Bagaimanakah seharusnya kita menghadapi memori yang menyakitkan atau kejadian yang tidak menyenangkan? Banyak orang menyuruh diri sendiri jangan lagi berpikir tentang hal tersebut, betulkah ini cara yang paling efektif? Bisakah minum obat menghapus memori tersebut?
Mungkinkah seseorang menghapus tuntas memori yang sangat tidak menyenangkan, tak peduli melalui minum obat, hipnotis ataukah metode lainnya? Jawaban dari pertanyaan ini ialah “tidak mungkin”, minimal dengan teknologi modern adalah tidak mungkin.
Maka dari itu, apabila anda telah mengakumulasi banyak memori yang menyakitkan, tak ada cara melalui kekuatan luar yang mampu menghapus memori tersebut. Menghadapi ingatan yang tidak menggembirakan ini, satu-satunya cara yang bisa dilakukan ialah, menghadapinya dengan tulus.
Menghadapi dengan tulus berarti anda menerima apa yang anda di dalam hati sanubari, bukannya menekan perasaan tersebut dan membohongi diri sendiri seolah seperti tak terjadi apa-apa.
Misalkan lagi, jikalau seseorang selalu saja teringat akan pengalaman masa lalu yang menyakitkan, jangan selalu bicara terhadap diri sendiri: “Jangan memikirkannya lagi, masa lampau toh sudah berlalu.”….. Namun kenyataannya, di dalam pembicaraan dengan pasien saya, tak pernah menemui ada orang yang membuang memori lama secara total. Malah sebaliknya, terdapat banyak sekali orang yang senantiasa dengan perasaan tertekan, sampai akhirnya pada suatu hari suasana hati itu dilampiaskan keluar.
Suasana jiwa manusia bagaikan sebuah sungai, sedangkan perasaan marah, takut, dan menderita adalah kayu apung yang sesekali mengalir lewat. Apabila kayu apung muncul, anda bisa menerima keberadaannya, membiarkannya mengalir pergi dengan perlahan, sesudah lewat suatu tenggang waktu, kayu apung tersebut akan lenyap total hanyut sampai hilir sungai.
Akan tetapi, jikalau anda tak mampu mentoleransi keberadaan kayu apung tersebut, dan membenamkan kayu-kayu apung itu satu per satu ke dalam dasar sungai, dilihat secara permukaan, sungai dengan segera terlihat bersih, namun lewat sekian lama, kayu yang dibenamkan paksa ke dalam dasar sungai itu lantas membuntu aliran sungai, secara lambat laun membuat kualitas air seluruh sungai akan memburuk.
Suasana jiwa manusia juga demikian, menekan emosi hanyalah membuat jiwa seseorang dapat timbul masalah yang lebih banyak, menerima kenyataan dan menghadapinya dengan tulus barulah bisa membuat problema secara perlahan menghilang.
Tentu saja, berhadapan dengan rasa ini adalah suatu proses yang sangat menyakitkan. Jikalau ada orang bisa menemukan semacam obat yang sesudah diminum bisa membuat orang melupakan urusan yang tidak ingin kita ingat, juga tidak bakal berefek terhadap kinerja otak, maka penulis sangat setuju mendukung metode terapi semacam itu.
Karena apabila obat-obatan bisa lebih cepat dan lebih efektif menyelesaikan problema, mengapa tidak digunakan? Namun dalam kenyataannya, obat-obatan tidaklah memiliki hasil yang begitu mujarab, maka dari itu kita tidak punya pilihan lain. Oleh karena itu, penulis menyarankan dalam menghadapi masalah dalam hati hendaknya dihadapi dengan tulus, bukannya karena ini adalah suatu jalan yang mudah dilalui, melainkan dikarenakan ini adalah jalan satu-satunya. (epochtimes/yangshunxing/whs)
