Menurut legenda, utusan dari lima negara yang berbeda membawa hadiah berharga ke kota Chang-An untuk meminang Putri Wencheng, putri Kaisar Tang Taizhong. Kaisar mengalami kesulitan menentukan siapa yang harus dinikahi sang putri. Jadi dia memutuskan untuk menguji kecerdasan para utusan terlebih dahulu. Dia mempersiapkan beberapa tes yang sulit. Dikatakan bahwa Putri Wencheng akan menikahi raja yang utusannya bisa memenangkan semua ujian.
Diantara para utusan itu, ada seorang utusan dari negeri yang jauh, bernama Gar Tongtsen Yülsung ((མགར་སྟོང་བཙན་ཡུལ་སྲུང༌།), utusan Raja Songstan Gampo dari Tibet.

dilukis pada tahun 641 oleh Yan Liben (600-673). (Image: pixabay)
Tes pertama adalah menarik benang sutra didalam sebutir batu giok.
Tang Taizong meminta para utusan ke istana dan mengeluarkan sepotong batu giok dan benang sutra. Taizong meminta para utusan untuk menarik benang melalui satu ujung lubang ke ujung lainnya.
Ternyata ada lubang di batu giok yang memiliki jalan berliku, sehingga para utusan gagal melakukannya. Tiba pada giliran Gar.
Gar menggunakan seekor semut: ia mengikat pinggang semut dengan rambut dari sehelai ekor kuda. Dia menempatkan semut ke batu giok dari satu ujung dan menaruh madu di ujung lainnya. Kemudian dia menghembuskan udara ke batu giok. Segera, semut keluar dari ujung yang lain. Dia kemudian mengikatkan benang sutra ke rambut tersebut. Dia menarik rambut dengan ringan dan benang keluar dari ujung lainnya. Taizong sangat senang melihat sang utusan bertindak dengan cerdas.
Tes kedua adalah memasangkan 100 kuda betina dengan anak-anak kuda mereka masing-masing.
Tugas ini begitu sulit, para utusan lain sudah mencoba memasangkan berdasarkan tinggi, warna, dan lain-lain, namun ternyata salah.
Tiba giliran Gar. Namun, ia minta satu hari untuk observasi, baru besok dia bisa memasangkannya.
Gar memisahkan induk kuda dan anak-anak kuda selama satu hari dan tidak memberi makanan dan air kepada anak-anak kuda. Keesokan harinya, anak-anak kuda yang lapar dan panik segera berlarian mencari induk mereka masing-masing. Akhirnya pemasangan selesai.
Tes berikutnya adalah memilih Putri Wencheng di antara 2.500 wanita muda dan cantik.
Sang putri didandani seperti gadis desa biasa sehingga sulit dibedakan. Para utusan termasuk Gar tidak pernah tahu wajah Putri Wencheng, jadi tugas ini pun sulit.
Gar mengambil beberapa lebah madu yang dibawanya. Dia telah mengumpulkan informasi sebelumnya dan tahu bahwa Putri Wencheng suka memakai wewangian tertentu. Jadi, lebah-lebah itu terbang langsung ke kepala Putri Wencheng di antara 2.500 wanita muda yang cantik.
Tes terakhir adalah bagaimana masuk dan keluar istana tanpa tersesat.
Suatu malam, tabuhan drum terdengar keras di istana, dan Taizong mengirim pesan untuk mengumpulkan semua utusan. Gar tahu bahwa dia tidak terbiasa dengan jalan-jalan di Chang-An, jadi dia menandai beberapa titik utama dengan batu, ranting dan daun agar dia tidak tersesat. Setelah semua utusan tiba di istana, Taizong menyuruh mereka kembali. Pada akhirnya, Gar menang lagi.
Gar memenangkan setiap ujian dengan kebijakannya. Tang Taizong berpikir: “Jika utusan ini sangat pintar, maka rajanya juga pasti sangat cerdas.”
Karena itu, ia mengizinkan Puteri Wencheng menikahi Songtsan Gampo seperti yang dijanjikan. (minghui/eva)
