Budaya

Bejana Peringatan

Suatu hari, Konfusius mengunjungi kuil leluhur Zhou dan melihat bejana tergantung di tiang, di tengah-tengah ruangan. Konfusius bertanya kepada penjaga kuil: “Bejana apa itu?”

Penjaga itu menjawab, “Itu adalah Bejana Peringatan”.

Konfusius berkata: “Ooohh.. seperti ini rupanya ternyata… Saya pernah mendengar bahwa ketika sebuah bejana ini kosong maka akan miring pada suatu sudut, ketika setengah penuh akan pada posisi tegak, dan ketika penuh maka akan terbalik sehingga air tumpah. Apakah ini benar?”

Penjaga itu menjawab: “Ya, itu benar”.

Konfusius menyuruh para muridnya membawa air untuk mencobanya, dan memang benar begitu.

Konfusius menghela nafas dan berkata: “Ah, apakah pernah terjadi bahwa saat bejana penuh tidak terbalik?”

Zilu berkata: “Guru, apakah anda mengatakan bahwa ketika orang-orang seperti bejana saat penuh dengan air, mereka cenderung merasa paling benar sendiri, keras kepala, yang mengarah pada kegagalan? Saya ingin bertanya apakah ada metode untuk mengontrol penuhnya bejana, sehingga isinya tidak meluap?

Konfusius berkata: “Cara untuk mengontrol penuhnya bejana adalah dengan “menekan”, menyeimbangkan, selalu meninggalkan ruang di hati”.

Zilu yang kebingungan lalu bertanya: “Apa yang dimaksud dengan menekan?”

Konfusius berkata: “Mereka yang berbudi luhur menekannya dengan sikap hormat. Mereka yang punya memiliki wilayah luas menekannya dengan ekonomi. Mereka yang kaya dan berkedudukan tinggi menekannya dengan sikap rendah hati. Mereka yang memiliki banyak penduduk dan persenjataan kuat menekannya dengan rasa takut agar mereka tidak lengah. Mereka yang terpelajar menekannya dengan tidak mengganggap diri sendiri paling pandai dan selalu haus ilmu.”

“Sekarang, inilah yang saya maksud dengan “menekan”. Seperti yang dikatakan” Meskipun jabatannya tinggi, Kaisar Tang dari Shang sangat bersikap sopan kepada orang lain; dan karena itu, orang-orang lebih menghormatinya”.

Orang kuno sering menggunakan bejana peringatan untuk mendisiplinkan diri mereka sendiri, agar mereka rajin, waspada dan terutama selalu rendah hati. Rendah hati adalah sifat manusia sejati. Betapapun tinggi jabatan Anda, betapa berlimpahnya harta Anda, betapa banyak ilmu yang telah Anda miliki, Anda harus menopangnya tanpa meluap, bagaikan langit dan bumi yang menopang segala kehidupan didalamnya. (visiontimes/bud)