Keluarga

Jika Ingin Menghancurkan Anak Berilah Ponsel

Anak bermain gadget (Ivan Samkov @ Pexels)
Anak bermain gadget (Ivan Samkov @ Pexels)

Baru-baru ini terdapat suatu berita, seorang gadis berusia 10 tahun dari Yibin, Provinsi Sichuan, menulis sebuah esai. Dia mengatakan bahwa orang tuanya ada di sekitarnya, tetapi dia tidak bisa merasakan cinta orangtuanya. Kenapa? Karena ayah dan ibunya telah dikendalikan oleh ponsel. Mereka lebih memilih mengobrol secara online dengan teman jauh atau orang yang tidak dikenal, daripada meletakkan ponsel mereka untuk mau mengobrol dengan anak mereka secara langsung.

Ini adalah kasusnya, guru menyuruhnya menulis sebuah esai dengan judul “ceritakanlah isi hatimu”, maka dia pun tidak tahu bagaimana menulis pada awalnya. Seorang anak berusia 10 tahun barangkali baru kelas tiga atau empat di sekolah dasar. Belum bisa menulis esai, terpaksa meminta bantuan orangtua, dia juga tidak tahu cara mengakses informasi secara daring. Dia mencari bantuan ibunya dan sang ibu sedang asyik bermain dengan ponselnya dan tidak mendengarkan dengan seksama. Dia tidak menulis begitu rinci dalam esainya, kemungkinan menjawabnya dengan beberapa patah kata untuk menolak permintaan sang anak, jika tidak, anak perempuan itu juga tidak akan memprotes bahwa ponsel adalah “pembunuh keluarga”.

Dia juga menyebutkan dalam esainya, ibu dan ayah kecanduan ponsel, pada satu hari malah mengiriminya sebuah artikel yang menyatakan bahwa anak-anak yang tidak bermain ponsel bisa masuk ke universitas yang baik. Maksud dari orangtuanya adalah bahwa dia harus mengalihkan fokusnya dari ponsel ke pelajarannya.

Hal seperti ini mungkin juga terjadi pada banyak orang yakni, tidak menginginkan anak-anak melakukan sesuatu, tetapi diri sendiri melakukannya.
Seperti orang tua dari gadis ini, jelas-jelas mengetahui bahwa bermain dengan ponsel akan berdampak pada pelajaran anak dan membuyarkan fokusnya. Namun, di depan anak-anak, mereka malah lupa diri asyik bermain dengan ponsel dan sama sekali tidak memperhitungkan perasaan anak-anak mereka.

Beberapa pendidik menyebut fenomena itu sebagai “kekerasan dingin” yakni ketika mereka menemani anak-anak sambil bermain juga dengan ponsel. Anak-anak seperti itu dapat berubah menjadi terlalu sensitif, tidak sabaran, hiperaktif dan sering mengeluh.

Orang mengatakan bahwa orangtua adalah guru pencerahan pertama bagi anak-anak, karena pengajaran dan sentuhan dari orangtua memiliki dampak yang luar biasa pada anak-anak mereka. Hal-hal asing dan baru di dunia dan tehadap benda-benda yang baru disentuhnya, anak-anak laiknya selembar kertas putih, sang ayah untuk kali pertama mewarnainya dengan warna apa maka anak akan menganggap dirinya sebagai warna itu. Anda bermain ponsel di depan anak-anak dengan gembira, anak-anak akan ikut belajar dan perlahan-lahan mereka akan tertarik pada ponsel, bahkan menjadi kecanduan bermain ponsel.

Gadis cilik itu berkata, “Saya terkadang merasa kesepian.” Orangtuanya ada di sekitarnya setiap hari, tetapi dia malah merasa kesepian. Kesepiannya dikarenakan dia tidak dapat bertukar perasaan dengan orang tuanya walau dekat dan waktu orangtuanya dikendalikan oleh ponsel.

Ada sejumlah analis mengatakan bahwa ponsel pintar telah mengendalikan kehidupan orang-orang, karena mereka telah memberikan stimulasi tanpa akhir. Profesor MIT Sherry Turkle mengatakan, “Perangkat ini selalu menyala dan selalu berada di sisi Anda. Selalu menyenangkan. Selalu dapat memberikan rangsangan. Keberadaannya telah membuat kita memiliki semacam kondisi pikiran yang baru.” Dia mengatakan bahwa kesepian dan fungsi introspeksi telah melorot dan mendorong ketergantungan masyarakat pada ponsel pintar.

Seperti diketahui, saat ini di daratan Tiongkok, apakah itu komputer, ponsel dan lain- lain, selama Anda membukanya, Anda akan menemukan banyak konten porno dan kekerasan, hal- hal seperti itu sedang menyedot perhatian orang. Orang-orang larut dalam menikmati game online dan obrolan/chatting, serta mencari rangsangan dan kepuasan di dunia maya.

Setelah pulang kantor dan pulang dari sekolah, jika tidak duduk di depan komputer, maka orang-orang menunduk bermain dengan ponselnya. Beberapa orang menyebut berbaring sambil bermain ponsel sebagai “berbaring malas”. Sepanjang waktu selalu bermain ponsel, seperti orang yang kecanduan menghisap candu. Orang-orang secara bertahap mengabaikan kasih sayang dan persahabatan, serta hubungan antar orang-orang secara bertahap menjadi acuh tak acuh.

Masyarakat Amerika setelah jam kantor selama periode dari jam 6 sore sampai 9 malam akan menyisihkan waktu mereka khusus untuk keluarga atau bermain dengan anak-anak mereka, atau mengobrol dengan keluarga mereka. Jika ada sesuatu yang harus dikerjakan akan dikerjakan setelah jam 9 malam. Beberapa waktu lalu, ada kejadian seperti ini, seorang anak perempuan berusia 14 tahun dari Provinsi Shaanxi bermain ponsel pada larut malam dan ketangkap basah oleh adik lelakinya. Dia khawatir si adik laki-laki akan mengadu kepada orangtuanya, lalu lari mengambil pisau di dapur, dan melukai adiknya. Apakah ini tidak mengerikan? Mungkin kakaknya ini telah sering menonton konten Youtube yang bertemakan kekerasan.

Ini adalah contoh kasus yang sangat gamblang, maka itu ada sejumlah orang sejak lama menyerukan untuk tidak membiarkan gawai mengasingkan hubungan antar anggota keluarga. Ada juga yang berkomentar, “Jika Anda ingin menghancurkan seorang anak, maka beri dia sebuah ponsel. (epochtimes/hui)

Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor