Orang sering mengatakan bahwa anak-anak adalah malaikat yang turun ke dunia manusia. Beberapa bahkan mengklaim bahwa malaikat-malaikat kecil ini memilih ibu mereka sendiri. “Kami yang memilihmu sendiri menjadi ibu,” kata mereka. “Sebelum kami lahir, kami sudah mencintaimu.”
Beberapa ibu pernah mendengar hal ini dari anak-anak mereka yang masih kecil dan mengingat mimpi yang mereka alami sebelum kehamilan — mimpi yang begitu jelas hingga terasa seperti pesan. Ketika mereka menceritakannya kemudian, mereka menyadari bahwa mimpi itu mungkin merupakan pertanda kedatangan anak tersebut. Pengalaman semacam ini disebut mimpi kehamilan, dan banyak ibu mengatakan bahwa mimpi-mimpi itu sangat akurat.
Bagaimana mimpi saat hamil dapat memprediksi jenis kelamin bayi
Keyakinan kuno mengatakan bahwa mimpi tertentu dapat mengungkapkan jenis kelamin bayi. Mimpi tentang matahari menandakan akan lahir bayi laki-laki, dan jika pemimpi menelan matahari, anak tersebut akan tumbuh menjadi orang yang kaya dan sukses. Mimpi tentang bulan menandakan akan lahir bayi perempuan; jika bulan besar dan terang, putri tersebut akan menjadi cantik.
Mimpi tentang naga membawa keberuntungan besar. Melihat kepalanya dengan jelas — dan terutama jika membawa mutiara — menandakan akan lahir seorang anak laki-laki yang tampan. Melihat hanya ekornya menyiratkan akan lahir seorang anak perempuan, dan jika baik kepala maupun ekornya terlihat, pemimpi mungkin akan memiliki kembar, satu laki-laki dan satu perempuan.
Mimpi tentang kebun sayur dengan mentimun, cabai, jagung, atau ubi jalar menandakan kelahiran seorang anak laki-laki. Kebun yang penuh dengan bunga menandakan kelahiran seorang anak perempuan. Jika ibu berdiri di antara bunga-bunga, putrinya akan sangat manis; jika ceri atau apel muncul, dia akan cantik dan anggun.
Penafsiran-penafsiran ini, yang sering dibagikan secara online, memiliki kualitas yang menawan dan penuh imajinasi. Namun, ide-ide semacam itu jauh dari kata baru. Selama ribuan tahun, nenek moyang kita menceritakan kisah-kisah tentang mimpi-mimpi nubuat yang seolah-olah menandakan kelahiran anak-anak yang luar biasa.
Mimpi kehamilan para bijak dan pahlawan
Ketika Ratu Maya, ibu dari Buddha Shakyamuni, sedang hamil, ia bermimpi tentang seekor gajah putih yang masuk ke dalam rahimnya. Ibu Laozi bermimpi tentang seorang pria tua yang menunggangi seekor rusa putih.
Ibu Konfusius, Yan Zhengzai, bermimpi tentang seekor qilin — makhluk mitos yang melambangkan kebajikan — membawa gulungan giok dari surga. Di gulungan tersebut tertulis: “Keturunan roh air, ketika Dinasti Zhou meredup, seorang raja yang sederhana akan bangkit.” Ramalan itu menandakan bahwa putranya tidak akan memerintah dari takhta, tetapi akan menjadi raja di antara rakyat. Memang, Konfusianisme kemudian membentuk peradaban Tiongkok selama dua milenium, dan Konfusius dihormati sebagai “Guru Sepuluh Ribu Generasi.”
Mimpi yang meramalkan kemunculan para kaisar dan pahlawan
Ketika istri pendiri Dinasti Tang, Li Yuan, melahirkan Li Shimin, dikabarkan bahwa dua naga berputar-putar di atas rumah mereka selama tiga hari. Seorang cendekiawan kemudian memberitahu Li Yuan bahwa putra keduanya “memiliki wibawa naga dan burung phoenix; pada usia dua puluh tahun, ia akan membawa kedamaian ke dunia.” Li Yuan menamainya Shimin, yang berarti “membawa kedamaian bagi rakyat.”
