Pada suatu hari, di sebuah restoran saya bertemu Mary yang dahulu adalah pengasuh anak saya, dia bukan seorang pengasuh yang sembarangan. Saya menceritakan kejadian yang terjadi di perusahaan saya, Mary lalu mengambil sebuah serbet makan digulung-gulung kemudian dibuang ke lantai, dia memberi kode kepada saya untuk tidak berbicara, hanya memperhatikan.
Staf pertama yang melewati meja kami sama sekali tidak memperhatikan serbet yang di lantai. Staf kedua saya sangka dia juga akan sama dengan staf yang pertama untuk pura-pura tidak melihat serbet yang terjatuh di lantai, tetapi tidak, malahan dia menarik seorang pelayan yang mendorong kereta saji, menunjuk ke serbet menyuruh pelayan tersebut mengambil serbet tersebut, tetapi pelayan yang ditunjuk sama sekali tidak memperdulikannya. Staf yang ketiga lewat, membungkukkan badan mengambil serbet tersebut, kemudian memasukkannya kedalam keranjang cucian.
Mary menyuruh saya mengkomentari apa yang baru saya amati. Saya tidak dapat mengatakan hal-hal yang bagus, hanya mengatakan tidak akan ada orang yang suka bekerja sama dengan staf yang pertama dan kedua. Mary berkata, “Memang tidak ada orang yang ingin, tetapi kebanyakan orang tidak mempunyai pilihan.” Mary menjelaskan: staf yang pertama berprilaku seperti karyawan yang hanya ingin menyelesaikan tugasnya sendiri dengan baik, urusan yang lain dia tidak peduli; staf kedua berprilaku seperti seorang manager, menunjuk staf lain melaksanakan pekerjaannya; staf yang ketiga memungut serbet tersebut, prilakunya seperti seorang pemilik restoran yang ingin restorannya rapi untuk menyambut pelanggan, bukan semua orang bisa mempunyai bisnis sendiri, tetapi setiap orang dapat bisa berpura-pura berprilaku seperti pemilik usaha tersebut.
Mentalitas lebih penting daripada hal-hal yang lain, setiap orang melihat serbet makan yang terjatuh di lantai, yang tak terlihat adalah bagimana sikap semua orang tersebut terhadap serbet makan ini. Dengan cermat memperhatikannya kita akan tahu sifat orang tersebut.
Saya juga teringat sebuah kisah yang saya baca di masa kanak-kanak, tentang pemilik toko permen yang mewawancarai beberapa anak remaja yang melamar menjadi kasir di tokonya. Sebelum dipanggil masuk ke ruangan wawancara, satu per satu anak itu disuruh masuk ke sebuah ruang tunggu yang di lantainya tergeletak selembar uang dua puluh ribu. Semua anak melihat dan mengambil uang tersebut. Namun, hanya satu anak yang berkata kepada pemilik toko permen ketika giliran sesi wawancaranya tiba, bahwa ia menemukan uang terjatuh di lantai ruang tunggu, apakah uang itu terjatuh dari saku pemilik toko? Dan, anak inilah yang diterima kerja karena kejujurannya. (minghuischool)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
