Dari pria terkaya di China hingga hidup di balik jeruji besi, pengadilan China menjatuhkan hukuman seumur hidup pada pendiri Evergrande, Hui Ka Yan, atas penipuan skala besar. Hui Ka Yan lahir dari keluarga miskin, namun kemudian menjadi pria terkaya di Asia berkat koneksinya dengan para pejabat tinggi PKC. Kenaikan dan kejatuhannya mencerminkan perkembangan industri properti China.
Pengadilan menemukan Hui membuat kondisi keuangan Evergrande tampak lebih baik dari kenyataannya. Ia menggembungkan aset perusahaan dan menyembunyikan utang sebelum perusahaan itu bangkrut akibat utang lebih dari $300 miliar.
Lebih dari 50 orang terkait Evergrande juga dijatuhi hukuman hingga 18 tahun penjara. Evergrande dan anak perusahaannya dikenai denda dengan total gabungan lebih dari $2 miliar. Gagal bayar utang Evergrande pada 2021 memicu krisis perumahan di China. Lima tahun kemudian, krisis itu masih mengganggu perekonomian China.
Hui mendirikan Evergrande 30 tahun yang lalu, tepat saat China beralih dari sistem perumahan lama yang disediakan pemerintah ke pasar properti, dimana warga dapat membeli dan menjual rumah. Ini juga masa saat masyarakat China menyadari besarnya kekayaan terkait properti. Hui melihat peluang tersebut dan memanfaatkannya.
Pada 2020, Evergrande memiliki lebih dari 1,300 proyek di lebih dari 280 kota di China. Penjualan tahunannya telah mencapai sekitar $100 miliar.
Gelembung tersebut pecah pada 2020 ketika pemimpin Partai Komunis China Xi Jinping memperkenalkan kebijakan yang disebut “tiga garis merah”. Ini mewajibkan pengembang properti mengurangi utang mereka yang sangat besar.
Evergrande tiba-tiba menjadi sulit meminjam uang, dan proyek-proyek di seluruh China terhenti karena perusahaan kesulitan membayar biaya konstruksi. Pada 2023, Hui ditahan atas dugaan tindak pidana. Hingga kini, banyak keluarga di China yang telah membeli rumah namun tidak pernah menerima kunci rumah mereka.
