Pandemi COVID-19 telah menjungkirbalikkan banyak hal di dunia. Pandemi dan lockdown mungkin telah menyebabkan celah kebocoran dalam menimbulkan kesalahpahaman dan bahkan perselisihan yang tak mengenakkan dengan orang yang kita cintai. Meskipun sebagian besar pasangan berusaha untuk menjaga kedamaian dan menghindari konflik, namun terkadang ada “blind spots” yang menghalangi kita melihat sudut pandang orang lain. Saat terjadi konflik, cobalah untuk mengingat kata-kata Budha ini, “Dalam pertempuran, baik yang menang maupun yang kalah akan sama-sama kehilangan.”
Aksi dan reaksi
Saat Anda merasa benar, secara alami Anda akan cenderung melawan dan membuktikan pendapat Anda, apa pun konsekuensinya. Anda cenderung menutup hati dan menolak untuk menyerah. Saat itulah kemarahan meluap dan Anda tidak rela melepaskannya. Karena setiap aksi ada reaksi, maka perasaan negatif akan meningkat setiap kali saling membalas argumentasi. Anda menjadi terpaku pada kesalahan orang lain, dan dibutakan oleh emosi negatif. Anda bahkan berada pada titik kehancuran. Jadi, bagaimana dapat memperbaiki hubungan setelah terjadi pertengkaran yang buruk, dan bagaimana Anda bisa belajar untuk memandang perbedaan secara ringan?
Tanya diri sendiri
Begitu merasa marah, semua orang di sekitar Anda akan merasakannya. Coba tanyakan pada diri sendiri: “Mengapa saya marah? Apakah pasangan yang membuat saya marah, atau perasaan dan perilakunya? Apakah yang membangkitkan amarah saya? Apakah saya merasa terpojok, diperlakukan tidak adil, diremehkan, atau dihina? Apakah orang ini sedang menguji saya dengan meragukan gambaran diri saya?
Saling memberi ruang
Setelah Anda melakukannya, mundur selangkah, dan biarkan semuanya mengalir. Pergilah berjalan-jalan dan saling memberi ruang. Tidak ada salahnya mundur sejenak. Entah apapun alasannya, entah benar atau salah, Anda dapat mencegah konflik berakhir dengan buruk.
Ingatlah hal-hal baik dalam hubungan Anda saat hal-hal negatif mengaburkan emosi.
Jangan terlalu menempel atau terlalu menjauh dari pasangan. Perhatikan perasaan sendiri juga. Jika Anda merasakan sakit, berdamailah. Menangislah saat ingin menangis. Lepaskan emosi negatif seperti kebencian dan kemarahan. Begitu hati dan pikiran Anda tenang, Anda akan merasa lebih baik – seperti badai yang menjernihkan udara, dan hujan yang membasuh semuanya menjadi bersih.
Mencari titik temu
Ingatlah bahwa semua tindakan baik yang datang dari diri Anda adalah milik Anda dan tidak akan dapat diambil dari Anda. Setelah suasana tenang kembali, bukalah hati untuk berkomunikasi, meskipun sulit. Cobalah untuk memahami sudut pandang pasangan dan rasa sakitnya. Ingat, dia juga menderita. Jelaskan hal-hal (secara singkat) dari sudut pandang Anda. Jangan memaksakan pendapat atau memperpanjang konflik. Anda bisa kehilangan segalanya. Cobalah untuk saling mencari titik temu, dan menyeimbangkan perbedaan. Belajarlah untuk saling memaafkan. Sesulit apapun, buatlah gurauan dan menormalkan situasi.
Jika pertengkaran disebabkan oleh materi seperti uang, properti, dan lain-lain, Anda dapat membicarakan batasan-batasan yang menentukan peran dan tanggung jawab pribadi. Ini akan membantu Anda untuk bertumbuh dan mendewasakan hubungan.
Berikut adalah beberapa poin yang dapat menjadi panduan:
1.Usahakan hanya menangani satu masalah pada satu waktu. Saat berdebat tentang satu masalah, tetaplah fokus pada masalah tersebut. Jangan menyinggung karakter orang lain atau keluarganya.
2.Bersikaplah terbuka, jujur, dan peka satu sama lain.
3.Tumbuhkan rasa sayang.
4.Jangan menyinggung hal yang terlalu pribadi, tidak relevan, dan tidak adil. Saling menghormati perbedaan satu sama lain.
5. Bicarakan masalah Anda dan jangan takut mengatakan tentang konflik-konflik baru yang muncul.
6.Selesaikan konflik selagi masih kecil.
7.Pertahankan pikiran yang jernih, dan akui bahwa, kapan saja, Anda mungkin salah.
Dengan tidak memaksakan pendapat, secara alami Anda akan menemukan kebahagiaan kembali. Dengan sendirinya, Anda juga akan mengikuti hukum alam semesta yang agung dan kekal ? yang hidup dalam kedamaian dan harmoni bersama orang lain.
Tetap tenang dan biarkan bagian yang buruk berlalu, dan cobalah memperbaiki.
Terakhir, ingatlah tiga hal ini:
Mungkin Anda memang benar, tapi apa gunanya jika keluarga menjadi berantakan. Menciptakan lingkungan yang damai memastikan karakter-karakter baik lain akan mengikuti.
Sulit memberitahu seseorang tentang kekurangan mereka (atau memahami kekurangan diri sendiri) saat berada dalam pertengkaran. Fokus pada menguraikan hal-hal negatif terlebih dahulu.
Setiap konflik adalah kesempatan untuk belajar tentang kekurangan Anda.
(visiontimes/sia/feb)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
