Budi Pekerti

Menerobos Hal-Hal yang Membuat Kita Tak Bisa Maju

Yang menghalangi kita untuk menemukan kesempatan baru dan menciptakan sesuatu yang lebih baik seringkali bukanlah rintangan di dunia luar, melainkan hambatan dalam pikiran kita sendiri.

Batu yang keras

Dahulu kala, ada sebuah keluarga yang memiliki ladang yang ditanami sayur-sayuran, dan pada ladang tersebut ada sebongkah batu besar yang menonjol dari tanah. Batu itu lebarnya sekitar 40 cm dan tingginya 20 cm, dan orang-orang sering tersandung batu itu, hingga kadang-kadang terjatuh atau kulitnya tergores.

Suatu hari, sang anak bertanya kepada ayahnya, “Mengapa kita tidak menggali batu yang merepotkan itu saja?”

Ayahnya menjawab, “Batu itu sudah ada di sana sejak zaman kakekmu. Pasti ukurannya sangat besar. Siapa yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menggalinya? Lebih baik kamu berhati-hati saja saat berjalan. Setidaknya itu akan melatih refleksmu.”

Bertahun-tahun berlalu. Sang putra tumbuh dewasa, menikah, dan menjadi seorang ayah, namun batu itu tetap ada.

Suatu hari, istrinya berkata dengan nada frustrasi: “Batu itu semakin merepotkan saja. Kenapa kita tidak menggali dan membuangnya jauh-jauh?”

Suaminya menampik gagasan itu. “Lupakan saja. Batu itu sangat berat. Kalau memang bisa dipindahkan, pasti sudah ada yang melakukannya sejak aku masih kecil.”

Keesokan harinya istrinya membawa cangkul dan seember air ke kebun, bertekad akan melakukannya sendiri. Ia menuangkan air di sekeliling batu itu dan menunggu tanahnya melunak. Kemudian ia mulai menggali tanah di sekelilingnya.

Dia telah mempersiapkan diri untuk seharian penuh menggali. Namun, dalam hitungan menit, batu itu sudah terlepas dari tanah. Ukurannya sama sekali tidak sebesar yang dibayangkan semua orang. Penampilannya yang mengesankan telah menipu generasi demi generasi sehingga mereka mengira bahwa rintangan di bawah permukaan pasti sangat besar.

Jika kita mendaki gunung tapi hati berniat ingin turun, kita tak akan pernah sampai ke puncaknya.

Ketika dunia terasa kelabu dan harapan seolah sirna, terkadang bukan dunia yang begitu suram, melainkan hati dan pikiran kitalah yang memandangnya demikian. Sebab, untuk mengubah dunia yang terbentang di hadapan kita, mungkin yang perlu kita ubah terlebih dahulu adalah hati kita sendiri—cara kita memandang, menerima, dan menghadapi kehidupan.

Melupakan diri sendiri

Selma Lagerlöf lahir di Swedia pada tahun 1858. Semasa kecil, ia pernah mengalami masa ketika dirinya tidak mampu berjalan. Dalam memoarnya yang ditulis kemudian hari, ia mengenang sebuah perjalanan bersama keluarganya. Dalam perjalanan itu, ia mendengar bahwa kapten sebuah kapal memiliki seekor burung cenderawasih.

Anak itu begitu terpikat dan sangat ingin melihat sendiri burung yang indah tersebut. Ketika mereka sudah berada di atas kapal, seorang awak kapal muda mengulurkan tangannya dan menuntunnya menuju kabin sang kapten. Begitu larut dalam keinginannya untuk melihat burung itu, ia bahkan tidak menyadari apa yang telah dilakukannya sampai keluarganya menemukannya: ia telah berjalan dengan kedua kakinya sendiri.

Sejak saat itu, ia mampu berdiri dan berjalan. Kelak, Lagerlöf mendedikasikan dirinya sepenuh hati pada dunia sastra. Pada tahun 1909, ia menjadi perempuan pertama yang menerima Hadiah Nobel Sastra.

Ungkapan Tiongkok wangwo (忘我), yang secara harfiah berarti “melupakan diri sendiri”, menggambarkan suatu keadaan ketika seseorang begitu larut dalam tujuan yang luhur hingga untuk sementara melupakan rasa takut, keraguan, dan keterbatasan yang selama ini ia tetapkan bagi dirinya sendiri.

