Site icon NTD Indonesia

Apa Artinya Menjadi ‘Anak Langit’

Anak Langit

Ilustrasi.

Buku Tiga Karakter Klasik, merupakan bacaan klasik Tiongkok anak paling populer. Ditulis oleh Wang Yinglin (1223-1296) di era Dinasti Song, turun-temurun dihafal oleh generasi Tiongkok, baik tua maupun muda.

Namun, setelah Revolusi Kebudayaan di Tiongkok, Tiga Karakter Klasik dilarang oleh Partai Komunis China yang anti Tuhan dan anti Tradisi, dan akhirnya tidak digunakan lagi. Dalam seri ini, kami menghidupkan kembali dan mengulas kisah klasik Tiongkok yang luar biasa ini, menggambarkan pelajaran kebijaksanaan kuno untuk diterapkan dalam kehidupan modern kita.

Sekitar 300 tahun setelah pemerintahan Kaisar Kuning, Tiongkok menyaksikan munculnya tiga kaisar bersejarah satu demi satu: Kaisar Yao, Kaisar Shun, dan Kaisar Yu yang Agung. Diabadikan dalam sejarah Tiongkok sebagai raja yang bijaksana, mereka mengantarkan Era Keemasan akan pemerintahan yang bajik.

Serial Epoch Times “Dasar-Dasar Legendaris Peradaban Tiongkok” mencatat pencapaian besar para penguasa ini. Mereka memerintah dengan kebajikan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati, menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya. Mereka membantu rakyat mereka mengatasi bencana kekeringan dan banjir. Mereka membangun tempat ibadah dan pendidikan moral, dan memungkinkan seni dan budaya berkembang.

Yang terpenting, mereka tidak nepotisme dalam memilih penerus mereka. Setelah mendapati putra mereka tidak layak menjadi penerus, masing-masing kaisar menurunkan tahta kepada orang yang paling berjasa dan berharga yang mereka kenal. Yao menyerahkan tongkat kepada Shun, dan Shun memberikan tahtanya kepada Yu setelah Yu berhasil mengatasi banjir besar yang gagal dijinakkan oleh dirinya.

Catatan sejarah Tiongkok serentak mengangkat kisah Yao, Shun dan Yu sebagai model pemerintahan yang patut dicontoh. Dan dalam beberapa cerita selanjutnya, kita akan melihat contoh karakter luar biasa yang ditampilkan oleh tokoh sejarah ini.

Belas Kasih Kaisar Shun

Selama tahun-tahun terakhir masa pemerintahannya, Kaisar Yao (juga dikenal sebagai Tang) merasa putus asa karena kesembilan putranya dirasa tidak pantas untuk memimpin rakyat. Setiap hari para putranya tenggelam dalam nyanyian dan minuman anggur, dan calon penerus yang diharapkannya, Pangeran Dan Zhu, adalah seorang playboy yang kejam.

Yao kemudian mencari kandidat lain, dan akhirnya dia menemukan Yao Chonghua, yang di masa depannya menjadi Kaisar Shun.

Shun dilahirkan dari keluarga petani miskin. Memiliki sifat yang rendah hati, ia adalah seorang yang memiliki karakter luar biasa. Ibu Shun meninggal ketika dia masih muda dan ayahnya menikah lagi. Ibu tiri, saudara tiri, dan ayah Shun sering melecehkan Shun, namun Shun tak pernah mengeluh atas perlakuan mereka terhadapnya.

Menurut legenda, keluarga Shun berusaha menghabisi nyawa Shun beberapa kali. Dalam satu kejadian, mereka meminta Shun untuk memperbaiki atap gudang yang bocor. Tetapi ketika Shun berada di atap, ibu tiri dan saudara tirinya membakar gudang dengan api. Shun melarikan diri dengan melompat dari atap sambil menggunakan topinya sebagai parasut.

Dalam insiden lain, ibu tiri Shun memintanya menggali sumur. Shun merasakan ada sesuatu yang salah, dan saat menggali sumur dia juga mempersiapkan terowongan pelarian ke permukaan. Ketika Shun telah menggali sumur hingga sangat dalam, ibu tiri dan saudara tirinya mendorong tanah ke dalam sumur, mencoba menguburnya hidup-hidup. Sekali lagi, Shun melarikan diri tanpa cedera melalui terowongan yang telah digali.

Shun tidak pernah membalas dendam, dan sebaliknya membalas kejahatan keluarganya dengan kebaikan dan rasa hormat. Ketika dia hampir dewasa, keluarganya yang tidak tahu berterima kasih mengusirnya keluar dari rumah, dan dia terpaksa mencari nafkah sendiri.

Namun kualitas kepemimpinan dan kasih sayang Shun yang luar biasa bersinar. Ketika dia datang ke sebuah desa yang memproduksi tembikar, Shun menyempurnakan seni dan mengubah kualitas tembikar desa jauh lebih baik. Ketika dia menjadi petani, dia akan bercocok tanam di ladang yang gersang hingga menjadi subur, dan kemudian memberikan ladang subur kepada mereka yang membutuhkan.

