Budaya

Awal dari Legenda Konserto untuk Biola “Butterfly Lovers”

Violin Concerto 'Butterfly Lovers' didasarkan pada kisah cinta tragis Liang Shanbo dan Zhu Yingtai, dikenal sebagai 'Romeo dan Juliet China'. (Gambar: Walber melalui Wikimedia Commons)
Violin Concerto 'Butterfly Lovers' didasarkan pada kisah cinta tragis Liang Shanbo dan Zhu Yingtai, dikenal sebagai 'Romeo dan Juliet China'. (Gambar: Walber melalui Wikimedia Commons)

Salah satu karya musik orkestra Tiongkok yang paling terkenal adalah Butterfly Lovers Violin Concerto.

Karya ini berdasarkan pada kisah cinta tragis legendaris dari Liang Shanbo dan Zhu Yingtai dan juga disebut “Liang Zhu” dalam bahasa Tiongkok, yang merupakan kombinasi dari nama keluarga dari protagonis utama.

Karya ini telah direkam dan dipentaskan lebih banyak daripada konser Tiongkok lainnya di dunia dan dikenal sebagai jiwa dari musik simfoni nasional Tiongkok.

Di sini, kami mengeksplorasi banyak cerita, tema, kondisi, dan kepribadian yang saling terkait dibalik mahakarya musikal yang menginspirasi ciptaan Chen Gang ini.

 Rezim Komunis Menyerang, Mencabik-cabik Keluarga Berbakat

Pada tahun 1957, ayah Chen Gang yaitu Chen Gexin, adalah seorang musisi, komposer, dan penulis lagu terkenal dan populer yang dicap sebagai “golongan kanan” oleh rezim komunis dan dikirim ke kamp kerja paksa Baimaoling yang ditakuti yang terletak disebuah jurang di Provinsi Anhui.

Chen Gang, sebagai putra tertua, juga dijuluki sebagai “anak berbakti golongan kanan”. Akibatnya, dia dikritik dengan kejam dan dipaksa menanggung rasa sakit dan penghinaan yang luar biasa. Putra kedua, Chen Keng, seorang jenius matematika yang awalnya belajar di Universitas Fudan, dipaksa pindah ke Jiangxi untuk memberi makan babi.

Putra ketiga, Chen Dong yang masih muda, menderita secara emosional karena terpaksa menjalani hidup tanpa ayah dan saudara laki-lakinya. Putrinya, Chen Xiaoli, menjadi pendiam dan tidak menonjolkan diri. Istri Chen Gexin, Jin Jiaoli memikul semua beban dan tanggung jawab dan menjalani kehidupan yang sangat sulit.

Dalam keadaan yang sangat sulit itulah Chen Gang, yang saat itu berada di Konservatorium Musik Shanghai, diizinkan oleh Komite Konservatorium Partai Komunis untuk membuat karya musik untuk merayakan ulang tahun ke 10 berdirinya rezim komunis dan “Tiongkok Baru”.

Sulit untuk membayangkan suasana hatinya saat menulis konser biola abadi Butterfly Lovers ini. Mungkin karena dia telah menderita rasa sakit yang luar biasa sehingga dia mampu menciptakan suara yang mengguncang jiwa dan irama yang penuh dengan air mata dan permohonan, dimana Chen Gang mencurahkan begitu banyak pemikiran dan perjuangannya yang tak terucapkan.

Chen Gexin, yang berada jauh di kamp kerja paksa di Anhui, mendengar Butterfly Lovers di radio dan sangat bersemangat. Dia meminta Chen Gang untuk mengirimkan partiturnya sesegera mungkin. Namun betapapun Chen Gang ingin mengirimkan karyanya itu kepada ayahnya, yang juga merupakan guru pertamanya, hal itu tidak dapat dilakukan di masa pahit itu.

Perpisahan yang memilukan antara Liang dan Zhu

Pada saat yang sama, kehidupan cinta Chen Gang sendiri juga bergelombang seperti badai. Cinta murni antara Chen Gang dan kekasihnya tidak dapat menembus penghalang dunia sekuler. Keluarga gadis itu secara konsisten menentang hubungannya dengan putra seorang golongan kanan, terlepas dari perasaan mendalam gadis itu.

Pada malam yang gelap di Taman Beihai, dalam suasana hening total, Chen Gang yang patah hati harus mengucapkan selamat tinggal kepada kekasihnya. Pada saat itu, musik Butterfly Lovers tiba-tiba terdengar dari pengeras suara taman, dan situasinya menyerupai perpisahan Liang Shanbo dan Zhu Yingtai. Itu menjadi suara yang menghantui saat mengakhiri cinta pertamanya.

Chen Gexin, penyanyi-penulis lagu Shanghai masa lalu

Bakat Chen Gang yang terkenal di dunia tidak dapat dipisahkan dari ayahnya yang terkenal, Chen Gexin. Pada tahun 1930-an dan 1940-an, Chen Gexin adalah seorang musisi terkenal di Shanghai masa lalu. Shanghai Nights, Rose Rose I Love You, The Blossom of Youth, Forever Smiling, Wishing You Happiness and Prosperity, Dream Lover, dan banyak lagu indah lainnya semuanya ditulis oleh Chen Gexin.

Di Shanghai masa lalu, Chen Gexin sangat terkenal dan dihormati karena bakatnya sehingga setidaknya sepertiga dari lagu yang muncul di film yang menampilkan penyanyi populer Zhou Xuan adalah komposisinya.

Apalagi pengaruh karya-karyanya terus berlanjut hingga saat ini. Teresa Teng, Anita Mui, dan yang lainnya telah menyanyikan karya Chen Gexin dalam konser, dan mereka selalu bernyanyi dengan penuh kasih sayang.

Chen Gexin menulis lebih dari 200 lagu selama hidupnya, di antaranya Rose Rose I Love You juga menjadi sangat populer ketika dinyanyikan oleh Frankie Laine dalam bahasa Inggris dan tetap populer di seluruh dunia.

Chen Gexin: Jenius musik dan Patriot

Chen Gexin muda bersifat lembut dan anggun, tampan dan halus, dan meskipun dia hidup sangat hemat dan tidak memiliki pakaian mencolok, dia masih memancarkan aura terpelajar dan bakat luar biasa. Saat mengajar di Shanghai, dia memenangkan cinta seorang siswi bernama Jin Jiaoli, yang merupakan putri seorang pengusaha kaya dan gadis cantik populer di sekolah.

Namun, cinta mereka ditentang oleh keluarga Jiaoli. Jiaoli dengan berani menerobos penghalang dan tetap menikah dengan Chen Gexin. Sejak saat itu, mereka hidup sederhana dan bahagia, dan Jin Jiaoli mendukung karir musik Chen Gexin dengan sepenuh hati.

Selama masa itu, Chen Gexin tidak hanya bersemangat tentang musik, tetapi juga seorang pemuda yang antusias, peduli dengan kesejahteraan tanah airnya. Pada tahun 1941, dia dipenjarakan oleh Jepang, tetapi dia tidak menyerah meskipun disiksa, dan akhirnya dia dibebaskan.

Pengalaman yang sulit ini tidak membuatnya tertekan, tetapi memperkaya hatinya dan mengilhami dia untuk menulis lebih banyak lagu. Di balik tema musik yang tampak romantis yang ia tulis saat itu, terdapat metafora tersembunyi yang mengungkapkan harapan Chen Gexin akan kemenangan dalam Perang Tiongkok-Jepang dan kerinduannya akan kehidupan yang bebas dan lebih baik.

Hidup bahagia di Hong Kong

Setelah kemenangan Tiongkok dalam Perang Tiongkok-Jepang, keluarga Chen pindah ke Hong Kong di mana dia terus mengerjakan karya musiknya. Keluarga itu menjalani kehidupan yang nyaman dan bahagia bersama, tetapi keputusan selanjutnya benar-benar mengubah tidak hanya nasibnya sendiri, tetapi juga nasib seluruh keluarganya.

Pada tahun 1950, atas undangan tokoh sastra sayap kiri Shanghai, Xia Yan, Chen Gexin meninggalkan kehidupan nyamannya di Hong Kong dan kembali ke Shanghai, dengan penuh kerinduan dan harapan akan “Tiongkok Baru” dibawah pemerintahan komunis. Dalam mimpi terliarnya, dia tidak pernah berpikir bahwa keputusannya untuk kembali akan membuat semua anggota keluarganya mengalami nasib yang tragis.

Dicap sebagai ‘golongan kanan’ oleh rezim

Pada tahun 1957, Chen Gexin dicap sebagai “golongan kanan” dan dihukum dengan kondisi biadab di kamp kerja paksa Baimaoling di jurang Anhui. Pada tahun 1961, Chen Gexin, yang mengalami penyiksaan mental dan fisik yang tidak manusiawi, meninggal karena kelaparan, malnutrisi, dan penyakit di kamp kerja paksa.

Sementara itu, istrinya yang setia, pemberani, dan heroik, Jin Jiaoli, berjalan jauh ke Baimaoling di tengah salju, seperti yang sering dia lakukan sebelumnya untuk mengunjunginya, dan pemandangan yang menunggunya sangat mengerikan.

Dia ngeri melihat keadaan sisa-sisa suaminya yang tercinta. Hewan liar dibiarkan menggali tubuh suaminya dari kuburan yang dangkal, dan dibiarkan memotong-motong dan mencabik-cabik jenazahnya. Dia mengambil 206 tulang Gexin. Dia dengan lembut meletakkan tulang-tulangnya di sebuah kotak kayu kecil dan berjalan membawa tulang tulang itu dalam perjalanan pulang yang panjang dan menyedihkan.

Warisan Abadi

Menyusul cobaan itu, di tahun-tahun berikutnya yang panjang, dia hanya ditemani oleh lagu-lagu yang ditinggalkan oleh suaminya dan Butterfly Lovers karya putranya Chen Gang, yang merangkum kerinduan dan cita-cita keluarga akan kehidupan yang bebas dan lebih baik. Pada akhirnya, impian mereka berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan terbang menjauh.

Jin Jiaoli berasal dari keluarga yang sangat kaya. Dia bisa memiliki kehidupan yang mudah dan tanpa beban. Tapi dia meninggalkan semua itu demi cinta dalam hidupnya.

Kita hanya bisa berharap bahwa kebaikan, daya tahan, dan kesetiaan yang dimiliki wanita luar biasa ini untuk suami dan keluarganya dan untuk bangsa Tionghoa suatu hari akan diakui oleh semua orang Tionghoa bersama dengan orang-orang yang berniat baik dimanapun.

Bila Anda ingin mendengarkan karya “Butterfly Lovers” ini yang dimainkan oleh simfoni orkestra Shen Yun, dapat melihatnya disini:

https://www.shenyuncreations.com/video/_video_cc3a8cefda204c11a2575c6d4c32bb0b/The-Butterfly-Lovers-Violin-Concerto

(nspirement/Chua BC)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

 VIDEO REKOMENDASI