“Perbandingan itu menjijikkan.”
Penggunaan paling awal dari pepatah lama itu diketahui berawal pada 1440-an, ketika John Lydgate menulis dalam karyanya Debate between the horse, goose, and sheep (Debat antara kuda, angsa, dan domba) bahwa “Odyous of olde been comparisonis, and of comparisonis engendyrd is haterede” (Perbandingan itu menjijikkan, dan perbandingan melahirkan kebencian). Kalimat “comparisons are odious” juga muncul dalam karya penulis seperti Shakespeare, Cervantes, dan Christopher Marlowe.
Ejaan Bahasa Inggris telah mengalami beberapa perubahan yang nyata dalam 600 tahun terakhir, tetapi apakah sentimen dibalik ungkapan “Perbandingan itu menjijikkan” tetap berlaku? Apakah perbandingan itu menimbulkan kebencian?
Mari kita lihat.
Perbedaan sehari-hari
Bagi kebanyakan orang, perbandingan dilakukan sealami bernafas. Saat membeli handuk kertas di toko, kita membandingkan harga dan kualitas keseluruhan dari berbagai jenis gulungan di rak. Ketika kita membeli mobil, kita membandingkan lusinan detail sebelum membeli.
Esai mengenai “persamaan dan perbedaan” tetap menjadi soal favorit sepanjang masa diantara para guru dan lembaga penguji nasional. Tes The Advanced Placement English Literature seringkali menyuguhkan soal dua buah puisi dan meminta siswa untuk menemukan persamaan dan perbedaan dalam berbagai hal seperti tema, kejelasan, dan struktur.
Tahun lalu, tiga anak saya pindah rumah. Membandingkan rumah baru mereka dengan yang lama tampak wajar dan tidak berbahaya bagi saya.
Sebagian besar diantara kita juga membuat perbandingan dalam ranah politik, sosialisme versus kebebasan, libertarianisme versus konservatisme, dan seterusnya. Melakukannya adalah hal benar dan adil, dan membantu menentukan pemerintahan seperti apa yang kita miliki.
Pada beberapa kesempatan, bahkan penilaian kita terhadap orang lain tidak merugikan. Sebagai contoh, anggap saja saya melihat dua wanita duduk berdampingan di kedai kopi yang sering saya kunjungi, yang satu cantik langsing berambut hitam, yang lain pirang, berpakaian jelek, dan sedikit kelebihan berat badan. Awalnya, saya menilai wanita pertama lebih cantik dari lainnya. Namun, ketika mendengar cara tertawa dari si wanita pirang, saya kemudian berpikir, “Suatu hari dia mungkin akan bertemu dengan seorang pria yang akan jatuh cinta dengan tawa itu.”
Namun, pada saat kita menilai seseorang pada permukaan saja, maka kita akan tersesat di hutan belantara yang gelap.
Memotret diri sendiri
Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Ketika kita terus menerus membandingkan diri kita dengan orang lain, teman, atau anggota keluarga, secara tidak sadar kita mungkin menganggap mereka sebagai contoh untuk ditiru dan meningkatkan diri, tetapi kemudian kita cenderung menjadi kritis terhadap hidup kita sendiri. Pria berusia 20 tahun yang bekerja sebagai juru tulis di toko obat saat melihat teman masa kecilnya, yang sekarang menjadi pengacara, menjadi depresi karena kekurang-berhasilan dirinya. Remaja pendiam memisahkan diri sepanjang malam saat pesta dansa di sekolah karena sahabatnya yang ceria menjadi pusat perhatian, mungkin menganggap ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya dibandingkan dengan temannya.
Saya memiliki beberapa teman, setengah baya dan lebih tua, yang sampai hari ini melihat teman sekolah atau teman dekat yang telah sukses hidupnya, dan membenci diri mereka sendiri karena apa yang mereka anggap sebagai kurangnya reputasi. Mereka tidak dapat melihat diri mereka sendiri seperti saya melihat mereka, pria dan wanita baik hati yang melakukan yang terbaik yang mereka bisa di dunia yang sulit ini.
