Keluarga

Saat Orang Tua Terlanjur Membentak Anak

Anak perlu tahu jika melakukan kesalahan. Orang tua dapat memberi hukuman atau sangsi padanya. Anak harus memahami, mana hal yang benar dan mana yang salah. (Image: freepik)

Mendidik anak, bukanlah perkara yang mudah. Di satu sisi, orang tua perlu memberikan “ruang” pada anak untuk mengembangkan pribadinya, namun di sisi lain, orang tua juga perlu membatasi hal-hal yang sekiranya akan mengganggu perkembangan kepribadian si anak. Seperti konsep “yin-yang” yang saling melingkupi dan saling membatasi, kedua sisi harus berimbang agar “pesan” yang akan disampaikan pada anak, dapat diterima dengan baik.

Namun demikian, dalam perjalanannya, banyak orang tua yang kehilangan kendali emosi saat mendisiplinkan anak. Tidak jarang teriakan dan bentakan, secara tidak sengaja keluar dari mulut orang tua. Sehingga anak kemudian merasa terpojokkan dan menjadi salah pengertian.

Berteriak atau mengeraskan nada suara sebenarnya tidak selalu buruk. Dengan suara yang keras, dapat menarik perhatian anak tanpa menyakitinya, menurut Adele Faber, seorang pelatih pengasuhan anak di Roslyn Heights, N.Y., dan rekan penulis “How to Be the Parent You Always Wanted to Be,” seperti dimuat di laman The Wall Street Journal dalam artikel “Talking to Your Child After You Yell” oleh Sue Shellenbarger. Misalnya: “Saya baru saja selesai mengepel lantai, sekarang sudah banyak jejak kaki berlumpur.”

Berteriak menjadi suatu hal yang buruk ketika menyangkut serangan pada pribadi anak, meremehkan atau menyalahkan seorang anak dengan pernyataan seperti “Mengapa tidak pernah bisa mengingat, sih?” atau, “Kamu tidak pernah becus!” lanjut Faber.

Lantas bagaimana sebaiknya orang tua bersikap, jika telah terlanjur mengungkapkan kekesalannya dengan teriakan yang menyakitkan Anak? Berikut beberapa hal yang mungkin dapat Anda lakukan.

  1. Jangan berbalik arah

Perlu diingat bahwa mendisiplinkan anak adalah hal yang benar. Jika anak melakukan kesalahan, mereka perlu mengetahuinya. Bahkan bila diperlukan, orang tua dapat memberi hukuman atau sangsi padanya. Anak harus memahami, mana hal yang benar dan mana yang salah. Ini adalah dasar dari pendidikan si anak. Jadi jika Anda terlanjur membentak dan mengatakan hal yang menyakitkan Anak, jangan lantas berbalik arah karena merasa bersalah. Sebaliknya, tarik nafas dalam-dalam, hening sejenak, sehingga Anda memiliki waktu untuk berpikir tenang dan logis.

2. Meminta maaf

Tidak ada orang yang sempurna. Demikian juga dengan orang tua dan anak. Tidak perlu merasa gengsi untuk meminta maaf pada anak. Namun perlu diingat, permintaan maaf disampaikan bukan karena telah mendisiplinkan atau menjatuhkan sangsi pada anak, namun karena orang tua telah hilang kendali dan menyakiti hati anak dengan perkataannya yang bersifat menyerang. Ini harus disampaikan secara jelas agar anak dapat membedakannya dengan benar.

3. Lakukan pendekatan

Lakukan pendekatan untuk mengambil hati anak. Untuk anak-anak yang lebih kecil, mengambil hatinya cenderung lebih mudah. Orang tua mungkin hanya perlu membelikan es krim atau minuman kesukaannya. Namun, bagi anak yang lebih besar, orang tua perlu lebih kreatif, misalnya, dengan melakukan kegiatan yang disukai anak secara bersama-sama. Jika anak masih belum mau menerima, tidak apa-apa, berilah dia waktu. Satu hal yang terpenting, orang tua harus jelas dimana dia berpijak. Ini akan membantu anak mengetahui kemana arah orang tua membimbingnya.

4. Sampaikan kembali

Seperti bermain layang-layang, mendidik anak juga perlu bermain tarik-ulur. Saat orang tua secara tidak sadar meluapkan emosinya, ada dua kemungkinan yang terjadi pada anak. Anak cenderung defensif atau anak akan merasa ketakutan. Namun, apapun perilaku anak, saat mereka dalam kondisi yang tegang, dua-duanya tidak akan dapat memahami pesan yang disampaikan orang tuanya secara sempurna. Saat anak sudah dapat menerima permintaan maaf, orang tua dapat menyampaikan ulang maksud yang semestinya dia sampaikan dengan nada yang lebih bersahabat.

Semoga artikel ini dapat membantu Anda dalam menjalin hubungan yang lebih indah dengan anak-anak Anda. (NTDIndonesia/averiani)