Di tengah aksi militer AS di Iran, situasi geopolitik di Pasifik Barat juga ikut berubah. China telah melakukan aktivitas militer rutin di sekitar Taiwan namun aktivitas sempat terhenti selama dua minggu, memicu spekulasi di Taipei. Pada hari Minggu, Taiwan kembali melaporkan adanya aktivitas angkatan udara China dalam skala besar di wilayahnya.
Pada hari Sabtu, Taiwan mendeteksi 26 pesawat dan 7 kapal militer China di sekitar wilayah mereka, dengan 11 pesawat melintasi garis median Selat Taiwan. Padahal sejak 27 Februari, aktivitas militer China sempat menurun drastis dan hanya terjadi sesekali dalam skala kecil. Pihak Beijing tidak memberikan penjelasan terkait penurunan aktivitas ini sehingga memicu berbagai spekulasi di Taipei tentang maksud dan tujuan Beijing.
[Hu Zhendong, Mantan Pejabat Departemen Pertahanan AS]:
“Saat saya masih di militer, sebelum latihan besar atau pengerahan pasukan, kami biasa menghentikan kegiatan sementara untuk fokus memperbaiki semua persenjataan dan alutsista. Hanya pesawat yang baru selesai diperbaiki yang boleh uji terbang. Sisanya tidak boleh karena kami sedang bersiap untuk latihan tempur atau persiapan perang.”
[Tzu Yunsu, Direktur Divisi Strategi Pertahanan dan Sumber Daya, INDSR Taiwan]:
“Pengurangan aktivitas militer China ini sifatnya politis karena berkenaan dengan pertemuan penting pemerintah China dan evaluasi anggaran pertahanan Taiwan. China menangguhkan semua aktivitas guna memberi kesan seolah Taiwan tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pertahanan.
Sejumlah ahli menilai berkurangnya aktivitas militer ini bisa jadi taktik Beijing untuk menyusun ulang siasat terhadap Taiwan jelang rencana kunjungan Presiden Trump pada 31 Maret atau karena akibat pembersihan personil oleh Xi Jinping.
