Tatkala Cao Cao berusia 38 tahun, ia menyerbu Bu Yang (kini wilayah selatan propinsi Hebei) yang dikuasai Lu Bu, dua kali menyerbu tetap tak bisa merebutnya. Saat itu, dari dalam kota Bu Yang terdapat seorang kaya bermarga Tian mengutus kurir mengantarkan surat, ia menyatakan siap menjadi partner dari dalam dan bersekongkol dengan pasukan Cao.
Meskipun terdapat kemungkinan dijebak, tetapi Cao Cao tetap saja menempuh marabahaya melakukan penyerbuan.
Akan tetapi, entah karena Lu Bu sudah memasang pendeteksi dini, atau Tian telah mengkhianatinya, pasukan Cao Cao masih saja kalah, sewaktu pasukannya mundur Cao Cao juga telah kehilangan kekuatan pasukan utamanya dan terlepas kontak dengan pasukannya.
Tiba-tiba, di depan Cao Cao muncul beberapa pasukan kavaleri, karena sendirian tentu bukan lawan tanding bagi musuh, jika melawan pasti mati. Pasukan musuh datang melesat dan menangkap Cao Cao, dan menanyainya dengan keras, “Cao Cao dimana?”
Dari bentakan pasukan musuh itu, hati Cao Cao yang semula takut dan gugup kini malah menjadi tenang. Cao Cao berpikir dalam hati, “Ternyata pasukan ini sama sekali tidak mengenaliku.”
Di dalam situasi gawat timbul kecerdikan, telunjuknya sekenanya menuding ke arah suara tapak kaki kuda yang berlari cepat di kejauhan: “Itu, dia melarikan diri.”
Pasukan berkuda itu segera melepas Cao Cao untuk mengejar kuda tersebut. Maka Cao Cao bergegas menuju keluar kota, berhasil menerobos kepungan api dan lolos dari pintu timur, ia berhasil kembali dengan selamat ke markasnya.
Tidak gugup sewaktu menghadapi marabahaya, barulah berhasil memunculkan kecerdikan, terlontarlah siasat jitu. (Minghui School/whs)