Perbandingan diri juga dapat terjadi pada arah sebaliknya dan dampaknya sama-sama merusak. Saat muda, beberapa kali saya mendengar cerita mengenai pria dan wanita yang saya kenal yang telah mengkhianati kepercayaan keluarga dan temannya dengan cara yang berbeda. Atau orang yang gagal memenuhi beberapa kode etik yang tidak tertulis. Saya mengatakan, “Tidak akan pernah melakukan hal itu,” baik pada diri saya maupun pada orang lain. Namun tibalah saatnya ketika saya menyakiti beberapa orang. “Kesombongan sebelum terjatuh” adalah bahayanya, dan sekarang, setelah lebih tua, lebih bijak, dan lebih banyak menerima pukulan, saya berusaha lebih keras menahan diri dalam mengkritik atau menghakimi orang lain dalam hidup saya.
Masing-masing punya karakter sendiri
Ketika kita membandingkan seseorang dengan yang lain, kita juga bisa mendapatkan hasil yang mengerikan. Ucapan seorang ibu pada Johny kecil, “Mengapa kamu tidak bisa bersikap seperti saudaramu, Sally?” dalam sekejap telah menyayat hati anaknya. Ketika seorang komentator mengatakan bahwa Presiden Donald Trump adalah Adolph Hitler atau Benito Mussolini yang lain, dia tidak hanya terlibat dalam metafora yang sepenuhnya palsu, tetapi juga sedang mempermalukan dirinya sendiri, menunjukkan kurangnya pengetahuan sejarah dan proporsi dirinya.
Orang tua yang baik khususnya menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda dengan saudara kandungnya. Johny yang ramai, lantang, dan penuntut, sementara Sally menikmati kedamaian dan ketenangan, dan cenderung menyenangkan orang. Adik laki-laki mereka, Steve, kesulitan membuat pilihan, sedikit menjauh dari anak-anak yang tidak dia kenal, dan memandang dunia dengan tatapan yang gugup dan waspada.
Ayah dan ibu memahami anak-anak memiliki temperamen yang berbeda, dan menyesuaikan diri sesuai dengan kebutuhan dan karakter masing-masing anak.
Penghukuman
Ketika saya mengatakan pada teman bahwa saya sedang menulis tentang perbandingan, dia menuliskan hal berikut melalui email: “Menurut saya [perbandingan] merujuk pada penilaian pada seseorang. Karena masing-masing orang unik, penilaian menghilangkan semua kecuali satu atau dua karakteristik seseorang. Ketika mencintai seorang anak, kita mencintai anak itu secara keseluruhan, dan menyakitkan mendengar orang lain menghakimi anak itu ? karena mereka tidak dapat melihat secara keseluruhan. Mereka tidak peduli.”
Kebanyakan orang rentan terhadap perbandingan dan penghukuman karena ketidakpedulian. Beberapa orang saat ini, misalnya, secara negatif membandingkan masa kini dengan masa lalu. Mereka memandang pria seperti George Washington dan Thomas Jefferson, dan mengutuk mereka sebagai monster karena memiliki budak dan mengabaikan pencapaian dan prestasi mereka. Para pengkritik seperti itu sering kali buta terhadap kekurangan dan budaya mereka. Salah satu contoh: Kritikus ini mungkin melecehkan nenek moyang kita sebagai seorang yang rasis, sambil berbicara tentang konsep seperti “hak istimewa kulit putih” dan “kerapuhan kulit putih”, yang pada akhirnya menunjukkan bahwa mereka sendiri yang sebenarnya rasis.
Sebagai penekanan terhadap email yang ditulis oleh teman saya, kita terlalu sering tidak melihat seseorang secara keseluruhan. Kita acuh, dan dalam hal ini ketidaktahuan bukanlah berkah yang mendatangkan kebahagiaan.
Solusinya
Jika kita menerima orang-orang di sekitar kita, seperti yang ditulis teman saya, sebagai “orang dengan keunikannya masing-masing,” dan menerima diri kita sendiri dengan cara yang sama, dorongan untuk membandingkan -dan terkadang- “hukuman” akan berkurang. Jika kita menyingkirkan penilaian yang sering kali berkaitan dengan perbandingan, kita dapat menghindari perbuatan merugikan diri kita sendiri dan orang lain.
Lydgate menulis bahwa perbandingan itu menimbulkan kebencian. Mungkin. Tetapi kemungkinan besar, perbandingan membuat mereka yang menghakimi semangatnya sedikit lebih kecil, jiwanya sedikit lebih gelap.
Penulis produktif itu, si Anonymous, menuliskan: “Satu-satunya orang yang harus kamu jadikan lebih baik adalah dirimu yang kemarin.”
Itulah resep terbaik untuk perbandingan yang sehat.
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