Kemurahan hatinya menginspirasi dan mengubah komunitas di sekitarnya. Orang-orang tertarik pada pemimpin muda ini dan meniru perilakunya.

Setelah bertahun-tahun mengamati dan menguji Shun, Yao memutuskan untuk menjadikan Shun penerusnya. Sifat manusiawi Shun meluas sepanjang masa pemerintahannya, ia menghapus hukuman kejam seperti amputasi dan pemenggalan; dia menekankan pendidikan moral; dan dia memengaruhi putra-putra Yao untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna. Ketika keluarganya yang dulu kejam kepadanya bertobat atas kesalahan mereka, dia memaafkan mereka dengan sepenuh hati.

Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa menjadi pribadi yang tak tercela mengingat masa kanak-kanaknya yang brutal dan tanpa kasih sayang. Penderitaan masa kecilnya justru menempa karakter Shun, mengubahnya menjadi seorang pemimpin yang toleran, murah hati, dan luar biasa. Kisahnya menginspirasi generasi-generasi selanjutnya untuk menghadapi kesulitan dan pelecehan, dan mengubahnya menjadi kekuatan yang murni dan positif.

Apa artinya menjadi “Anak Langit”

Kaisar-kaisar Tiongkok disebut “putra Langit”. Diutus oleh para dewa untuk memerintah rakyat, gelar sakral ini tampaknya memberi kaisar Tiongkok otoritas mutlak dan tidak perlu dipertanyakan.

Tetapi jika seseorang menggali lebih jauh ke dalam sejarah para kaisar kuno ini, persepsi ini tidak jauh dari kebenaran.

Orang Tiongkok kuno percaya bahwa Langit adalah penguasa tertinggi Bumi. Karena itu, sebagai “putra Langit”, seorang kaisar diharapkan sepenuhnya mematuhi kebajikan surgawi.

Penguasa yang bijak akan menerima bantuan Langit, dan kerajaannya akan damai dan terlindungi. Akan tetapi, seorang penguasa yang ceroboh akan melihat kekuasaannya berkurang dan kerajaannya hancur.

Akibatnya, kaisar-kaisar di zaman kuno melihat bencana alam dan bencana buatan manusia sebagai peringatan dari Langit untuk merefleksikan diri mereka sendiri dan bertobat.

Beberapa kaisar bahkan mengeluarkan maklumat penyesalan untuk secara terbuka mengakui kesalahan mereka, tindakan yang sangat terpuji. Jika kaisar memperbaiki kesalahan mereka dan memperbaiki moralitas mereka, mereka dapat membantu rakyat menghindari bencana. 

Saat keliling pedesaan, Kaisar Yao pernah berpapasan dengan dua penjahat yang dibawa ke penjara. Kaisar Yao bertanya, “Kejahatan apa yang kalian lakukan?”

Mereka menjawab, “Kekeringan telah berlangsung begitu lama sehingga kami tidak punya apa-apa untuk dimakan, jadi kami mencuri makanan dari rumah orang lain.”

Kaisar Yao menoleh ke prajuritnya dan berkata, “Lepaskan mereka dan borgol saya!” Prajurit tertegun. Bagaimana dia bisa memborgol kaisar?

Kaisar Yao berkata, “Saya membuat dua kesalahan besar dan keduanya tidak bersalah. Pertama, saya gagal mengajar budi pekerti kepada rakyat saya dengan baik, sehingga mereka mencuri makanan orang lain. Kedua, saya tidak punya kebajikan, sehingga hujan tidak datang. Semua ini salahku.”

Kedua pencuri itu merasa sangat malu dan menangis, bertobat dan berjanji tidak akan mencuri makanan lagi.  Ketulusan Kaisar Yao juga menggugah Langit dan hujan mulai turun, mengakhiri kekeringan.

Raja Tang dari Dinasti Shang adalah penguasa bijak lain. Setelah menggulingkan tiran Kaisar Jie, penguasa terakhir Dinasti Xia, Raja Tang mengeluarkan maklumat penyesalan yang dikenal sebagai “Maklumat Cheng Tang”.

Tang menulis, “Saya, sebagai seorang kaisar, harus menanggung semua dosa. Saya tidak berani memaafkan diri sendiri, karena itu adalah kuasa Langit. Saya bertanggung jawab atas jutaan dosa rakyat dan konsekuensi atas dosa itu tidak boleh ditanggung oleh jutaan rakyat.”

Dinasti Shang kemudian menderita kekeringan dan kelaparan selama tujuh tahun. Penasihat raja menyarankan untuk mempersembahkan kurban manusia kepada Langit untuk meminta hujan, tetapi Raja Tang tidak sanggup melakukannya. Dia memotong rambutnya yang panjang dan berdoa untuk hujan, menyalahkan kekeringan pada dirinya sendiri.

Dia berkata, “Rakyat tidak harus membayar dosa-dosaku. Jika rakyat berdosa, saya harus bertanggung jawab atas mereka. Tidak perlu mengambil nyawa mereka karena dosaku.”

Doa Kaisar Tang menggugah Langit, dan bagi kegembiraan dan kelegaan rakyatnya, hujan lebat mengakhiri kekeringan. (Jade Pearce dan Xing Sheng / epochtimes / eva)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI