Tiga insiden kekerasan telah terjadi di AS dan Inggris dalam sebulan terakhir, dengan korban terbaru berusia lebih dari 70 tahun. Para korban semuanya memiliki kesamaan, yaitu adalah praktisi Falun Gong. Mereka mengalami serangan brutal saat sedang meningkatkan kesadaran tentang penganiayaan Beijing terhadap keyakinan mereka.
Di jalanan Kota New York, di siang bolong, kejahatan tampaknya terulang dengan pola yang serupa. Dalam kedua kasus tersebut, para penyerang yang diyakini sebagai pria Asia menjatuhkan korban ke tanah dan kemudian berulang kali memukul kepala mereka.
Korban terbaru, Lu An-Min, berusia 73 tahun. Rabu lalu, saat ia berjalan pulang setelah menyelesaikan pekerjaan sukarelawannya, hal ini terjadi.
[Lu An-Min, Korban Penganiayaan]:
“Saya sedang berjalan ke persimpangan Stanford dan Parsons dan seseorang datang dari seberang jalan. Tiba-tiba ia mendorong saya hingga jatuh ke tanah. Saya sama sekali tidak waspada dan jatuh ke rumput di bawah pohon besar di dekatnya. Kemudian dia berjongkok di depan saya, menahan kaki saya, dan terus memukul kepala saya berulang kali.”
Menurut penyelidikan awal, tersangka adalah seorang pria Asia berusia awal 20-an. Lu menderita luka di hidung dan kaki kanannya.
Korban lainnya adalah Lidia Dong, seorang wanita Tionghoa paruh baya yang menjadi sukarelawan di stan yang sama dengan Lu.
Dia bekerja dengan organisasi nirlaba bernama Tuidang (Mundur dari Partai), yang mempromosikan pengunduran diri dari Partai Komunis China dan organisasi afiliasinya. Dong diserang beberapa minggu yang lalu saat dia membagikan selebaran di stan tersebut. Penyerangnya tampak seperti seorang pria Tionghoa paruh baya. Dalam insiden terpisah, seorang praktisi Falun Gong yang merupakan warga negara Belanda juga diserang secara brutal saat melakukan pekerjaan sukarelawan serupa di London.
Pria yang menyerangnya bekerja untuk sebuah agen wisata yang dilaporkan memiliki hubungan bisnis yang luas dengan pejabat China.
Falun Gong adalah disiplin spiritual yang berakar pada tradisi Budhisme. Ajaran ini berasal dari China dan dengan cepat menyebar luas pada tahun 90-an. Setelah popularitasnya meningkat, rezim komunis China melarang praktik tersebut di seluruh negeri, memulai penganiayaan terhadap para pengikutnya selama beberapa dekade yang berlanjut hingga hari ini.
Ketua organisasi Tuidang percaya bahwa serangan-serangan ini tidak hanya mengancam kelompok keagamaan, tetapi juga menantang hukum dan ketertiban di Barat.
