Budaya

Tips dari Konfusius untuk Keharmonisan Keluarga

Terhadap satu masalah yang sama, Konfusius memberikan nasihat yang berbeda kepada murid-muridnya, terkadang bahkan bertolak belakang, dikarenakan masing-masing murid memiliki kepribadian yang berbeda, ada yang pekerja keras, ada yang malas, ada yang terburu-buru, ada juga yang selalu ragu-ragu. Latar belakang keluarga mereka juga bermacam-macam.

Konfusius hidup di periode musim semi dan musim gugur (春秋), yaitu sekitar 2.500 tahun yang lalu. Di masa itu, orang-orang mengalami problematika kehidupan yang tak jauh berbeda dengan zaman sekarang. Mereka juga mungkin menghadapi masalah suami-istri atau orang tua dan anak yang mirip dengan dilema kita.

Apa yang Membuat Hubungan Orangtua-Anak menjadi Baik

Berbakti tentunya merupakan fondasi hubungan orang tua dan anak. Namun, banyak orang menghubungkannya dengan kepatuhan tanpa syarat kepada orang tua dan menyatakan itu sebagai Konfusianisme tetapi sebenarnya tidak.

Hubungan orang tua-anak yang baik bergantung pada orang tua dan anak. “Ayah menyayangi anak-anaknya dan anak berbakti pada orangtuanya.”

Dalam pandangan Konfusius, baik orang tua maupun anak memikul tanggung jawab penting dalam kehidupan keluarga.

Murid Konfusius bertanya kepadanya perihal kewajiban berbakti.

Ziyou pernah bertanya kepada Konfusius tentang berbakti. Konfusius menjawab: “Saat ini orang menganggap berbakti adalah memberi makan orang tua mereka. Tetapi mereka juga memberi makan anjing atau kuda mereka. Tanpa rasa hormat, apa perbedaan antara memberi makan orang tua dan memberi makan hewan? “

Apa yang dikatakan Konfusius terdengar sangat mirip dengan apa yang kita alami sekarang. Banyak dari kita memberikan sejumlah uang tertentu kepada orang tua kita setiap bulan, tetapi apakah kita sudah cukup berbakti dengan hanya melakukan itu?

Namun Konfusius memberikan jawaban berbeda kepada muridnya yang lain, Zixia atas pertanyaan yang sama.

Konfusius memberi tahu Zixia: “Yang sulit adalah memiliki sikap yang lemah lembut. Jika seseorang membantu orang tua melakukan sesuatu ketika dibutuhkan dan memberi orang tua makanan yang enak untuk dimakan, [tetapi dengan sikap yang buruk], dapatkah itu dianggap berbakti? ”

Lalu apakah berbakti sama dengan selalu mengikuti perintah orang tua kita demi membuat mereka bahagia?

Zengcan biasa berkonsultasi dengan Konfusius mengenai pertanyaan yang sama dan Konfusius bertanya kepadanya sebagai balasan, “Perkataan macam apa itu?”

Konfusius terus menjelaskan, “Jika seorang ayah memiliki seorang putra yang berani menunjukkan dan memberitahukan kesalahannya, maka sang ayah tidak akan menjadi orang yang tidak baik.”

Orangtua Harus Mengajar Anak-Anak untuk Membedakan Antara Benar dan Salah

Orang tua di Asia cenderung bersifat stereotip, mereka terbiasa mendidik anak secara otoriter sedangkan pendekatan barat sering dipuji karena memberi anak-anak lebih banyak kebebasan.

Ada juga pandangan bahwa orang tua harus membiarkan anak-anak mengeksplorasi dan memperoleh pemahaman mereka sendiri tentang moralitas.

Meskipun kedengarannya bagus untuk memberi anak-anak kebebasan mengeksplorasi, tapi juga merupakan tanggung jawab orang tua untuk mengajar anak-anak untuk membedakan yang benar dan yang salah.

Ketika seorang anak berperilaku tidak sepantasnya, orang cenderung menyalahkan orang tuanya yang tidak mendidik anak dengan baik.

‘Tiga Aksara Klasik’ (三字经), yang ditulis oleh sarjana Konfusianisme Wang Yinglin (王 应 麟) pada masa dinasti Song, memberikan kepada kita beberapa pandangan menarik tentang pendidikan anak. Buku ini dimaksudkan untuk mengajar anak-anak kecil dan digunakan sebagai pendidikan formal pertama bagi anak di rumah hingga akhir tahun 1800-an.

Di bagian awal buku ‘Three Character Classic (Tiga Aksara Klasik)’, penulis menuliskan alasan mengapa pendidikan anak penting (diterjemahkan oleh Herbert Allen Giles pada tahun 1900):

“Sewaktu lahir manusia pada dasarnya baik. Pada awalnya sifat dasar mereka sama; lama-kelamaan kebiasaan membuat mereka menjadi sangat berbeda. Jika dilalaikan dan tidak diberi pengajaran, sifat dasar mereka akan merosot.”