Dalam momen-momen seperti itu, seseorang dapat melampaui batas-batas yang biasanya menghambat dirinya dan menemukan kekuatan yang bahkan tidak pernah ia sadari bahwa ia miliki.

Ketekunan

Tak seorang pun bisa sukses hanya dengan berbakat saja. Tuhan yang memberikan bakat, tetapi kerja keraslah yang membuat bakat itu membuahkan hasil.

Sebuah kisah yang terkenal tentang Zeng Guofan, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Tiongkok, menceritakan tentang perjuangannya saat masih menjadi pelajar muda.

Suatu malam, Zeng sedang belajar di rumah, membaca bagian yang sama berulang-ulang dengan suara keras karena ia tak bisa menghafalnya. Sementara itu, seorang pencuri bersembunyi di bawah atap, menunggu sang pelajar muda itu tertidur.

Namun, Zeng terus membaca.

Si pencuri menunggu dan menunggu. Akhirnya, karena tak tahan lagi mendengar bagian yang sama berulang-ulang, ia melompat keluar dan mengejeknya: “Dengan otakmu yang tumpul itu, untuk apa repot-repot belajar?”

Kemudian, yang membuat Zeng tercengang, si pencuri itu mengucapkan hafalan seluruh bagian yang sedari tadi dibacakannya, dan pergi begitu saja.

Pencuri itu jelas memiliki ingatan yang luar biasa, mungkin jauh lebih baik daripada ingatan Zeng. Namun, bakat alami saja tidak menentukan jalannya hidup mereka. Zeng terus tekun belajar dan akhirnya menjadi tokoh penting dalam sejarah Tiongkok, sementara pencuri berbakat itu tidak pernah terdengar lagi.

Ada sebuah prinsip lama: ketekunan dapat menutupi kekurangan bakat. Sedikit usaha mungkin tampak tidak berarti, tetapi usaha yang terus-menerus dilakukan hari demi hari dapat mencapai apa yang tidak bisa dicapai hanya dengan bakat alami saja.

Tiandao chouqin (天道酬勤) — Tuhan membalas kerja keras. Keberhasilan besar tidak dapat dipisahkan dari usaha yang dilakukan secara gigih dan konsisten. Setiap usaha akan membuahkan hasil. Seiring berjalannya waktu, usaha-usaha kecil yang terus terkumpul dapat menghasilkan pencapaian besar, dan sesuatu yang dahulu tampak mustahil pada akhirnya dapat menjadi sebuah keajaiban.

Jangan pernah bosan belajar

Tikus yang hanya memiliki satu lubang pelarian akan mudah ditangkap.

Suatu malam yang gelap, seekor pemimpin membawa sekelompok tikus muda keluar untuk mencari makanan. Di sebuah dapur, mereka menemukan sebuah tempat sampah yang penuh dengan sisa makanan. Bagi tikus-tikus yang lapar itu, tempat sampah itu bagaikan harta karun.

Saat mereka dengan gembira mengobrak-abrik temuan mereka, tiba-tiba terdengar jeritan mengerikan dari seekor kucing besar. Tikus-tikus itu berlarian panik, tetapi kucing itu terus mengejar. Dua ekor tikus muda terpojok, dan tepat ketika kucing itu hendak menerkam, terdengar gonggongan keras dari dekat.

Kucing itu membeku. Mendengar suara yang terdengar seperti anjing yang marah, ia berbalik dan melarikan diri.

Baru setelah itu pemimpin tikus itu muncul dari balik tempat sampah.

“Aku selalu bilang kepadamu bahwa tidak ada salahnya belajar bahasa lain,” katanya. “Kali ini, hal itu menyelamatkan nyawa kalian.”

“Satu keterampilan lagi, satu jalan lagi.” Belajar seharusnya tidak pernah berhenti. Setiap keterampilan yang berguna memperluas pilihan yang tersedia bagi kita. Mereka yang terus belajar sepanjang hidup akan lebih siap ketika keadaan berubah — dan terkadang, pengetahuan yang dulu tampak tidak perlu justru menjadi hal yang sangat dibutuhkan.

slot gacor

situs slot gacor