Pada tahun 618 M, Li Yuan naik tahta dan mendirikan Dinasti Tang. Pada tahun yang sama, pada usia 20 tahun, Li Shimin memenuhi nubuat dan menjadi Kaisar Taizong — salah satu penguasa paling dihormati di Tiongkok.
Dinasti Song dikenal karena para menterinya yang setia. Ibu Yue Fei bermimpi tentang seekor burung bersayap emas yang bertengger di atap rumah mereka. Dalam cerita Buddha, burung suci ini memakan naga dan melindungi keadilan. Ayahnya menamainya Fei, dengan nama kehormatan Pengju, yang melambangkan ambisi besar. Yue Fei menjadi jenderal yang cemerlang dalam sejarah Tiongkok.
Ini adalah impian para kaisar dan pahlawan. Namun, bagaimana dengan impian ibu-ibu biasa pada masa kini? Apa tanda-tanda yang mereka lihat, dan seberapa sering impian mereka menjadi kenyataan?
Di setiap budaya, orang-orang selalu bertanya-tanya bagaimana kehidupan menentukan jalannya — apakah anak-anak datang secara kebetulan atau melalui ikatan yang tak terlihat. Namun, mimpi-mimpi luar biasa tidak hanya ditemukan dalam gulungan-gulungan kisah sejarah. Ibu-ibu modern pun menceritakan momen-momen aneh yang terasa seperti bisikan dari dunia lain — sekilas pandangan tentang jiwa-jiwa kecil yang menunggu giliran mereka untuk hidup.
Hubungan yang dianugerahkan oleh langit
Seorang ibu hamil bermimpi tentang seekor naga merah yang berputar-putar di atasnya. Beberapa bulan kemudian, ia melahirkan seorang bayi perempuan — lahir pada Tahun Naga. Selama kehamilannya yang kedua, ia bermimpi tentang Bodhisattva Guanyin (Dewi Kwan Im) muncul di langit dan dengan lembut melemparkan seorang anak ke dalam pelukannya. Kali ini, ia melahirkan seorang bayi laki-laki.
Dia kemudian berkata dengan penuh rasa syukur: “Dewi yang penuh kasih sayang telah memberkati saya dengan seorang putra dan seorang putri.”
Seorang ibu lain bermimpi dua kali tentang seorang gadis kecil yang ingin bermain dengannya. Pada mimpi pertama, dia sedang sibuk dan mengusirnya. Pada mimpi kedua, dia tinggal dan bermain dengannya. Tak lama setelah itu, dia mengetahui bahwa dia hamil — dan ketika putrinya berusia dua tahun, dia terlihat persis seperti anak dalam mimpinya.
“Sebelum Tuhan mempercayakan putriku padaku, aku sudah bertemu dengannya dua kali. Takdir telah mengaturnya dengan indah.”
“Jangan lupa padaku”
Seorang wanita bermimpi tentang kiamat. Saat dia dan keluarganya melarikan diri, suara kecil memanggil dari belakang: “Kamu lupa membawa aku!” Ketika dia terbangun, dia bingung — hingga dia menyadari bahwa dia hamil.
Anaknya kemudian dikenal karena selalu menempel erat padanya di mana pun dia pergi, sering kali mengucapkan kalimat yang sama: “Aku juga mau ikut — jangan lupa aku!”
Sambil tertawa, dia berbagi: “Dulu aku sering bertanya-tanya apakah mimpi kehamilan itu nyata. Sekarang aku sama sekali tidak meragukannya.”
Seorang ibu lain bermimpi sedang memetik apel di kebun buah. Dia memilih satu apel, lalu melihat apel yang lebih baik, tetapi berkata pada dirinya sendiri: “Tidak — aku akan tetap memilih yang ini.” Saat itu, dia mengalami gejala keguguran, namun bayi itu tetap bertahan dan lahir dengan selamat.
Bagi dia, mimpi itu adalah pengingat untuk menghargai kehidupan yang telah memilihnya.
Anak di terowongan
Seorang dokter terkenal pernah berbagi kisah dari salah satu pasiennya. Sebelum dia tahu bahwa dia hamil, wanita itu bermimpi tentang seorang gadis kecil yang menunggu di pintu masuk terowongan gelap, menangis dan sendirian. Merasa iba, dia membawa anak itu pulang — tetapi dalam mimpi, dia sudah memiliki dua putri dan kesulitan merawat mereka semua. Sebuah pikiran sesaat terlintas di benaknya: Haruskah aku mengembalikannya? Dia terbangun tiba-tiba, terguncang oleh betapa nyata rasanya.
