Lahir dalam kemiskinan di sebuah peternakan di Missouri, ia adalah penulis buku How to Win Friends and Influence People, sebuah buku terlaris pada masanya.
Lebih dari 80 tahun setelah diterbitkan, How to Win Friends and Influence People tetap menjadi salah satu buku pengembangan diri paling berpengaruh yang pernah ditulis. Namun, sosok di balik buku tersebut, Dale Carnegie, berasal dari latar belakang yang jauh dari kekayaan, kekuasaan, atau hak istimewa. Dibandingkan dengan kisah “Raja Baja” Andrew Carnegie—yang kebetulan memiliki nama yang sama dengannya—latar belakang kehidupan Dale Carnegie jauh lebih sederhana dan lebih mewakili kehidupan orang Amerika biasa.
Lahir pada tahun 1888 di sebuah peternakan dekat Maryville, Missouri, Dale Carnegie dibesarkan dalam keluarga petani pedesaan dan mengalami banyak kesulitan yang menjadi ciri kehidupan di wilayah Midwest Amerika pada awal abad ke-20. Meskipun memiliki salah satu nama keluarga paling terkenal dalam sejarah Amerika, ia tidak memiliki hubungan apa pun dengan kerajaan industri yang dibangun oleh Andrew Carnegie. Ia juga lebih muda lebih dari setengah abad, tumbuh dewasa di Amerika yang berubah dengan cepat, di mana kesuksesan lebih bergantung pada komunikasi, persuasi, dan hubungan antarmanusia daripada pada pabrik baja dan rel kereta api.
Anak petani dari Missouri
Ayah Dale Carnegie adalah seorang petani yang rajin dan jujur, dan keluarganya menjalani kehidupan sederhana yang diwarnai kesulitan keuangan. Tumbuh di tengah kemiskinan dan ketidakpastian, Dale Carnegie sering kali dilanda perasaan tidak mampu dan keraguan diri. Saat masih muda, ia sangat minder dengan penampilannya, cemas saat harus berbicara di depan umum, dan khawatir tentang bagaimana orang lain memandangnya dalam pergaulan sosial.
Namun, justru rasa tidak percaya diri itulah yang menjadi landasan bagi kariernya di masa depan. Setelah mendaftar di State Normal School di Missouri, Dale Carnegie menemukan minatnya pada seni berbicara di depan umum dan debat kompetitif. Bertekad untuk mengatasi rasa takutnya, ia mengabdikan diri pada latihan yang tiada henti, hingga perlahan-lahan mengembangkan keterampilan komunikasi yang luar biasa serta pemahaman yang mendalam tentang cara menjalin hubungan dengan orang lain.
Setelah lulus, ia mencoba berbagai macam pekerjaan: menjadi tenaga penjualan kursus korespondensi, aktor, dan beberapa peran lainnya, namun ia tetap tak mampu menemukan panggilan sejatinya. Baru pada tahun 1912, ketika ia mulai mengajar kursus pidato untuk orang dewasa di YMCA di Kota New York, barulah ia akhirnya menemukan tujuan hidupnya.
Kursus tersebut dimulai tanpa banyak sorotan, namun hasilnya terbukti sangat efektif. Bahkan, kursus tersebut begitu efektif sehingga para pengusaha biasa, pegawai kantor, dan mandor pabrik mampu naik ke atas panggung dan berbicara dengan percaya diri hanya dalam waktu beberapa minggu setelah mengikuti pelatihan. Akibatnya, banyak dari murid-muridnya yang mendapatkan promosi dan kenaikan gaji, memperbaiki hubungan keluarga mereka, serta memperoleh rasa percaya diri yang baru.
Kursus tersebut menyebar dari mulut ke mulut dan dengan cepat meluas ke kota-kota lain. Dale Carnegie menyadari bahwa ia telah menyinggung kebutuhan sosial yang sangat besar. Di era industrialisasi dan urbanisasi yang pesat, banyak orang terpaksa hidup di lingkungan sosial yang asing bagi mereka. Namun, tak ada yang pernah mengajarkan kepada mereka cara bergaul dengan orang lain, cara berbicara dengan baik, atau cara bersikap ramah dan disukai.
Sebuah buku yang mengubah cara orang-orang modern memahami dunia
Pada tahun 1936, Dale Carnegie menerbitkan karyanya yang revolusioner: *How to Win Friends and Influence People*. Penerbitan buku ini benar-benar merupakan sebuah keajaiban di dunia penerbitan. Cetakan perdana sebanyak 5.000 eksemplar terbukti tidak cukup untuk memenuhi permintaan; penjualannya melampaui 250.000 eksemplar dalam tahun pertamanya; dan selama beberapa dekade berikutnya, total penjualan globalnya melebihi 30 juta eksemplar. Diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa, buku ini telah lama menempati posisi terkemuka dalam berbagai daftar “buku paling berpengaruh di abad ke-20.”
Prinsip-prinsip inti yang diuraikan dalam buku tersebut—memberikan pujian yang tulus kepada orang lain, mengingat nama orang, menjadi pendengar yang baik, menahan diri dari kritik, menyalahkan, atau mengeluh, serta mempraktikkan empati—kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari norma-norma sosial masyarakat modern.
Gaya penulisan Dale Carnegie tidak terlalu elegan, dan argumen-argumennya pun tidak dapat digolongkan sebagai analisis akademis yang ketat. Kekuatannya terletak pada banyaknya contoh nyata, anekdot tentang tokoh-tokoh terkenal, serta daya tarik emosionalnya. Dengan mengutip kisah-kisah yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Abraham Lincoln dan Theodore Roosevelt, ia mengubah prinsip-prinsip abstrak dalam interaksi manusia menjadi langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan. Di masa ketika Amerika Serikat terpuruk dalam Depresi Besar, buku ini membangkitkan kembali rasa harapan dan kerinduan akan kehidupan yang lebih baik di hati banyak orang Amerika biasa.
Program Pelatihan Dale Carnegie terus berkembang setelah kematiannya. Saat ini, program tersebut beroperasi di lebih dari 80 negara di seluruh dunia dan menarik jutaan profesional bisnis serta karyawan setiap tahunnya, yang menjadi bukti pengaruhnya yang tak lekang oleh waktu.
Dale Carnegie melambangkan Impian Amerika pada abad ke-20: Dalam masyarakat perkotaan di mana fondasi material telah terbentuk, dan dinamika sosial semakin kompleks, hal ini berkaitan dengan bagaimana seseorang dapat mewujudkan makna hidupnya melalui keterampilan lunak seperti komunikasi, membangun hubungan, dan empati.
