Dahulu ada dua dokter terkenal di Fuzhou, Jiangxi; yang satu bermarga Li dan yang lainnya Wang. Keduanya memiliki keterampilan medis yang hebat dan etika kedokteran yang mulia. Seorang pria kaya di Kabupaten Chongren, Fuzhou, jatuh sakit. Dia mengirim utusan pergi ke kota untuk mengundang Dr. Li untuk merawatnya. Pasien tersebut berkata bahwa dia akan memberikan sejumlah besar uang sebagai hadiah jika dia sembuh dari penyakitnya. Namun setelah 10 hari perawatan, kondisi pasien tidak kunjung membaik. Dalam keputusasaan, Dr. Li mengundurkan diri dan menyarankan keluarga pasien meminta dokter lain untuk merawatnya. Dr. Li berkata: “Mungkin hanya Dr. Wang yang bisa menyembuhkannya.” Kala itu, kedua dokter tersebut memiliki keterampilan medis yang setara, sehingga keluarga pasien pergi menemui Dr. Wang.
Ketika Dr. Li sedang berjalan pulang, dia kebetulan bertemu dengan Dr. Wang. Dia lalu menceritakan proses perawatan pasien secara detail. Setelah mendengarnya, dengan malu Dr. Wang berkata, “Dibanding keterampilan medis Anda, saya masih jauh di belakang. Kalau Anda gagal menyembuhkannya, apa gunanya saya ke sana. Jadi, bagaimana kalau kita mengobatinya bersama? ” Li menjawab: “Saya tidak akan ke sana. Saya sudah mengecek denyut nadi pasien dan meresepkan obat yang tepat. Tidak ada yang salah dengan itu, namun saya telah gagal menyembuhkan pasien dalam waktu yang lama. Mungkin ini bukan hari baik saya. Ngomong-ngomong, saya masih punya obat di sini. Karena Anda akan ke sana, bawalah ini. Selama Anda melanjutkan pengobatan dengan obat ini, maka pasien akan sembuh.”
Dr. Wang selalu menghormati Dr. Li, jadi dia melakukan apa yang dikatakan. Ia melanjutkan proses merebus bahan restorasi menjadi ramuan untuk diminum pasien. Hanya dalam tiga hari, orang kaya itu sembuh.
Menurut janji keluarga pasien sebelumnya, mereka akan memberikan uang kepada Dr. Wang, tetapi dia bertanya-tanya bagaimana cara menanganinya. Dia bermaksud memberikan setengahnya kepada Dr. Li, tetapi dia menolak dan berkata: “Saya tidak dapat mengambil uang ini. Dengan upaya Anda untuk menyembuhkan penyakit, Anda berhak mendapatkan uang. Bagaimana saya bisa menerima ucapan terima kasih keluarga? ” Pada akhirnya, Dr. Wang gagal meyakinkannya untuk menerima uang tersebut. Bahkan 10 tahun kemudian, fakta bahwa kedua dokter itu bersikap sopan satu sama lain atas mater itu masih beredar luas dan dipuji di daerah setempat.
Dokter Tiongkok kuno tidak memikirkan untung rugi
Dr. Li gagal menyembuhkan penyakit pasiennya, namun beliau menjalankan tugasnya sebagai dokter. Dia tidak peduli dengan untung rugi dan tidak mengharapkan pujian untuk dirinya, hal yang sangat jarang terjadi. Meskipun Qian Yi, seorang dokter terkenal di Dinasti Song Utara, menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh dokter kekaisaran, dia masih memberikan pujian kepada dokter lain, yang bahkan lebih langka.
Selama masa pemerintahan Kaisar Shenzong, Zhao Ji, putra kesembilan kaisar (yang kemudian dimahkotai sebagai Penguasa Kerajaan Yi), sering mengalami kejang yang tidak dapat diobati oleh dokter kekaisaran. Putri tertua menghadap kaisar dan memintanya untuk memanggil dokter umum Qian Yi untuk merawatnya. Alhasil, Qian menyembuhkan penyakit sang pangeran dengan resep yang disebutnya “Sup Tanah Kuning”. Ketika kaisar memanggilnya dan bertanya dengan ragu: “‘Sup Tanah Kuning’ ini dapat menyembuhkan penyakit?” Qian berkata dengan hormat, “Dengan memanfaatkan tanah untuk menaklukkan air, jika air tetap stabil, angin jahat akan berhenti dengan sendirinya.” Kemudian dia menambahkan: “Sebenarnya, dokter istana hampir menyembuhkan penyakit pangeran, dan saya kebetulan datang bertepatan dengan kesembuhan pangeran.”
Qian menyembuhkan penyakit pangeran, tetapi dia memuji orang lain. Sikapnya membuat kaisar kagum karena perilakunya yang jujur dan rendah hati. Belakangan, kaisar mempromosikannya menjadi dokter kekaisaran peringkat empat dan memberinya seragam ungu resmi.
Di era Dinasti Ming, Shen Yiqian, seorang penyembuh yang kurang dikenal, menjadi dokter kekaisaran atas rekomendasi Jiang Yongwen, Direktur Akademi Kedokteran Kekaisaran (IAM). Jiang telah menghabiskan beberapa waktu mempelajari Konfusianisme. Dia kuno dan sifat lembutnya dibalut dengan etika kedokteran yang baik. Jiang sendiri juga direkomendasikan oleh Dai Sigong, mantan Direktur IAM, untuk menjadi seorang dokter kekaisaran. Jiang lalu dipromosikan menjadi Wakil Direktur IAM dan kemudian menjadi Direktur. Kaisar sangat menghargainya dan menganugerahkan kepadanya gelar anumerta “Gong Yi” setelah kematiannya.
Ketika Jiang sedang sakit parah, kaisar mengirim seseorang untuk bertanya: “Setelah kamu meninggal, siapa yang bisa menggantikanmu?” Dia segera menulis nama “Shen Yiqian.” Saat itu, Shen hanyalah seorang penyembuh biasa. Di bawah rekomendasi Jiang, kaisar menjadikan Shen seorang dokter kekaisaran. Belakangan, fakta membuktikan bahwa Shen memang seorang dokter yang berbakat dan berbudi luhur. Setelah kematian Jiang, kaisar terus berkata: “Jiang mengenal orang dengan baik, dan Shen tidak mengecewakan rekomendasinya.”
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
