Siapakah yang tidak pernah terluka hatinya? Entah karena perkataan atau perbuatan dari orang-orang terdekat atau bahkan dari orang yang sama sekali tidak kenal. Mungkin Anda merasa orang tua lebih perhatian pada saudara daripada Anda, atau seorang kolega mengambil proyek Anda, atau seorang sahabat mempekerjakan asisten rumah tangga yang sebelumnya bekerja pada Anda, atau bahkan saat berkendara di jalan raya, ada pengendara lain yang mengumpat pada Anda.
Bagi sebagian orang, kata-kata atau perbuatan ini meninggalkan bekas yang cukup mendalam, terutama jika dilakukan oleh orang-orang terdekat. Mereka kemudian merasa marah, benci, bahkan dendam. Terkadang ketakutan seseorang untuk terluka lagi itulah yang membawanya ke kebencian.
Meski setiap orang telah diajarkan kebaikan dan memaafkan kesalahan orang lain sedari kecil. Namun, dalam praktiknya, memaafkan orang lain – atau bahkan memaafkan diri sendiri sekalipun – tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Namun demikian, meskipun susah, praktek memaafkan ini sebaiknya dilakukan. Everett Worthington, penulis, psikolog klinis, dan profesor psikologi di Virginia Commonwealth University mengungkapkan bahwa menggenggam dendam dalam jangka waktu panjang akan membuat penggenggamnya membayar harga yang mahal. Lebih lanjut Worthington menjelaskan meski efek kemarahan dan stres itu tidak langsung terlihat, namun pada akhirnya akan mengganggu kesehatan jika terus menerus digenggam.
Sebuah riset yang dikepalai oleh Loren Toussaint menguatkan akan hal tersebut, setidaknya dalam hal kualitas dan kuantitas tidur. Tulisan yang meneliti keterkaitan antara tidur dengan memaafkan orang lain dan diri sendiri ini menunjukkan bahwa orang yang lebih pemaaf cenderung tidur lebih nyenyak dan lebih lama, yang pada gilirannya mendapatkan kesehatan fisik yang lebih baik.
Mereka juga cenderung lebih puas dengan hidupnya. Lebih lanjut, profesor dari Department of Psychology Luther College ini menuliskan bahwa hal ini berlaku bagi orang-orang yang lebih memaafkan orang lain dan orang-orang yang lebih memaafkan diri mereka sendiri – meskipun memaafkan orang lain memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan tidur yang lebih baik.
Artikel yang dilansir Sophie McMullen di laman epochtimes ini juga mengungkapkan bahwa memaafkan diri sendiri dan orang lain dapat membantu seseorang melepaskan penyesalan dan luka yang dialami pada masa lalu dan menawarkan pertahanan penting diantara banyaknya peristiwa yang akan terjadi di hari ini, sambil tetap menjaga agar dapat tidur nyenyak.
Sebenarnya dalam studi yang dilakukan oleh Toussaint ini tidak membuktikan bahwa memaafkan dapat menyebabkan tidur lebih nyenyak, dia hanya melihat bahwa dari kelompok studi yang lebih pemaaf juga memiliki kecenderungan tidur lebih nyenyak.
Maka, meskipun memaafkan tidak menjamin dapat menyelesaikan masalah tidur Anda, namun setidaknya memberikan maaf pada diri sendiri atau orang lain, dapat menjadi salah satu terapi konstruktif yang dapat dicoba.
Memaafkan orang lain, tidak hanya sekedar dapat tidur lebih nyenyak atau lebih lama, namun juga dapat membuat hati dan jiwa Anda lebih tenang. Karena Andalah yang akan menderita lebih banyak, bukan orang yang melukai Anda. Terlebih lagi, berdamai dengan orang-orang terdekat yang melukai kita, akan membawa pada ikatan yang lebih kuat. (ntdindonesia/averiani)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
