Budaya

Kaisar Wendi Dari Dinasti Han Menghentikan Pembangunan Paviliun Untuk Menghemat Uang Rakyatnya

Kaisar Wen
Kaisar Wen. (Credit: Catherine Chang/Epoch Times)

Kisah ini berasal dari Catatan Sejarah: Xiaowen Benji. Pada suatu waktu, Kaisar Wendi dari Dinasti Han Tiongkok, ingin membangun sebuah paviliun di Gunung Li. Dia semula memerintahkan tukang kayu untuk memperkirakan biayanya. Tukang memperkirakan biayanya seratus tael emas. Wendi berkata, “Ini kurang lebih sama dengan kekayaan bersama sepuluh keluarga kelas menengah. Kaisar sebelumnya telah meninggalkan banyak istana dan paviliun bagi saya. Saya sering khawatir kekurangan jasa saya akan menodai reputasinya. Bagaimana saya bisa menghabiskan lebih banyak biaya dan kerja keras untuk pembangunan paviliun ini?”

Kaisar Wendi, yang nama kecilnya adalah Liu Heng, adalah raja yang baik yang suka mendengarkan nasehat rakyatnya. Dia menjalani kehidupan yang sederhana. Selama 23 tahun masa kekuasaannya, beliau tidak melakukan perbaikan besar istana-istananya. Dia juga coba memotong biaya pengeluaran istana. Para pakar sejarah menceritakan bagaimana Kaisar Wendi membatalkan pembangunan sebuah paviliun: “Wendi adalah kaisar negeri. Dia memiliki kekayaan amat besar. Dan ada kedamaian saat dia berkuasa. Negeri menjadi kuat, dan rakyat makmur. Maka tidaklah masalah untuk membangun sebuah paviliun. Namun, dia bahkan tidak mau menghabiskan 100 tael emas untuk melakukannya. Dia, sesungguhnya bersinar terang bersama para kaisar bijaksana dalam sejarah, yang dipuji rakyat.” (Yao, Shrun dan Yu)

Menurut catatan sejarah, selama pemerintahan Kaisar Wendi, tidak ada penambahan pada istana, taman, pakaian, kereta dan kuda, dan lain-lain. Dia tidak akan melakukan apa pun yang merusak kepentingan rakyatnya. Meskipun Wendi seorang kaisar, pakaian sehari-harinya dibuat dari bahan sederhana. Dia bahkan meminta anak kesayangannya, Putri Shen, agar tidak mengenakan gaun mewah. Tempat tidurnya juga biasa saja dan seprainya tanpa sulaman penuh warna. Demikian hematnya Wendi, untuk memberikan teladan pada dunia.

Wendi juga meminta bila kelak ia wafat, makamnya hanya boleh dibuat dari tembikar. Para tukang tidak diperkenankan menggunakan logam berharga seperti emas, perak, tembaga, atau timah untuk mendekorasi makamnya. Beliau juga melarang pembuatan nisan besar, untuk menghemat biaya dan tidak mengganggu kehidupan para petani dan rakyatnya. Walaupun ia hidup hemat, Wendi sangat bermurah hati terhadap orang-orang yang memerlukan bantuan seperti para janda, anak yatim dan keluarga miskin. Ia juga mendata dan mendistribusikan sembako dan selimut kepada para lansia yang hidup sebatang kara. 

Saat itu Raja Vietnam Selatan adalah Weituo, yang memproklamirkan dirinya menjadi Kaisar Wudi. Kaisar Han, Wendi tidak menyerangnya. Malah memanggil adik Weituo ke ibukota, dan memberinya properti serta membuatnya kaya raya. Sebagai akibatnya, Weituo akhirnya tersentuh, dan melepas gelar kekaisarannya, dan menyerah pada Dinasti Han.

Selama Dinasti Han, bangsa Hun masih merupakan kekuatan yang perkasa. Dinasti Han baru saja didirikan, dan segalanya masih dalam masa peralihan. Tidaklah tepat bagi mereka untuk mengirim pasukan untuk berperang. Wendi karenanya membuat perdamaian dengan bangsa Hun melalui perkawinan. Tetapi bangsa Hun melanggar janji, dan menyerang Dinasti Han serta melakukan perampasan. Namun, Wendi hanya memerintahkan pasukannya untuk menjaga perbatasan dan melindungi rakyat. Dia tidak mengirim bala tentara untuk berperang di wilayah bangsa Hun, karena dia mempertimbangkan malapetaka yang akan ditimbulkan oleh peperangan.  

Di antara menterinya, Yuan Ang selalu apa adanya dan tajam bila bicara dengan Wendi. Wendi selalu menerima nasehat menteri-menterinya dengan penuh toleransi. Kadangkala dia bahkan menghadiahkan mereka yang bicara apa adanya. Pada satu kesempatan, Menteri Zhang Wu dan lainnya menerima uang sogokan. Ketika Wendi mengetahuinya, dia mengambil sejumlah uang pribadi dan memberikannya pada para pejabat korup tersebut. Tetapi dia tidak menghukum mereka dengan menurunkan jabatannya. Namun kejadian ini tersebar luas, maka orang-orang ini pun merasa sangat malu dan menyesal.

Ketika Kaisar Wendi berkuasa, pikirannya dicurahkan untuk rakyat jelata, dan dia menjalankan kekuasaannya dengan bijaksana, bukannya dengan hukuman keras. Di bawah pemerintahannya, pertanian subur, rakyat menjalani hidup yang damai dan makmur. Di bawah kekuasaan Partai Komunis China saat ini, pemerintah lokal membangun gedung-gedung mewah. Namun, sekolah dasar dan menengah di banyak daerah dalam kondisi reot dan rapuh. Otoritas PKC egois dan boros. Mereka tidak pernah memedulikan kehidupan atau kematian rakyat. (minghui)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor