Budaya

Berbakti: Kebaikan yang Dihargai Di atas Segalanya

Putri bersama orangtuanya @Canva Pro
Putri bersama orangtuanya @Canva Pro

Dalam budaya tradisional Tiongkok, berbakti adalah: mencintai, menghormati, dan merawat orang tua adalah sikap baik yang dihargai di atas segalanya. Berikut ini adalah kisah zaman moderen tentang bagaimana anak-anak harus mempraktikkan kesalehan berbakti.

Xiao Li berasal dari keluarga yang kurang mampu di desanya, tetapi orangtuanya banting tulang agar dia bisa kuliah. Setelah lulus, ia menjadi PNS dan membuat iri penduduk desa lainnya.

Kemudian dia menetap di kota dan bertemu dengan seorang gadis, Ah Xiu yang juga berasal dari desa. Mereka menikah setelah berpacaran selama dua tahun. Suatu hari ayah Xiao Li datang ke kota untuk mengunjungi mereka dan dia memberi tahu Ah Xiu:

“Ini musim tanam, Ayah butuh uang untuk membeli benih dan pupuk.”

Begitu Xiao Li sampai di rumah, Ah Xiu membawanya ke kamar tidur dan berkata:

“Ayahmu butuh uang untuk membeli benih dan pupuk, menurutmu 50 yuan cukup? Xiao Li yang telah memberikan semua gajinya kepada istrinya hampir bersuara, tetapi istrinya berkata, “Jika itu tidak cukup, ayah harus memikirkan cara lain, kebutuhan kita akan banyak sekali, karena saya lagi hamil.” Ah Xiu memberi ayah mertuanya 50 yuan dan memasakkan dia makan malam sederhana.

Beberapa hari kemudian, ibu Ah Xiu datang berkunjung. Ah Xiu sangat bersemangat dan bertanya setelah dia masuk: “Bu, kamu butuh uang, kan?” Dia menyuruh ibunya menunggu sementara dia pergi ke pasar untuk membeli ikan, daging babi, dan telur untuk membuat makan malam spesial.

Ibu Ah Xiu sangat senang dengan makan malam yang istimewa dan Ah Xiu memberi dia uang 500 yuan.

Menjelang kelahiran anaknya, Ah Xiu bertanya kepada Xiao Li apakah dia menginginkan anak laki-laki atau perempuan, Xiao Li berkata: “Lebih baik memiliki anak perempuan.” Dia bertanya kepadanya: “Ada apa dengan memiliki anak laki-laki?” Xiao Li tidak mengatakan sepatah kata pun.

Bulan ketika Ah Xiu akan melahirkan, dia kembali ke rumah ibunya untuk beristirahat. Saat dia pergi, Xiao Li berkata:

“Jika kamu melahirkan seorang anak perempuan, beritahu saya segera dan saya akan ke sana secepat mungkin. Jika kamu melahirkan anak laki-laki, tidak usah beritahu saya dan berikan saja anak itu kepada orang lain.”

Suatu hari tidak lama setelah ini, Xiao Li mengetahui dari ibu mertuanya bahwa istrinya melahirkan bayi perempuan. Xiao Li sangat bersemangat dan menemui bosnya untuk cuti. Dia kemudian membawa banyak perbekalan untuk persiapan kunjungannya bersama putri barunya dan keluarga istrinya. Begitu dia tiba di rumah mertuanya, dia meletakkan semuanya di meja dapur dan berjalan langsung ke kamar tidur.

Ternyata istrinya melahirkan anak laki-laki, seketika Xiao Li berteriak: “Aku menyuruhmu memberitahuku ketika kamu melahirkan seorang anak perempuan, tapi ternyata anak ini laki-laki, kamu telah membohongi saya. Terserah, kamu dapat melakukan apa yang kamu inginkan dengan anak laki-laki ini.”

Dia mengambil semua barang bawaannya dari dapur dan siap untuk pergi, namun ibu mertuanya memegang tangannya dan berkata, “Kamu tidak boleh pergi dari sini sebelum kamu memberi tahu kami mengapa kamu tidak menyukai putramu.”

Xiao Li berkata:

“Sejak saya lahir, orang tua saya menghabiskan semua tabungan mereka untuk membesarkan saya dan mengirim saya ke perguruan tinggi. Saya akhirnya lulus kuliah dan memiliki pekerjaan yang baik. Sejak saya menikah, kami sering mengunjungi orang tua saya dengan tidak membawa apa-apa, bahkan di hari ulang tahun mereka.

“Belum lama ini ayah saya datang meminta uang untuk membeli benih dan pupuk, tetapi putrimu hanya memberinya 50 yuan. Tolong katakan kepada saya, apa yang bisa dibeli dengan uang 50 yuan? Ketika ayah saya meninggalkan rumah kami, dia meneteskan air mata dan berkata, ’Apa gunanya memiliki seorang putra?’ Hati saya berdarah mendengar kata-katanya.”

“Maaf, saya tidak tahu putri saya begitu tidak sopan terhadap orang tuamu. Maafkan kami karena tidak membesarkannya dengan benar,” kata ibu Ah Xiu, yang sangat malu atas kelakuan putrinya.

Ibu Ah Xiu kemudian berjalan ke kamarnya dan berteriak: “Turun dari tempat tidur itu dengan bayimu dan pergi dari sini, aku tidak ingin anak perempuan sepertimu.” Ah Xiu yang telah mendengar pembicaraan antara suami dan ibunya sangat menyesal dan memohon sambil berlinang air mata: “Maafkan aku bu, aku berjanji untuk berubah dan bersikap baik kepada mertuaku. Tolong izinkan saya tinggal di sini bersama bayiku selama sebulan. ”

Xiao Li menyadari bahwa Ah Xiu mengerti bagaimana perasaannya dan masuk ke kamar dan berkata:

“Bu, dia telah mengakui kesalahannya, saya akan memberinya kesempatan lagi.”

Untuk semua anak di dunia, bersyukurlah karena orang tuamu masih hidup. Berbaik hatilah kepada mereka, beri mereka waktu anda, sokonglah mereka dalam kehidupan mereka.(nspirement)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI