Nilai-nilai tradisional luhur yang diajarkan cendikiawan Konfusius: “Kebajikan, kebenaran, kesopanan, bijaksana, dan dapat dipercaya” – terdengar seperti ungkapan klise, tetapi sepanjang sejarah Tiongkok ada banyak kisah tentang pengusaha yang membangun bisnis yang besar dengan berpatokan pada nilai-nilai tersebut.
Ambil contoh kasus Hu Xueyan, seorang bankir yang berusaha keras untuk bersikap jujur dan menjaga komitmen, bertentangan dengan apa yang umumnya terjadi di masa itu.
Kredibilitas Membuahkan Kekuatan
Pada zaman dinasti Qing, seorang prajurit bernama Luo Shangde yang sering bertugas ke medan perang membutuhkan tempat untuk menyimpan 12.000 tael perak gajinya selama dinas militer.
Dia sedang mempersiapkan strategi perang di Jiangsu dan tidak bisa membawa uangnya, juga tidak bisa menemukan orang yang bisa dipercaya untuk dititipkan selama perang. Secara kebetulan dia menemukan Bank Fookang milik Hu Xueyan.
Hu, pemilik bank, berjanji kepada Luo bahwa dia tidak akan mengambil uang itu jika Luo mati dalam pertempuran dan tetap akan membayar bunga sebesar 3.000 tael untuk tiga tahun atas simpanan uang tersebut.
Dalam pertempuran, firasat buruk Luo menjadi kenyataan – dia terluka parah dan meninggal dunia. Dalam surat wasiatnya, dia meminta teman-teman sekampungnya pergi ke bank Fookang agar menarik uangnya untuk diberikan ke keluarganya.
Mereka tiba di bank tanpa membawa bukti apapun dan segera ditolak oleh teller Bank. Tetapi pimpinan bank, Hu mendengar tentang masalah ini dan mulai mengumpulkan keterangan dari mereka. Setelah memastikan identitas orang-orang tersebut, dia memberikan 15.000 tael tanpa ragu-ragu.
Berita itu menyebar bagaikan kobaran api dan Bank Fookang menjadi bank yang paling diminati di negara itu karena bank-bank lain umumnya mempersulit keluarga almarhum karena enggan mengembalikan uang nasabah yang telah meninggal. Cabang Bank Fookang bermunculan di seluruh Tiongkok.
Kebaikan dan Kemurahan Hati

Ketika kebakaran menghanguskan sebuah desa pada masa Dinasti Song, seorang pebisnis bernama Pei membiarkan tokonya sendiri terbakar. Alih-alih menyelamatkan tokonya, dia langsung pergi membeli bahan-bahan makanan dari kota terdekat dan segala kebutuhan untuk dibagikan cuma-cuma kepada para tetangganya secepat mungkin. Dia disambut dengan gembira ketika pulang dan ketika akhirnya membuka bisnisnya lagi, keuntungan menghampirinya karena warga ingat kebaikannya, meskipun pada waktu musibah itu pikirannya hanya untuk membantu orang lain.
Mendelegasikan Kekuasaan kepada Orang yang Tepat
Ada lagi kisah tentang Bankir Qiao Zhiyong, yang membangun kerajaan bisnis puluhan juta tael perak, menguasai beberapa pelabuhan, bank, dan dermaga di sekitar Tiongkok. Rumah Keluarga Qiao telah dilestarikan menjadi cagar budaya hingga kini – contoh klasik arsitektur Tiongkok utara.
Suatu hari, Qiao bertemu Yan Weifan, seorang kepala cabang bank yang dipecat oleh mantan majikannya karena salah paham.
Qiao melihat bakat tersembunyi Yan dan mengutus delapan pria untuk membawa undangan dan kursi tandu ke pintu depan rumah Yan. Ketika Yan tidak keluar, putra Qiao datang ke rumahnya dengan penuh hormat menjelaskan bahwa ayahnya sedang mencari pria-pria berbakat di seluruh penjuru negeri. Yan terharu dan setuju untuk diwawancarai, tetapi Yan yang rendah hati menolak memakai tandu. Sebagai gantinya, mereka sepakat untuk meletakkan pakaian dan topinya di kursi tandu sementara ia menunggang kuda.
Yan dilayani dan dijamu dengan sangat baik di rumah Qiao. Qiao melihat bahwa Yan adalah pria muda yang santun, cerdas dan tangguh. Fakta bahwa ia baru berusia 36 tahun semakin menambah penghargaan Qiao terhadap bakatnya. Yan diangkat sebagai manajer Bank Dadeheng dan mengelolanya selama 26 tahun. Bisnis berkembang pesat dan menjadi salah satu bank paling kompetitif di Tiongkok.
Menaklukkan kesulitan
Ye adalah pelopor dalam bidang transportasi dan pengiriman. Pada puncak kesuksesannya, asetnya bernilai antara enam sampai delapan juta tael perak, sama dengan sepersepuluh dari pendapatan tahunan pemerintahan Qing.
Pada tahun 1883, Shanghai diguncang berbagai gejolak: hujan badai, wabah penyakit, kekacauan pasar dan krisis ekonomi akibat jatuhnya harga sutra. Bisnis transportasi Ye juga mulai terkena imbasnya.
Ketika bencana melanda di awal tahun 1883, untuk menghindari yang terburuk Ye menarik semua simpanan banknya. Dia melihat kesempatan itu di bisnis minyak tanah dan mendapatkan hak distribusi eksklusif minyak tanah Standard Oil di Tiongkok.
Dengan harapan dapat meningkatkan penjualan untuk mengganti kerugian bisnis di London, Standard Oil mengirimkan sejumlah besar minyak tanah ke Shanghai. Ye yang mengurus pengiriman minyak dan mengubah jalur pengiriman dari Shanghai ke Sungai Yangtze dan daerah pesisir yang terabaikan, mendirikan 18 cabang distribusi di Ningbo, Wenzhou, Zhenjiang, Tianjin, Guangdong dan pelabuhan-pelabuhan dagang serta kota-kota lainnya
Selanjutnya, ia membangun infrastruktur transportasinya dengan membeli kapal-kapal pengangkut kapas yang sudah tidak terpakai karena jatuhnya industri tersebut. Dia mengumpulkan lebih dari 100 kapal dan menggunakannya untuk mengangkut minyak tanah, batu bara, besi, dan bahan lainnya hilir mudik di Sungai Yangtze.
Akhirnya, pada tahun 1883 yang seharusnya menjadi tahun tanpa harapan, keuntungan Ye malah mencapai 100.000 tael perak –jumlah yang luar biasa.
Menepati janji, selalu bertindak secara adil dan jujur, kebajikan, memberikan kepercayaan penuh pada orang-orang yang dapat dipercaya dan bersikap fleksibel ketika menghadapi kesulitan adalah prinsip-prinsip paling berharga yang diturunkan Konfusius untuk para pebisnis, agar sukses menjalankan bisnisnya. (visiontimes/the/eva)
