Amerika Serikat dan China bersaing lebih sengit untuk mendapatkan pengaruh di Asia. AS dan Indonesia baru saja mengumumkan kemitraan kerja sama pertahanan utama minggu ini. Kemitraan bertujuan memperkuat kehadiran AS di Laut Cina Selatan. China mengklaim sebagian besar Laut Cina Selatan sebagai miliknya dan bersengketa dengan hampir semua negara tetangga. Dalam beberapa tahun terakhir, negara komunis itu telah meningkatkan aktivitas militernya di kawasan tersebut. Untuk membahas kesepakatan baru antara AS-Indonesia, Cary Dunst dari NTD berbicara dengan Rick Fischer, peneliti senior di International Assessment dan Strategy Center.
[Cary Dunst, Reporter NTD]:
Saya ingin mendapatkan pandangan Anda tentang kerja sama AS dan Indonesia di Selat Malaka.
[Rick Fischer, Peneliti Senior International Assessment and Strategy Center]:
Ini sangat signifikan bukan hanya untuk hubungan AS-Indonesia tetapi juga untuk keamanan kawasan dan keamanan lalu lintas perdagangan minyak bumi global. Ini bukan perjanjian pangkalan, AS tidak akan mendirikan pangkalan. Namun Indonesia adalah lingkungan kerjasama pertahanan yang sangat kompetitif, banyak negara bersaing mendapatkan perhatian dan akses Indonesia. Perjanjian AS ini adalah langkah maju yang besar. Kami akan menawarkan pada Indonesia sistem militer otonom Amerika yang sangat inovatif dan baru. Akan ada perluasan dalam pelatihan.
[Cary Dunst, Reporter NTD]:
Rick, bisa Anda jelaskan pentingnya lokasi strategis Selat Malaka?
[Rick Fischer, Peneliti Senior International Assessment and Strategy Center]:
“Sangat penting. Semua lalu lintas minyak dan perdagangan Asia dan Timur Tengah melewati selat itu. Kendali atas selat secara harafiah memungkinkan kendali atas separuh ekonomi dunia. Menjaganya tetap terbuka bukan hanya untuk kepentingan AS, tetapi juga kepentingan dunia bebas.
[Cary Dunst, Reporter NTD]:
Bagaimana kemitraan baru dengan Indonesia ini, berhubungan dengan perang Iran di mana China mendapatkan minyak dengan harga diskon besar, lalu minyak Venezuela tidak lagi tersedia bagi mereka dengan harga pasar, bagaimana ini membantu presiden Trump adalam negosiasinya dengan Xi Jinping?
[Rick Fischer, Peneliti Senior International Assessment and Strategy Center]:
“Ini akan sangat membantu Presiden Trump. China sekarang menghadapi lingkungan strategis yang sangat bermasalah. Setahun dua tahun yang lalu, China dianggap tak terhentikan dalam perjalanannya untuk menjadi hegemoni global pada 2040-an. Sekarang Presiden Trump telah menghambat ambisi China di seluruh dunia. Menyingkirkan proksi China di Venezuela, dan sekarang Iran, serta memajukan posisi strategis AS di Asia Tenggara. Perjanjian Indonesia melengkapi aliansi kerjasama yang berkembang pesat dengan Filipina, serta hubungan pertahanan jangka panjang dengan Taiwan dan Jepang. Semuanya membuat China terdesak.”
