Kehidupan pernikahan pasti mengalami banyak pasang surut maupun kegembiraan dan tantangan. Tidak selalu menyenangkan. Pasangan kuno berusaha terus bersama hingga akhir hayatnya, melewati masa suka dan duka. Saling mencintai dan menyayangi satu sama lain, perjodohan, pernikahan karena kehamilan, rasa syukur, dan terkadang tanggung jawab, dan bahkan karena kewajiban adalah beberapa ikatan yang menyatukan pernikahan – seumur hidup – sejak zaman kuno.
Banyak kebudayaan percaya bahwa pernikahan itu ditakdirkan dan ditetapkan oleh Tuhan. Rahasia hubungan yang langgeng, biasanya sesederhana kesediaan saling memberi dan menerima, saling menghormati dan mencintai, komitmen, kesetiaan, dan toleransi serta meluangkan waktu satu sama lain. Tentu saja, saat perselisihan serius muncul, perceraian bisa saja terjadi.
Sang putri memperlakukan keluarga suaminya dengan sopan dan hormat
Putri Futu memiliki seorang putri yang cantik bernama Shao Yi-xin. Di usia 20 tahun, Shao Yi-Xin menikah dengan seseorang dari suku Khitan bernama Yelu Nu. Dia memahami perbedaan antara budaya Tionghoa dan budaya Khutu dan karena itu, dia memperlakukan Yelu Nu dan keluarganya dengan sopan dan hormat, menunjukkan keindahan dan karakter budaya tradisional Tionghoa.
“Daripada menggunakan trik, mengapa Anda tidak mencoba menggunakan aturan etika?”
Shao secara tidak sengaja mendengar saudara iparnya mendiskusikan trik yang dapat mereka gunakan agar perhatian suami tetap tertuju pada mereka. Shao menyampaikan, “Daripada menggunakan trik, mengapa Anda tidak mencoba menggunakan aturan etika?”
Saat memperbaiki diri sendiri terus menerus, Anda akan berperilaku benar dan sesuai dengan pedoman kuno tentang kejujuran dan rasa hormat.
Saat mereka bertanya mengapa, Shao menjawab, “Ketika Anda memperbaiki diri sendiri terus menerus, Anda akan berperilaku benar dan sesuai dengan pedoman kuno tentang kejujuran dan rasa hormat. Anda akan melayani para tetua dengan hormat dan penuh bakti. Anda akan memperlakukan suami dengan lembut dan ramah, dan Anda akan menjadi baik dan murah hati terhadap anak-anak.”
“Ini semua adalah aturan etika. Jika berperilaku seperti ini, Anda akan mendapatkan cinta dan rasa hormat dari suami. Jika mencoba mengelabui dia agar mencintai Anda, apakah tidak merasa malu pada diri Anda sendiri?” Sang Kakak ipar seketika melihat kebijaksanaan dalam kata-katanya dan menyetujuinya.
Pada tahun-tahun terakhir pernikahan mereka, Yelu Nu dinyatakan bersalah atas perbuatannya dan dijatuhi hukuman pengasingan. Karena Shao adalah seorang putri, kaisar menawarkan untuk menceraikan suaminya sehingga dia dapat terbebas dari hukuman.
Suami istri diikat oleh moralitas. Mereka berjanji tetap bersama baik dalam susah maupun senang.
Shao menjawab dengan mengatakan, “Tawaran Yang Mulia untuk membebaskan saya, seorang putri dari garis keturunan kerajaan, menunjukkan cinta kasih Anda yang luar biasa. Meskipun demikian, pasangan suami istri terikat bersama oleh moralitas. Kami berjanji untuk tetap bersama dalam susah maupun senang.”
“Jika saya meninggalkan suami saya sekarang, saya akan melanggar janji tersebut dan juga akan melanggar aturan etika. Itu akan membuat saya tidak ada bedanya dengan binatang. Saya berharap Yang Mulia akan mengasihani kami dan mengizinkan kami untuk tetap bersama. Saya tidak ada keluhan mengenai kehidupan saya, bahkan jika saya mati sekarang.” Kaisar tersentuh oleh kata-kata indah Shao dan mengabulkan permintaannya.
Begitu pasangan itu tiba di tempat tujuan, Shao Yi-xin mendapati dirinya harus bekerja lebih keras daripada sebelumnya. Kehidupan menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Dia menerima takdirnya dengan baik. Dia tidak mengeluh dan terus memperlakukan Yelu dengan sopan dan hormat seperti sebelumnya.
Mengapa pernikahan modern tampak begitu rapuh? Pepatah lama untuk pasangan menikah seperti “sebuah ikatan yang harmonis akan bertahan seratus tahun,” atau “saling memperlakukan pasangannya seperti melayani seorang tamu,” dan “saling membantu dalam keadaan kebersahajaan” adalah beberapa pedoman yang masih dapat diberlakukan pada pasangan menikah dewasa ini
Rasa hormat, tanggung jawab, dan rasa syukur adalah kebajikan yang dapat membimbing pasangan melalui segala jenis kesulitan. Kembali ke nilai-nilai kuno ini mungkin akan membuat perbedaan besar bagi pasangan yang sedang mengalami masa sulit.
“Hidup telah mengajari kita bahwa cinta bukan hanya sekedar saling memandang, tetapi juga bersama-sama memandang keluar dengan arah yang sama.” Antoine de Saint-Exupery (emmalu/visiontimes/sia/feb)
Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
