Budaya

Cara Menangkap Pencuri Asli

Fu Rong, komandan "Qin Awal 16 Negara"
Fu Rong, komandan "Qin Awal 16 Negara"

Para bijak jaman dulu mementingkan “Kebajikan, Keadilan, Tata Krama, Kecerdasan, Kepercayaan”. “Kecerdasan” bukan hanya terefleksi pada pengetahuan dan kebenaran, juga termasuk kearifan dan kepandaian. Fu Rong – komandan “Qin Awal 16 Negara”, menggunakan kecerdasan untuk memutuskan kasus, menebarkan kebaikan dan menghukum yang jahat, mewariskan kisah menarik untuk generasi penerus.

“Qin Awal Lima Negara Barbar dan Enam Belas Negara” (304-469) merupakan pemerintahan yang didirikan oleh suku Di. Fu Jian menyatukan wilayah utara saat ia menjadi Kaisar (337-385), menjadikan negaranya yang terkuat di antara 16 negara. Fu Jian punya seorang adik bernama Fu Rong (wafat pada 383), merupakan tangan kanannya yang handal, Fu Rong dikenal sebagai seorang politikus suku minoritas yang hebat dalam sejarah Tiongkok.

Kitab sejarah mencatat, Fu Rong arif dan cerdas dalam bidang sastra dan militer, dalam mengelola daerah, juga dalam memimpin pasukan di medan perang, ia memiliki kemampuan dan kinerja yang luar biasa.

Fu Rong sangat handal dalam memutuskan kasus kriminal, mengamati ekspresi dan gelagat, menyelidiki dan menalarkan pemecahan masalah, dia senantiasa setingkat lebih tinggi dari orang lain, sehingga tiada situasi yang tidak tuntas. Di saat dia menjabat sebagai Sixiao Xiaowei (setara hakim tinggi), telah membongkar banyak kasus yang sulit, membuat daerahnya “bebas dari perampok dan pencuri, bahkan orang-orang tidak mengambil barang yang tertinggal di jalan.”

Ada seorang nenek dalam perjalanan pulang – buntalannya dirampas oleh penjambret. Mengingat uang dalam buntalan sangat penting bagi dirinya, si nenek berteriak sejadi-jadinya, “Maling…..maling.” Seorang pemuda yang berjalan di dekatnya melihat nenek menangis sedih, merasa iba lalu berlari mengejar penjambret ke arah yang ditunjukkan si nenek. Pemuda tersebut tegap dan gesit, sebentar saja sudah menyusul penjambret. Dua pemuda saling bergumul, berebut buntalan.

Ilustrasi “maling teriak maling”. Lukisan karya Chou Ying (Dinasti Ming)

Semakin banyak warga datang berkerumun, si penjambret tahu posisi dirinya di bawah angin, mendadak dapat ilham, ia berbalik menuduh dan memaki lawannya sebagai penjambret, sedangkan dirinya tengah membela kebenaran. Dua orang saling menuduh, membuat khalayak bingung.

Sang nenek datang dengan terhuyung-huyung, juga bingung saat ditanya: “Siapa dari mereka yang merampas buntalan anda?” Si nenek pun tidak bisa membedakan mana penjambret sebenarnya, mana orang baik yang menolongnya. Memang sulit karena saat itu hari sudah senja, mata nenek tidak melihat begitu jelas, di saat panik hanya teringat buntalannya saja. Nenek tidak sempat memerhatikan dua pemuda itu, baik wajah, pakaian dan usia mereka tidak jauh berbeda.

Petugas pengadilan bertanya kepada kedua pemuda: “Di antara kalian siapa yang palsu, saya tidak bisa membedakan. Terpaksa kalian berdua harus ikut saya ke kantor pemerintah, saya harus melapor, baru selesai tugas saya. Sementara kalian, yang baik maupun yang jahat, masing-masing akan mendapatkan balasannya.” Kedua pemuda dan nenek dibawa ke pengadilan setempat.

Kebetulan Fu Rong sedang inspeksi ke tempat itu. Keesokan harinya, tiga orang yang berperkara dibawa ke hadapan Fu Rong. Fu mendengarkan laporan langsung, ia mengamati dengan teliti dua pemuda yang sulit dibedakan baik dan jahatnya; berpikir sejenak, lalu berkata kepada para pejabat setempat: “Mana yang baik mana yang jahat meskipun tidak terpatri di wajah mereka, namun juga tidak sulit membedakan. Kalian bawalah kedua pemuda itu ke luar, suruh mereka lomba lari, bersamaan lari ke arah pintu gerbang Feng Yang, siapa yang lebih dulu tiba di gerbang Feng Yang, dia bukanlah perampok. Beri ia hadiah lalu lepaskan.”  

Para pejabat dan petugas pengadilan tidak pernah mendengar cara demikian untuk menyelidiki kasus perampokan, namun nama besar Fu Rong, negarawan yang sangat arif – sudah lama mereka dengar. Mereka percaya Fu Rong berkata demikian pasti ada maknanya, semua instruksi Fu mereka ikuti.

Tak lama kemudian lomba lari pun dimulai.

Pemuda yang larinya sangat cepat, sampai lebih dulu di pintu gerbang Feng Yang, ia mendapatkan hadiah, pergi dengan senang hati; sementara pemuda yang berlari lebih lambat, saat tiba di pintu gerbang Feng Yang, ia langsung ditangkap oleh petugas pengadilan.

Fu Rong menunjuk pemuda yang berlari lebih lambat dan berkata: “Anda penjambret yang merampas barang, mau ditimpakan ke orang baik. Sekarang, mengakukah kalau anda adalah penjambret sesungguhnya?” Pemuda yang kalah lomba lari itu tidak berani lagi menyangkal, dengan jujur mengakui perbuatannya.

Petugas pengadilan bertanya kepada Fu Rong, bagaimana lomba lari bisa membedakan penjambret tulen? Fu Rong berkata: “Sebenarnya sangat sederhana. Yang merampas buntalan secara alami akan lari secepatnya untuk kabur; yang mengejar adalah yang membela kebenaran, pasti mulainya belakangan, tapi bisa menyusul si penjambret, artinya kecepatan ia berlari lebih cepat dari penjambret tulen. Makanya yang berlari lebih lambat pastilah si penjambret, yang berlari lebih cepat adalah pemuda yang menangkap penjambret. Saya suruh mereka lomba lari, semua menjadi jelas bukan?”

Semua yang mendengar penjelasan tersenyum, memuji dan mengagumi cara Fu Rong yang sederhana namun luar biasa. Sejak saat itu, jika di daerah itu ada perkara pelik, selalu minta petunjuk Fu Rong dalam memutuskan. (epochtimes/luwen/lyj/kar)

slot gacor

situs slot gacor