Suatu hari seorang pemuda pergi menemui Sang Buddha, dia tampak sangat sedih. Buddha bertanya apa alasannya hingga dia tampak begitu sedih. Pemuda itu memberi tahu bahwa Ayahnya telah meninggal dan dia ingin melakukan ritual agar Ayahnya bisa masuk ke surga setelah kematiannya.
Pemuda itu berkata, “Saya punya banyak uang untuk memanggil pendeta dan orang suci manapun, tapi saya memilih Anda, untuk mendoakan dan mengadakan ritual untuk Ayah saya yang telah meninggal, agar dia bisa masuk ke surga.”
Sang Buddha mendengarkan kata-katanya dan kemudian berkata, “Pergilah ke pasar dan beli dua pot tanah. Juga bawakan mentega dan beberapa batu kerikil.”
Si pemuda pergi ke pasar dan membelinya, berpikir bahwa semua itu adalah untuk keperluan ritual.
Setelah semua barang yang diperlukan siap, Sang Buddha mengajak pemuda itu ke tepi sebuah sungai. Di sana, Sang Buddha menyuruh pemuda tersebut untuk mengisi satu pot dengan mentega, dan satunya lagi dengan batu kerikil, kemudian menutupnya rapat, dan melemparkan kedua pot itu ke dalam sungai.
Si pemuda melakukan semuanya, dia berpikir bahwa ini pasti adalah bagian dari ritual.
Kini, Sang Buddha meminta pemuda itu untuk mengambil sebuah batang kayu kecil yang ada di sana, dan memukul kedua pot yang sebelumnya dia lemparkan ke dalam air.
Ketika pemuda itu memukul pot dan memecahkannya, mentega keluar dari dalam pot yang satu dan perlahan-lahan mengambang ke atas air, sementara batu-batu kerikil dari pot lain, mengendap di dasar sungai.
Buddha berkata, “Saya telah melakukan ini. Sekarang panggillah semua pendeta dan orang suci yang bisa Anda undang, dan mintalah mereka semua untuk berdoa – “Oh kerikil, naiklah ke permukaan .. Oh mentega, tenggelamlah ke dasar sungai..”
Pemuda itu menjawab, “Apakah Anda bercanda? Bagaimana itu mungkin? Itu bertentangan dengan hukum alam. Kerikil lebih berat dari air, mereka pasti tenggelam, dan mentega lebih ringan daripada air, mereka pasti akan mengambang.”
Buddha menjawab, “Anak muda, kamu tahu banyak tentang hukum alam namun tidak mau menerima hukum yang berlaku untuk semua orang. Kamu tidak perlu terikat. Jika semasa hidupnya, Ayahmu terus melakukan tindakan seperti kerikil (dosa), dengan sendirinya dia pasti akan turun, dan tidak ada yang bisa mengangkatnya. Jika semasa hidupnya dia terus melakukan tindakan yang ringan seperti mentega (kebenaran), secara alami dia akan naik.”
Seringkali kita mencari kekuatan luar untuk mengubah kehidupan diri kita sendiri, ketika sesungguhnya, baik atau buruk yang akan terjadi, adalah diri kita sendiri yang menentukan. Ajaran kebenaran dan orang suci dapat menunjukkan jalan kebenaran, namun tetap harus kita sendiri yang menjalani, dan menentukan apakah mau menapaki jalan kebenaran tersebut atau tidak.
Hukum karma itu nyata adanya, perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan, perbuatan buruk akan mendatangkan keburukan. Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. (moralstories26/an)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
