dengan anti-Tiongkok.
Rencana PKT adalah menjadikan semua orang Tiongkok sebagai kaki tangannya untuk berdiri di sisinya dan menjaga rezim komunis. Itu berbohong pada dunia, meracuni hati orang, dan merusak kepercayaan tradisional. Semua perbuatan buruknya dan sifat jahatnya bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar alam semesta. (id.minghui.org)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