Tak lama setelah itu, dia hamil. Bayinya lahir dengan paru-paru yang lemah dan membutuhkan terapi oksigen, tetapi semakin kuat setiap harinya. Dokter itu kemudian berrefleksi: “Mimpi itu terwujud seperti sebuah pertanda. Beberapa jiwa sepertinya menunggu dalam kegelapan hingga saat yang tepat dan hati yang tepat menemukannya.”
‘Mengapa kamu tidak mau aku?’
Seorang ibu lain bermimpi tentang seorang gadis kecil yang manis dengan wajah bulat, potongan rambut pendek, dan mata yang cerah dan penuh ekspresi — jenis pesona polos yang biasa terlihat dalam kartun anak-anak. Gadis itu berlari menghampirinya, memeluknya erat-erat, dan memanggilnya “Ibu.” Namun, dia masih muda dan belum mau punya anak. Malam itu, dia bermimpi lagi — kali ini, saudara laki-lakinya yang telah meninggal memegang gadis yang sama di stasiun kereta api. Anak itu, dengan mata berlinang air mata, bertanya: “Mengapa kamu tidak mau aku?”
Dia terbangun dengan menangis.
Tak lama setelah itu, para dokter meyakini bahwa embrio telah berhenti berkembang dan akan keluar secara alami. Mengira bahwa keguguran akan terjadi, ia menerimanya dengan tenang. Namun, tepat sebelum pemeriksaan lanjutan, ia bermimpi tentang gadis yang sama lagi —sambil berkata: “Ibu, aku kembali.”
Pada kunjungan tersebut, dokter secara tak terduga mendeteksi detak jantung. Beberapa bulan kemudian, ia melahirkan seorang putri yang sehat dan penuh kasih sayang.
Kenangan sebelum kelahiran
Seorang ibu lain hampir saja kehilangan anak yang ditakdirkan baginya. Ia bermimpi tentang seorang anak laki-laki yang memanggilnya “Ibu,” dan keesokan paginya, suaminya, yang juga bermimpi tentang anak laki-laki yang sama, tiba-tiba bertanya apakah ia mungkin hamil. Ia memang hamil — dan anak laki-laki dalam mimpinya menjadi anak pertama mereka.
Bertahun-tahun kemudian, saat hamil lagi, dia tidak bermimpi apa-apa. Namun, putranya yang masih kecil dengan yakin mengumumkan: “Adikku ini perempuan.”
Ketika gadis itu lahir, dia sangat menyayangi kakaknya di atas segalanya. Hanya sang kakak yang bisa menenangkannya saat dia menangis. Ibunya bertanya-tanya apakah putrinya datang bukan untuknya, tetapi untuk putranya.
Suatu malam saat ia membaringkan putrinya di tempat tidur, anak itu bergumam dalam setengah tidur: “Aku tahu kau mencintaiku sekarang. Tapi saat aku masih di dalam perutmu, aku pikir kau akan meninggalkanku.”
Ibu itu membeku — dan menangis pelan-pelan. Selama kehamilan putri bungsunya itu, dia memang merasa kewalahan dan kesal, karena memang kehamilan kedua itu tidak direncanakan. “Aku tidak mau hamil lagi,” keluhnya suatu kali. Punya anak lagi akan menghambat rencanaku untuk kembali bekerja.” Mendengar anaknya mengulang kembali emosi itu menjadi pelajaran yang tak akan pernah dia lupakan.
Sebuah misteri yang tenang
Cerita-cerita ini berada di ruang antara keyakinan dan keajaiban. Sains mungkin tidak dapat menjelaskannya, namun banyak orang tua merasa ada kebenaran di dalamnya — sebuah keyakinan bahwa anak-anak yang datang ke dalam hidup kita sudah membawa niat, kenangan, dan cinta.
Mungkin, seperti yang dikatakan oleh beberapa ibu, bayi memilih kita sama seperti kita memilih mereka — jauh sebelum detak jantung pertama.
