Site icon NTD Indonesia

Alkisah Harimau dan Tikus Merah

(Image: Rheia/ NTD Indonesia)

Dahulu kala, di sebuah negara bernama Tiongkok hiduplah sekawanan harimau yang sangat berkuasa, mereka memerintah negara dan mengikrarkan bangsa mereka sebagai raja dari segala binatang selama kurun waktu berabad-abad.

Hingga suatu hari, datanglah segerembolan tikus merah yang bermaksud merebut tahta kerajaan menghadap para harimau. Dihadapan raksasa binatang itu, seekor tikus kepala memproklamirkan bahwa sejak detik itu, tikus akan menggantikan posisi harimau memerintah negara dan seluruh binatang harus tunduk dibawah pemerintahannya.

Mendengar perkataan sang tikus merah, sontak membuat para harimau gusar dan berang. Mereka berkumpul dan menyusun rencana guna menyingkirkan para tikus. Akan tetapi niat mereka akhirnya tercium oleh para tikus.

Merasa dilecehkan, keluarga tikus segera menyusun rencana balik. Bagi tikus, kabar tersebut bukan sesuatu yang menyenangkan.

Suatu ketika, bertanyalah sang raja harimau kepada tikus kepala “Apa gerangan yang kalian inginkan”.

Dengan angkuh tikus kepala menjawab, “Wahai yang mulia harimau, jika engkau menganggap dirimu raja yang bijaksana, kalian tentu menyadari bahwa kalian sudah terlalu lama memerintah negara ini, maka sekarang, berikanlah kami kesempatan untuk menggantikan posisi kalian dalam pemerintahan.

“Kami akan membuat peraturan baru sesuai kebijaksanaan kami dan segenap penduduk di negara ini wajib mematuhi perintah kami”.

Tikus berdalil bahwa dunia zaman sekarang sudah berubah dan hampir setiap kerajaan besar memberlakukan sistem demokrasi dalam pemerintahan.

Kata “demokrasi” itu sendiri diucapkan sang tikus dalam bahasa berang-berang yang terdengar ganjil oleh harimau.

Lebih lanjut, sang tikus berkata bahwa kaum tikus memiliki kekuatan yang lebih hebat daripada harimau, sebab tubuh mereka membawa kekuatan gaib yang didapatkan saat berkunjung ke negara-negara lain sebelum menginjakan kaki di Tiongkok.

Mulanya harimau tak percaya atas ucapan sang tikus namun mereka memutuskan untuk mengalah dan memberi kesempatan kepada tikus untuk membuktikan ucapannya.

Segera melompatlah sang tikus ke atas kepala harimau dan duduk di atasnya dengan kepala menengadah dan dada membusung, kemudian bersama harimau berjalan mengitari hutan belantara. Seluruh binatang menyaksikan mereka dari kejauhan dan tak ada satupun yang berani mendekat.

Tikus merah telah membuktikan ucapan bahwa dirinya ditakuti semua binatang dan secara tak sadar, harimau itu telah menjadi korban para tikus. Jadilah harimau menjadi budak sang tikus.

Sejak saat itu bangsa tikus menduduki kursi kerajaan Tiongkok. Mereka membuat permainan harian menggunakan harimau sebagai umpan
untuk saling melukai dan membunuh satu sama lain.

Seiring berjalannya waktu, lambat laun para harimau tidak lagi saling menaruh kepercayaan antara satu sama lain.

Tikus merah berhasil mempermainkan dan mencuci otak harimau, membuat kaum harimau percaya bahwa diri mereka sangat hina, lemah dan bodoh, bukan tandingan bagi seekor tikus merah. Jadilah harimau menjadi budak para tikus merah untuk waktu yang lama, bahkan sangat lama.

Sementara tikus merah itu sendiri memiliki nama lain yakni” Partai Komunis Merah” dan harimau dalam cerita ini adalah rakyat Tiongkok yang tertindas. (NTD Indonesia/ ChingLing)