Budaya

Phoenix Biru Membalas Budi

Phoenix biru (Kredit: id.shenyunperformingarts.org)
Phoenix biru (Kredit: id.shenyunperformingarts.org)

Kebudayaan tradisional Tiongkok adalah penuh dengan kisah-kisah yang menceritakan mengenai orang baik, yang mendapat balasan kebaikan dari langit berkat perbuatan baiknya.

Salah satu kisahnya adalah yang terjadi selama masa Dinasti Song (960–1279M) pada seorang pemuda bernama Bangyi. Suatu hari ketika dia sedang belajar di sebuah kuil, dia menyadari ada patung seekor burung phoenix biru yang sayapnya telah jatuh. Phoenix yang bertengger di bagian tubuh dari patung Buddha tersebut, telah rusak sangat parah selama bertahun-tahun akibat air yang menetes dari atap kuil yang bocor.

Bangyi menghela nafas dan berpikir, “Sangat memalukan!”

Bangyi berniat untuk memperbaiki patung phoenix itu, namun tidak mampu melakukannya sendiri, jadi dia memutuskan untuk meminta bantuan donasi kepada teman-teman sekelasnya serta beberapa orang kaya. Setelah mengumpulkan uang yang cukup, Bangyi memperbaiki kuil tersebut dan mengembalikan sayap burung phoenix itu ke tubuhnya.

Satu tahun berlalu, Bangyi pergi ke ibu kota untuk mengikuti ujian kerajaan. Tahun itu, para peserta diharuskan untuk menulis sebuah karangan dan bait-bait puisi. Pelajar yang bercita-cita tinggi itu segera bekerja, dan dalam waktu singkat, berhasil menyelesaikan bagian awal karangannya, pada bait pertama dia menulis:

“Kuil sinaber meramalkan nasib baik: seekor phoenix api bersinar terang menerangi tangga merah istana.”

丹穴呈祥,丹鳳覽輝丹陛,

dān xué chéng xiáng, dān fèng lǎn huī dān bì

Namun bagaimanapun dia berupaya keras, tidak ada satupun kata yang muncul untuk bait kedua puisinya. Berjam-jam telah berlalu, dan akhirnya hampir tiba waktunya untuk menyerahkan karyanya.

Tiba-tiba, seekor burung phoenix biru muncul di angkasa, memanggil Bangyi sebelum kemudian terbang pergi. Hal itu membuatnya terinspirasi, dan segera dia menulis bait selanjutnya:

“Istana pirus muncul pertanda keberuntungan: sayap phoenix biru menyapu langit biru.”

青宮啟瑞,青鸞翅接青霄,

qīng gōng qǐ ruì, qīng luán chì jiē qīng xiāo

Puas dengan karyanya, dia meletakkan kuas lalu menyerahkan kertasnya. Bait-bait itu dianggap sebagai mahakarya, dan tahun itu, Bangyi dinyatakan sebagai lulusan di urutan pertama.

Dalam budaya Tiongkok, seekor phoenix dianggap sebagai burung surgawi dengan kebijakan dan kebajikan yang besar. Sebagai balasan karena telah memperbaiki tubuhnya serta memperbaiki kuil, phoenix itu memberkati Bangyi dengan masa depan yang cerah.(id.shenyunperformingarts.org)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI