Jepang mengubah pendekatannya terhadap China. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, Beijing tidak lagi dipandang sebagai salah satu mitra bilateral utama Tokyo. Dalam draf buku biru diplomatik Jepang 2026, status hubungannya dengan China diturunkan ke hanya ‘tetangga penting’. Di saat yang sama, laporan menyatakan Jepang tetap terbuka untuk dialog dengan Beijing. Ini menggemakan pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi saat pertemuannya dengan Trump pekan lalu.
[Sanae Takaichi, PM Jepang]:
“Pertama-tama, Jepang telah secara konsisten terbuka untuk dialog dengan China. Kedua, kami telah menangani hubungan China dengan tenang, serta berbicara tentang hubungan AS-China. Harapan tulus saya hubungan itu akan jadi sesuatu yang kondusif bagi keamanan regional dan memastikan rantai pasokan global dunia. Sekali lagi saya ingin menegaskan Jepang telah secara konsisten terbuka untuk berdialog dengan China.”
Selain komentar perdana menteri, menlu Jepang menyampaikan kekhawatiran, memperingatkan wakil presiden AS JD Vance bahwa upaya China untuk mengubah status quo di Selat Taiwan, Laut China Timur dan Laut China Selatan dapat memengaruhi AS.
Selama empat bulan terakhir, China telah berulang kali menekan Jepang secara diplomatik, militer, dan ekonomi. Pada Februari, China memberlakukan kontrol ekspor pada perusahaan-perusahaan Jepang yang menargetkan barang-barang penggunaan ganda, termasuk logam tanah jarang.
Pada bulan Januari, China mengerahkan ribuan kapal penangkap ikan untuk membentuk penghalang terapung di Laut China Timur. Desember lalu, pesawat militer China mengunci jet Jepang di radar dekat Okinawa, salah satu manuver militer yang paling mengancam.
Awal November lalu, seorang diplomat China secara terbuka mengancam perdana menteri Jepang di media sosial, atas komentar Takaichi bahwa Jepang dapat terlibat secara militer jika China menyerang Taiwan.
Serangkaian tindakan permusuhan ini telah mendorong hubungan China-Jepang ke titik terendah sepanjang masa.
Buku Biru yang diperbarui menggambarkan masa depan hubungan sebagai saling menguntungkan, menandakan niat Jepang untuk mengurangi ketergantungannya pada China. Jubir kemenlu China sangat menentang laporan tersebut, menyalahkan Jepang sepenuhnya atas memburuknya hubungan bilateral.
Buku Biru Diplomatik Jepang 2026 telah diserahkan untuk peninjauan internal oleh Partai Demokrat Liberal yang berkuasa pada hari Selasa. Laporan diperkirakan akan dirilis resmi pada bulan April setelah disetujui kabinet.
