Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah dibuat bingung dan berdebat tentang apa yang menyebabkan senjata-senjata perunggu prajurit Terracotta Tiongkok yang terkenal bisa awet dan dilestarikan demikian lama, lebih dari dua milenia.
Penelitian oleh tim ilmuwan internasional yang diterbitkan pada hari Kamis (4 April), telah memecahkan misteri ini. Ternyata senjata-senjata perunggu yang berkilauan, dengan permukaannya yang murni dan tetap tajam itu bukan disebabkan oleh kromium seperti teori sebelumnya, melainkan oleh faktor gabungan antara kandungan timah tinggi dari perunggu, dan komposisi tanah yang menguntungkan. Teori ini diterbitkan setelah para ilmuwan meneliti 464 senjata perunggu dan komponennya.
Tentara Terracotta terdiri dari ribuan prajurit keramik dan kuda-kuda mereka seukuran aslinya, bersama kereta dan senjata perunggu. Mereka ditemukan tahun 1974 sebagai bagian dari makam besar Qin Shi Huang, kaisar pertama dari Tiongkok yang bersatu, di dekat kota Xi’an. Kini situs tersebut merupakan salah satu dari penemuan arkeologi paling besar di abad ke-20.
Analisis ilmiah hampir empat dekade lalu telah mendeteksi kromium di permukaan beberapa senjata perunggu, memicu hipotesis bahwa pembuat senjata menggunakan perawatan berbasis kromium untuk mencegah karat dan korosi.
Pelapisan kromium oksida, merupakan teknologi yang ditemukan di awal abad ke-20, digunakan untuk merawat logam agar lebih tahan terhadap korosi. Caranya, logam harus dicelupkan di cairan yang mengandung garam kromium. Kemudian, lapisan kromium oksida akan muncul di permukaan logam, memberikan lapisan perlindungan terhadap karat.
“Intinya, kami menunjukkan bahwa, betul bahwa senjata-senjata Prajurit Terracotta pada umumnya menunjukkan keadaan yang sangat baik, tetapi saat ini tidak ada indikasi bahwa ini adalah berkat hal lain selain kebetulan,” kata Marcos Martinón-Torres, seorang peneliti arkeolog Universitas Cambridge, yang memimpin studi yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports ini.
Perunggu kuno yang tidak dilestarikan dapat memiliki permukaan dengan lubang berpori, dan warnanya berubah menjadi hijau atau gelap. (reuters/lia)
