Site icon NTD Indonesia

Asal Usul Perayaan Festival Kue Bulan

Hari ini, 6 Oktober 2025, adalah hari perayaan kue bulan. Festival Kue Bulan sering juga disebut Mid-Autumn Festival (Festival Pertengahan Musim Gugur), dikenang sebagai perayaan hari sukacita keluarga yang dilambangkan dengan kehadiran bulan purnama.

Ini adalah sekali dalam kurun waktu satu tahun bulan menampakkan diri sangat dekat dengan planet bumi, berdampingan dengan batas langit dan bersinar kemerahan yang mana melambangkan bersatunya pria (matahari) dan perempuan (bulan), seperti Yin dan Yang dalam tradisi Tiongkok.

Perayaan ini umumnya jatuh pada pertengahan musim panas, berdekatan dengan titik ekuinoq utara yaitu titik di mana rentang waktu antara siang dan malam adalah sejajar.

Tradisi kue bulan lahir di masa dinasti Xia dan Dinasti Shang, tradisi tersebut dikatakan berawal dari sebuah cerita rakyat kuno yang bersifat ritual. Namun perayaan tradisi tersebut baru populer di Tiongkok ketika era Dinasti Tang.

Ritual ini berasal dari latar belakang pertanian Tiongkok, di mana petani memohon kepada Dewa Bumi agar diberi musim yang baik untuk bercocok-tanam. Di akhir masa panen mereka sekali lagi akan memuja Dewa Bumi untuk mengucapkan rasa terima kasih. Hal ini dikenal sebagai berkah musim gugur. Banyak orang percaya bahwa festival Musim Gugur berasal dari kebiasaan ini, untuk mengenang jasa Houyi dan istrinya Chang’e (Dewi Bulan).

Dikutip dari Shen Yun Creations, legendanya adalah berikut ini:

Kaisar Giok, penguasa langit, mempunyai sepuluh putra yang tidak bisa diatur. Suatu hari, mereka berubah menjadi sepuluh matahari, dengan tega membakar bumi dari atas langit. Tidak bisa menghentikan kelakuan buruk mereka, Kaisar Langit memanggil Houyi, seorang pemanah yang dikenal selalu tepat sasaran. Kaisar memerintahkan dewa ini untuk memberi pelajaran pada putra-putranya.

Houyi turun ke bumi dan melihat penderitaan di bumi dengan matanya sendiri. Sawah para petani, tanaman dan hewan terbakar dan mati, hujan tidak bisa turun, dan orang-orang hidup dalam penderitaan. Dengan sangat marah, dia mengambil tindakan. Mengambil anak panah dari tasnya, dia membidik ke arah 10 matahari yang memanggang bumi. Satu matahari jatuh, kemudian satu demi satu jatuh. Akhirnya, sembilan orang putra Kaisar Langit mati. Houyi hanya meninggalkan satu matahari yang hidup, untuk memberikan cahaya dan kehangatan kepada bumi.

Setelah mengetahui hal ini, Kaisar Giok sangat marah. Ia tidak menginginkan putra-putranya mati, hanya ingin Houyi memberi mereka pelajaran. Dia mengusir Houyi dan istrinya yang cantik Chang’e dari Surga. Juga menghapus keabadian mereka. Sekarang mereka dipaksa untuk hidup di bumi sebagai manusia biasa.

Pasangan ini menemukan bahwa kehidupan manusia biasa adalah sulit dan penuh penderitaan. Sekalipun Houyi adalah pahlawan umat manusia, Houyi punya satu harapan: yaitu untuk menghindari kematian yang dihadapi semua makhluk fana dan kembali ke surga bersama istri yang dicintainya. Paling tidak, istrinya, tidak seharusnya menderita.

Untungnya, Houyi ingat bahwa Dewi Ibunda Ratu dari Barat, yang tinggal di Bumi, mempunyai ramuan keabadian yang sangat langka. Sang pemanah yang penuh harapan ini pergi menempuh perjalanan berat untuk mencari bantuan Dewi Ibunda Ratu.

Setelah menemui kesulitan yang tak terhitung, akhirnya dia tiba di istana Dewi Ibunda Ratu di gunung suci Kunlun. Setelah mengetahui keadaan buruk Houyi dan istrinya, Dewi Ibunda Ratu yang penuh welas asih memberi dua hal kepada Houyi. Yang satu adalah ramuan keabadian; satunya lagi adalah sebuah peringatan.

 “Minum separuh ramuan keabadian akan memberikan kehidupan abadi. Minum seluruh ramuan, akan membuat seseorang naik ke surga sebagai seorang dewa yang sejati.”

Setengah untuk dirinya, setengah untuk istrinya. Itu adalah harapan Houyi.

Ketika bertemu kembali dengan Chang’e, Chang’e sangat senang akan kesuksesannya. Namun ketika suaminya sedang beristirahat dari perjalanannya, Chang’e tidak bisa menahan diri dan mengintip ramuan keabadian yang dibawa oleh suaminya. Hasratnya untuk menjadi dewa menggodanya untuk meminum seluruh ramuan tersebut. Tidak lama kemudian, dia merasakan anggota badannya tidak punya bobot, dan dia mulai mengambang ke udara tanpa dikehendaki.

Backstory: The Lady of the Moon | Culture & Traditions

Sebagai seorang dewa yang diusir, dia tidak bisa kembali ke Surga lagi. Dan kini, bumi juga berada di luar jangkauannya. Dengan tidak ada tempat lain untuk, dituju, Chang’e pergi ke bulan yang terlantar, dimana dia menghabiskan seluruh hari-harinya di istana yang sepi dengan ditemani seekor kelinci putih. Dia menangis pilu untuk suaminya Houyi, yang telah dikutuk untuk menghabiskan sisa hidupnya di Bumi sebagai manusia biasa. 

Hou Yi sangat sedih setelah mengetahui apa yang telah terjadi. Ia kemudian membangun sebuah altar untuk mengenang sang istri. Di sana ia meletakkan kue kesukaan Chang’e dan buah-buahan segar sebagai persembahan kepada sang istri di bulan. Kemudian ritual ini diteruskan oleh para petani di bumi sebagai ungkapan terima kasih atas panen raya, dan juga merayakan waktu berkumpul dengan keluarga.