Pada kehidupan setiap manusia, sangat sedikit jika tidak ada orang yang pernah berbuat kesalahan dalam hidupnya. Tetapi setelah berbuat kesalahan yang sangat fatal, bila ia dapat secara tulus mengakuinya, sadar bahwa perbuatan itu salah, dan mempunyai keberanian untuk memperbaikinya itu adalah suatu perbuatan yang sangat patut dikagumi. Berikut adalah 2 kisah nyata dari buku sejarah karya Ji Xiao Lan pada zaman Dinasti Qing tentang dua orang yang dengan tulus mengakui kesalahannya:
Dahulu ada 2 orang yang bernama Wang dan Zeng yang berteman baik. Wang ditinggal mati istrinya dan harus membesarkan seorang anak sendirian. Kemudian diam-diam Wang menyukai istri Zeng yang cantik dan lemah lembut.
Suatu hari musibah bagi keluarga Zeng terjadi. Zeng ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara karena tuduhan palsu dianggap perampok. Wang menggunakan kesempatan ini untuk menyuap sipir penjara untuk menyiksa Zeng sampai tewas.
Setelah Zeng dikuburkan, Wang ingin segera melamar istri Zeng. Sambil menunggu hari-hari berkabung lewat, ia berencana untuk mengundang seorang mak comblang untuk pergi melamar. Namun ajaran tentang hukum karma membuatnya gelisah akan perbuatan buruk yang telah dilakukannya. Wang sering memikirkan masa depannya, hatinya menjadi sangat takut, dan akhirnya dia melepaskan keinginan untuk melamar. Selanjutnya, dia ingin berbuat kebaikan, demi menebus kejahatan yang dilakukannya.
Wang mengundang biksu melakukan proses sembahyang untuk Zeng agar dapat bereinkarnasi, namun dia tidak tahu apakah dengan cara ini dapat berhasil, karena itu dia melanjutkan dengan berbuat hal yang lebih realistis, yaitu dengan membiayai orang tua dan istri dan anak Zeng, dengan telaten mengurus kebutuhan mereka. Setelah lewat beberapa tahun, harta Wang sudah terkuras separuhnya karena itu, orang tua Zeng merasa tidak enak hati, bermaksud agar mantunya itu menikah dengan Wang, namun Wang menolak maksud tersebut, malah melayani mereka dengan lebih telaten lagi, terus hingga anak almarhum Zeng menjadi dewasa.
Suatu hari ibunda Zeng sakit keras, Wang selain terus membelikan makanan dan menyuapi obat untuk ibunda Zeng, juga setiap saat selalu berada di sampingnya, perhatiannya sama seperti terhadap ibu kandungnya sendiri. Menjelang kematiannya, ibunda Zeng berkata kepada Wang: “Ananda berbuat begitu banyak kebaikan, bagaimana caranya saya untuk membalas pada kehidupan yang akan datang?”
Wang buru-buru bersujud membenturkan kepalanya ke lantai berkali-kali sambil menangis, dan menceritakan seluruh kejadiannya dari awal sampai akhir, memohon agar ibunda Zeng meminta ampun untuk dirinya kepada Zeng pada saat sampai di akhirat – Tempat dimana semua roh pergi kesana setelah meninggal. Ibunda Zeng tanpa ragu menyetujuinya.
Ayah Zeng yang juga terharu, menulis di secarik kertas dan menyisipkannya di lengan baju istrinya, seraya berkata : Jika nanti setelah meninggal bertemu dengan anak kita, berikan secarik kertas ini kepadanya, dan beritahu dia jika masih mengingat dan menyimpan dendam lama, pada saat saya juga akan pergi ke akhirat, tidak perlu datang menemui saya, kecuali jika ia sudah memaafkan Wang.
Setelah kematian ibunda Zeng, Wang demi mengurus pemakaman, banyak mengeluarkan tenaga dan uang, menjadi sangat kecapaian, sehingga dia tertidur di samping makam. Dalam keadaan setengah sadar dia mendengar suara dalam mimpinya: “Soal ketidakadilan dapat dipecahkan, tetapi jangan lupa, kamu juga mempunyai seorang anak perempuan”. Wang terbangun setelahnya, dia mengerti maksud dari roh Zeng ini, maka dia menikahkan anak perempuannya dengan anak lelaki Zeng. Pada akhirnya, Wang menikmati kehidupan tuanya, dimana berakhir dengan kebaikan.
Terhadap hal Ji Xiaolan mengatakan: menggunakan tekad hati yang tangguh untuk menyelesaikan ketidakadilan yang tidak terpecahkan, Kisah ini menasihati mereka yang sadar jika dia bersalah agar segera bertobat meninggalkan kejahatan dan menjadi orang yang baik.
Kisah yang kedua ini berbeda dengan Wang yang dapat secara otomatis menyadari kesalahannya:
Pada zaman Dinasti Qing ada seorang anak muda berubah sikapnya dari yang tadinya jahat menjadi baik setelah kembali dari akhirat. Suatu hari, dia terjangkit penyakit yang biasanya terjadi pada musim dingin, ia mati suri, dalam keadaan setengah sadar rohnya meninggalkan tubuhnya. Dalam keadaan bingung entah mau kemana, dia melihat roh lain lewat, lalu mereka berjalan bersama, tanpa disadari akhirnya tiba di akhirat.
Di akhirat, pemuda jahat ini bertemu dengan pejabat akhirat yang mengecek buku catatan yang ada disana dengan seksama dan akhirnya sambil mengerutkan dahinya berkata: “Kamu selama ini selalu membangkang orangtua, tidak berbakti, menurut hukum akhirat ini, kamu harus diseret ke neraka Hu Dang (Neraka Hu Dang yaitu panci yang digunakan untuk memasak sup yang mendidih, didalamnya dimasak orang-orang yang berdosa, untuk menjalani hukuman atas dosa yang mereka perbuat pada kehidupan mereka).”
“Namun sekarang belum tiba saatnya kamu meninggal, maka kamu dapat kembali ke dunia, saatnya waktu kematianmu tiba baru kembali kesini untuk menerima hukuman.”
Pemuda jahat ini pucat pasi dan sangat ketakutan, bersujud dan meminta pejabat akhirat untuk memberitahu cara meminta pengampunan kepadanya. Namun pejabat akhirat menggelengkan kepalanya berkata: “Tidak berbakti hukumannya sangat berat, yang sudah dilakukan semua dihitung dan harus dibayar, tidak ada apapun membantu dirimu.” Pemuda jahat ini mulai menangis memohon tanpa henti.
Pejabat akhirat berpikir sejenak dan berkata : Ada sebuah cerita apakah kamu pernah mendengarnya?
“Seorang Guru Zen duduk dan bertanya: Di dagu seekor harimau terikat sebuah lonceng, siapa yang dapat melepaskannya? Seorang biksu berkata : Mengapa tidak mencari orang yang mengikat lonceng tersebut untuk melepaskannya? Kamu telah bersalah kepada orang tuamu, jika dapat dengan tulus hati bertobat, mungkin dengan begitu dapat menghilangkan hukumanmu.”
Setelah mendengar kata-kata dari pejabat akhirat, pemuda jahat ini masih khawatir karena dosanya sangat berat, bukan hanya karena menyesal dapat diselesaikan. Pejabat akhirat berkata lagi: “Apakah kamu pernah mendengar cerita tukang jagal babi dimana dia memutuskan untuk berhenti jadi tukang jagal dengan menggantungkan pisaunya dan dia bertekad untuk menjadi pengikut Buddha?” Sepertinya pemuda ini tercerahkan setelah mendengar cerita tersebut.
Roh pemuda ini kembali ke tubuhnya, penyakitnya pun menghilang. Sejak saat itu, pemuda jahat ini berubah total, dengan tulus hati dia berbakti kepada orangtuanya, membantu orang tuanya, dan hidup hingga mencapai usia 70 tahunan baru meninggal. Dari kehidupannya yang begitu panjang, Tuhan telah menerima pertobatannya.
Memang benar, bahwa setelah seseorang melakukan kesalahan, mampu mengenali dan memperbaikinya adalah hal terbaik, bukan sekedar meminta maaf, tapi harus betul-betul bertobat dari dalam hati, tidak mengulangi kesalahan yang pernah diperbuat, dan memulihkan akibat yang ditimbulkan akibat perbuatan buruk terdahulu, maka Tuhan akan mengevaluasi kembali hukuman akhirat seseorang. (ntdtv/lin/hui)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