Buku itu juga terkenal dengan pernyataan : “Membesarkan tanpa pendidikan adalah kesalahan ayah”

Di bagian akhir, penulis menyatakan tujuan akhir pendidikan anak: “Belajar saat masih muda dan ketika dewasa menerapkan yang dipelajari; mempengaruhi penguasa di atas; menguntungkan masyarakat di bawah (幼 而 學 , 壯 而 行 ; 上 致 君 , 下 澤民).”

Seluruh isi buku penuh dengan argumen damai seperti itu, seolah-olah seorang kakek dengan lembut memberi semangat dan menginspirasi cucunya sendiri.

Jadi apa yang menyebabkan citra “otoriter” orang tua Asia? Mungkin cara penyampaian nilai-nilai ini. Coba renungkan, saat anak melakukan kesalahan, apakah anda memilih meluangkan waktu dan upaya berbicara dengannya atau akankah anda kehilangan kesabaran di tengah jalan dan memaksanya untuk menerima pandangan anda?

Meiling Chan, mantan penyanyi pop Hong Kong, membagikan pendekatannya dalam mendidik anak-anaknya pada sebuah wawancara dan videonya menjadi viral di internet.

Chan adalah lulusan Universitas Stanford dengan gelar PhD, ketiga putranya juga diterima di Stanford.

Chan berbicara tentang bagaimana ia mendidik anak-anaknya setelah mereka melakukan kesalahan. Chan percaya bahwa “cara terbaik untuk mendidik mereka adalah dengan memberikan penjelasan kepada mereka apa kesalahan mereka”.

Saya pernah berbicara dengan putra sulung saya selama delapan jam,” kata Chan.

“Mereka (putra-putra saya) berpikir itu adalah masa-masa yang terberat. Mereka berkata ‘akan lebih mudah jika ibu cukup memukul saya. Setidaknya saya bisa melarikan diri dengan cepat.”

Keluarga yang Harmonis Dimulai Dari Hubungan Suami Istri yang Baik

Keharmonisan hubungan suami dan istri dianggap sebagai dasar tatanan sosial yang harmonis. Dalam komentarnya terhadap ‘Book of Changes’ (易经), Konfusius mencatat pentingnya hubungan suami dan istri:

“Hanya dengan keberadaan pria dan wanita, bisa ada suami dan istri. Selanjutnya akan ada hubungan orangtua-anak. Setelah itu hubungan antara raja dan rakyatnya dapat terjalin dengan benar. Untuk selanjutnya hubungan antara atasan dan bawahan. Hanya dengan demikian etika (etiket) dapat diikuti oleh orang-orang di berbagai posisi. Karena itulah keharmonisan suami dan istri harus dijaga agar langgeng.”

Secara tradisional, wanita umumnya bukan pencari nafkah keluarga, tetapi mereka memainkan peran yang sama pentingnya dalam mendukung suami dengan mengelola keluarga dan mendidik anak-anak.

Namun, di zaman modern, banyak yang mengkritik pandangan tradisional karena dianggap membatasi wanita mengejar kehidupan yang lebih bermakna serta memasuki persaingan dalam dunia kerja seperti halnya pria.

Dong Zhongshu (董仲舒), seorang sarjana Dinasti Han, mengusulkan: “Suami harus memberi contoh bagi istri. Jika suami tidak berlaku benar, istri bisa menikah lagi. Sementara itu, istri harus memberikan dukungan kepada suaminya. Jika istri tidak berbudi luhur, suami dapat menceraikannya.

Bahkan, ajaran Konfusianisme menganggap suami dan istri sama pentingnya dan keduanya harus memainkan peran mereka dalam membangun pernikahan yang sukses.

Mungkin tampak mengejutkan bahwa Dong Zhongshu menyebut perceraian. Apakah orang-orang di masa lalu mudah bercerai?

Hanya dalam beberapa kondisi “perceraian” boleh diterapkan. Kondisi tersebut termasuk bila suami kedapatan berzinah atau melakukan kriminalitas. Alasan bahwa kedua belah pihak tidak lagi memiliki perasaan satu sama lain tidak berlaku.

Di zaman Dinasti Tang, ketentuan-ketentuan ini ditulis ke dalam undang-undang untuk melindungi perempuan menjadi korban perceraian yang semena-mena.

Selain itu, dianggap tidak etis bagi seorang pria untuk meninggalkan istrinya jika istrinya tidak memiliki anggota keluarga lain atau dia telah menjalani masa berkabung tiga tahun untuk mertuanya atau jika istrinya telah menemaninya ketika dia miskin, bahkan juga jika kemudian pria itu menjadi kaya.

Pada titik ini, tidak akan sulit untuk menghargai visi Konfusius — ia memiliki rancangan besar mengelola bangsa melalui mendidik setiap individu untuk menegakkan nilai-nilai dan kebajikan. (epochtimes/cindyliew/the/may)

slot gacor

situs slot gacor