Rini, seorang pelajar sekolah, mempunyai kebiasaan untuk mampir ke minimarket sepulang sekolah, sebelum pergi lagi ke tempat lesnya.
PODCAST
Minggu lalu, selama beberapa hari selalu turun hujan. Hujan sebentar turun sebentar reda. Hari itu seperti biasanya Rini mampir dulu ke minimarket untuk membeli minuman. Setelah membeli minuman, keluar minimarket ternyata hujan telah reda. Rini tidak ingin membawa payung birunya dalam keadaan basah ke tempat les. Karena itu dia meninggalkannya di tempat yang sudah tersedia di depan minimarket. Seusai les dan dijemput ibunya, ia berencana untuk menjemput payungnya tersebut.
Ketika sedang les, hujan turun kembali, bahkan lebih lebat dari sebelumnya. Untungnya ketika les selesai, hujanpun berhenti.
Saat les usai, Ibu pun datang menjemput. Rini berkata pada Ibunya:
“Ibu, bisakah mampir sebentar di minimarket untuk ambil payung? Tadi saya tinggalkan di sana.”
Ibu: “Hah, payung bagus ditinggal disana, kalau diambil orang bagaimana?”
Setibanya di depan minimarket, Rini turun dari mobil. Dalam sekejap ia mengetahui bahwa payung birunya itu telah hilang. Rini pun berjalan masuk kembali kedalam mobil dan berkata:
“Ibu, payungnya udah gak ada, mana mungkin bisa hilang…kok bisa hilang ya?”
Ibunya terdiam dan merenungi kepolosan putrinya itu. Ia lalu berkata:
”Sudah pasti diambil orang, itu adalah payung bagus dan masih terhitung baru, jika seseorang ingin mengambilnya tentu dengan sangat mudah dibawanya pergi!”
Namun setelah tercenung sejenak, Rini pun berkata:
“Tapi Bu, aku yakin Si Biru pasti tidak akan sedih kalau diambil orang.”
Ibunya dengan heran bertanya padanya:
“Bagaimana kamu bisa tahu kalau si Biru tidak sedih? Kamu tadi telah meninggalkannya di minimarket, dia pasti mengira kamu sudah tidak menginginkannya lagi.”
Rini menjawab:
“Bukan begitu Bu.. Tadi pas Rini di tempat les, hujan turun lebat sekali. Orang yang membawa si Biru pergi, pasti tidak membawa payung, barulah dia memakai si Biru. Si Biru pasti tahu dia sudah menolong orang yang tidak membawa payung itu, membuat orang itu tidak sampai terguyur basah kusup oleh air hujan. Membantu orang seharusnya kan bergembira, makanya si Biru tidak mungkin bersedih.”
Sang Ibu yang mendengarnya terdiam. Dalam hati diam-diam ia merasa kagum atas jalan pikiran putrinya yang polos dan murni itu.
Pikiran anak-anak adalah lurus dan tidak berprasangka. Perasaan hatinya sangatlah positif, bahkan saat mereka kehilangan sesuatu. Sebaliknya orang dewasa hanya akan berpikir, mengapa orang lain mengambil sesuatu yang bukan miliknya, dan menggunakan konsep “untung-rugi” untuk melihat suatu peristiwa.
Jika kadang-kadang orang dewasa meminjam sudut pandang anak-anak yang positif dan murni ini untuk memikirkan suatu masalah, niscaya suasana hati yang dihasilkan pastilah berbeda.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu
