Ibu saya punya sebuah meja tulis tua yang lacinya selalu terkunci. Tidak satu pun dari kami, enam anaknya yang tahu apa yang ada di dalam laci. Dua bulan setelah ibu meninggal, saudara perempuan saya membuka laci tersebut. Tidak ada sesuatu yang berharga di dalam kecuali sebuah buklet kecil dengan catatan lengkap hari ulang tahun kami, bahkan sampai detail jam dan menitnya.
Ibu selalu mengatakan pada kami bahwa kekayaan terbesar dalam hidup adalah anak-anaknya. Ia mengabdikan sebagian besar hidupnya mengajar kami berbagi, bertanggung jawab, dan selalu optimis. Ketika kami masih kecil, ibu sesekali membelikan anak-anaknya es loli dan berkata, “Berikan sedikit pada Ibu.”
Saya berharap ibu hanya akan makan sedikit, atau tidak sama sekali. Namun, ibu selalu mengambil porsi yang besar. Saya terbiasa dengannya seiring waktu, dan setiap kali saya memiliki sesuatu yang enak untuk dimakan, saya selalu membiarkan ibu mencicipinya.

Jika ibu tidak di rumah dan saya punya makanan, saya akan bertanya kepada saudara, “Di mana ibu?”, Seolah-olah ada sesuatu yang kurang jika saya tidak membaginya dengannya.
Ketika ibu sakit dan dirawat di rumah sakit, ibu minta jus kacang dan buah kesemek. Saya membawakannya jus kacang, tetapi tidak dengan buah kesemek , karena sedang tidak musim.
Kemudian pada hari itu, saya harus mengirimkan paket ke rumah walikota. Setelah saya mengirimkan paket dan akan pergi, istrinya pulang dari pasar dengan sekeranjang buah kesemek segar. Saya sangat senang ketika ia menawarkan enam buah kesemek kepada saya. Sayapun langsung berlari ke rumah sakit dengan buah kesemek yang segar. Ibu saya makan dua buah kesemek dan mengatakan kepada saya bahwa buahnya “terasa sangat enak!” Sayangnya, ia meninggal tiga hari kemudian.
Selain kami berenam, ibu juga membesarkan tiga cucu, dan kami semua tahu cara berbagi. Berbagi adalah tradisi keluarga. Saya berbagi dengan putra saya ketika dia masih bayi, dan sekarang dia selalu memikirkan saya setiap kali dia makan sesuatu yang istimewa.
Suatu saat, kelas bermain putra saya mengadakan pesta, guru memberi cokelat dua potong kepada masing-masing murid. Setelah putra saya menerima cokelat, ia segera pergi menghampiri saya dan berkata: “satu potong cokelat ini untuk ibu.” Saya membuka mulut dan ia menyuapi saya! Saya mengatakan pada putra saya bahwa rasanya enak sekali, ia berlari kembali ke kursinya dengan senyum lebar di wajahnya.
Orang tua murid yang duduk di sebelah saya berkata:
Putramu sangat peduli! Lihatlah anak saya. Dia memakan dua potong cokelatnya tanpa melirik ke arah saya.
Saya tersenyum dan berkata:
Berbagi adalah kebiasaan yang bisa dipupuk ketika seseorang masih sangat muda.

Ketika putra saya berusia 11 tahun, ia menelepon saya di kantor dan berkata, “Bisakah ibu pulang lebih awal hari ini? Di rumah ada makanan enak. ”Saya menjawab ya, tetapi akhirnya bekerja lembur. Ketika saya sampai di rumah, sudah jam 9 malam dan putra saya sudah tidur di tempat tidur. Ketika saya berjalan ke dapur, ibu saya berkata:
Kamu membesarkan putramu dengan baik. Ia dan ayahmu membuat udang goreng mentimun. Ia memakan potongan-potongan kecil dan menyimpan semua yang besar untukmu!
Pada malam itu saya makan udang paling enak di dunia.
Kini putra saya sudah dewasa dan juga punya seorang putra. Kapan pun saya berkata: “Berikan itu kepada nenek!”, Cucu kecil saya segera memberikan apa pun yang ia miliki di tangan kepada saya.
Ibu meninggalkan dunia ini dikelilingi oleh keluarganya. Dan meskipun ia tidak meninggalkan satu sen pun kepada kami, ia meninggalkan kami sesuatu yang jauh lebih berharga. Ia mengajari kami bagaimana berperilaku dengan benar, bertahan hidup, dan bersyukur bahwa kebahagiaan datang dari berbagi. (visiontimes/vic/may)
