Suatu hari ketika bekerja, telepon saya berbunyi, ternyata itu adalah seorang gadis kecil: “Ayah, setelah pulang kerja, datanglah kemari, aku kangen!”
PODCAST
“Maaf, kamu salah sambung,” Kata saya sambil menutup telepon.
Saya tidak punya istri dan anak, bagaimana bisa saya menjadi seorang Ayah.
Selama berhari-hari berikutnya, gadis kecil itu menelepon lagi dan lagi, saya mulai merasa terganggu.
Berulang kali saya berkata bahwa saya bukan Ayahnya, namun dia terus menelepon.
Kadang saya menjawab dengan kasar, kadang saya tidak mengangkat teleponnya.
Hari ini, gadis kecil itu menelepon lagi, suaranya terdengar sangat lemah: “Ayah, aku kangen! Rasanya sakit sekali! Ibu bilang ini nomor Ayah, ini pasti Ayah kan? Aku tahu Ayah sibuk, jika Ayah tidak punya waktu kesini, bisa beri aku ciuman lewat telepon saja?”
Permintaan sederhananya telah menyentuh hati saya, jadi saya memberinya ciuman beberapa kali lewat telepon.
Lalu beberapa saat hening, sebuah suara pelan terdengar: “Terima kasih Ayah, aku bahagia … aku sayang Ayah …”
Hening, dan setelah beberapa waktu telepon itu terputus.
Beberapa jam setelahnya, telepon lain masuk.
“Halo Pak, maaf kami telah mengganggu Anda beberapa hari ini! Saya ingin menelepon lebih awal, tapi karena saya sedang terus berusaha mencari obat kanker untuk putri saya, saya tidak sempat. Putri saya menderita kanker tulang stadium akhir.
Ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil beberapa waktu lalu. Saya tidak bisa mengatakan hal yang sesungguhnya kepada putri saya, karena dia sangat menyayangi Ayahnya. Saya berbohong kepadanya dan mengatakan bahwa Ayahnya sedang sangat sibuk bekerja. Tapi dia terus memaksa, jadi saya mengarang sebuah nomor telepon dan mengatakan bahwa itu nomor Ayahnya.
Saya tahu, kapanpun dia terbangun, dia akan langsung menelepon nomor tersebut. Terapi yang ia jalani setiap hari amat menyakitkan, nomor ini adalah satu-satunya harapan baginya, dan satu-satunya hal yang dia ingat. Dia selalu berharap agar Ayahnya bisa datang, memeluk dan menciumnya. Saya berkata padanya bahwa Ayahnya ingin melihatnya sembuh dan pulih kembali. Nomor ini telah membantunya menghadapi semua rasa sakit itu.”
Saya tidak bisa menunggu lagi dan langsung bertanya: “Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Putri saya baru saja pergi ke surga. Berkat ciuman yang Anda berikan, ia meninggal sambil tersenyum, dengan telepon yang masih digenggamnya. Terima kasih, karena telah memberi putri saya kebahagiaan di akhir hidupnya.”
Apa yang kita lakukan, bisa merupakan hal yang sangat sepele bagi diri sendiri, namun bagi orang lain, bisa saja itu adalah harapan besar dalam hidupnya.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
