Budaya

Cara Memenangkan Pemberontakan Tanpa Prajurit dan Pertempuran

Alkisah, ada seorang pejabat dari Dinasti Han bernama Gong Sui yang setia dan murah hati. Dengan menggunakan kebijaksanaannya, ia berhasil memadamkan pemberontakan tanpa pertempuran atau bahkan prajurit.

Setia Pada Raja

Gong Sui bekerja di bawah pimpinan Raja Liu He, yang diangkat oleh Kaisar Zhaodi. Di masa itu, Kaisar Dinasti Han sering menunjuk anggota keluarga kerajaan untuk menjadi raja-raja di daerah-daerah otonomi di wilayahnya.

Liu He merupakan raja yang playboy. Ia sering menampilkan prilaku yang tidak pantas dan berfoya-foya. Gong Sui yang bijaksana sering menasehati raja, dan berusaha menyarankan pada penasehat serta guru raja untuk membantu mengubah sifatnya yang buruk itu. Namun sifat raja tetap tidak berubah, bahkan saat Gong menasehatinya, raja Liu He malah menutup telinganya dan berjalan pergi, sambil mengumpat, “Kata-katamu mempermalukan saya!”

Segala macam upaya Gong tidak berhasil merubah sifat raja Liu. Pada suatu hari, Gong merangkak berlutut ke istana, sambil menangis berusaha menasehati raja. Beberapa orang yang hadir bahkan juga ikut menangis, hingga Raja Liu menjadi heran.

“Mengapa kamu menangis?!” tanyanya. “Kerajaan kita dalam bahaya besar, Paduka!” jawab Gong Sui. “Hati saya hancur, harap Yang Mulia mau mendengarkan saya!”

Raja Liu meminta orang lain yang hadir untuk pergi, dan akhirnya bersedia mendengarkan Gong.

Gong pun bercerita padanya kisah Raja Jiaoxi. Raja Jiaoxi adalah raja yang bodoh dan menyukai pejabat yang terus menyanjungnya. Meskipun Raja Jiaoxi telah banyak melakukan dosa, pejabatnya semua tetap menyanjung dan menjilatnya, hingga menyebabkan keruntuhan kerajaan. Gong Sui pun menghela nafas. “Yang Mulia, fakta bahwa Anda hanya menyukai mereka yang menyanjung Anda, seolah-olah Anda mengikuti jalan Raja Jiaoxi!” katanya.

Gong Sui pun menyarankan Raja Liu untuk tinggal bersama orang-orang yang memiliki banyak kebajikan dan pengetahuan. Raja Liu setuju, dan Gong merekomendasikan 10 orang. Namun, setelah beberapa hari, Raja Liu mengusir mereka semua dan kembali ke kebiasaannya yang buruk.

Ketika Kaisar Zhaodi meninggal dunia, ia tidak memiliki putra untuk diangkat menjadi penggantinya. Karena itu, Raja Liu terpilih untuk menjadi pengganti, naik sebagai Kaisar baru.

Raja Liu yang kini telah menjadi Kaisar membawa semua staf-nya yang tidak kompeten, bahkan merampok wanita dalam perjalanannya menuju ibukota. Setibanya disana, ia bahkan tidak berlutut untuk mengikuti ritual pemakaman Kaisar Zhaodi.

Di istana baru, kelakuan buruk Kaisar Liu semakin menjadi-jadi. Gong yang sangat khawatir, suatu hari berbicara dengan An Le, yang bertanggung jawab atas keamanan istana.

“Kaisar menjadi semakin sombong, cabul, dan boros. Dia tidak akan mendengarkan saran apa pun. Anda adalah kanselir kaisar sebelumnya, jadi tolong nasehati kaisar baru!”

Namun, kanselir pun ternyata tidak dapat mengubah Liu. Akhirnya, kerajaan mengambil tindakan tegas. Karena kesalahannya, Kaisar Liu diberhentikan dari posisi kaisar, dan dipilih kaisar baru bernama Kaisar Xuandi.

Menenangkan Pemberontakan

Dalam pemerintahan kaisar baru yaitu Kaisar Xuandi, terjadi bencana kelaparan di Kabupaten Bohai (Provinsi Hebei kini). Banyak orang menjadi perampok, bahkan terdengar gosip bahwa akan terjadi pemberontakan. Gubernur setempat sudah tidak dapat mengendalikan mereka.

Kaisar Xuandi ingin menunjuk seseorang yang mampu menangani hal ini. Nama Gong Sui pun sampai ke telinganya, dan ia segera memanggil Gong.

Saat Gong Sui muncul di hadapan Kaisar, melihat penampilan Gong yang agak pendek dan sudah tua, Kaisar Xuandi agak kecewa. Walaupun demikian, ia bertanya pada Gong apakah ia memiliki cara untuk mengatasi masalah di Kabupaten Bohai.

Dengan bijaksana Gong menjawab, “Kabupaten Bohai adalah daerah terpencil, dan orang-orang disana belum memahami keagungan Paduka. Mereka harus berjuang untuk mencari makan, dan pejabat setempat tidak memperlakukan mereka dengan baik. Karena itulah mereka mencuri senjata. Tapi itu bukan berarti mereka berniat memberontak!”

Kaisar merasa senang mendengarnya. Gong kemudian bertanya lebih lanjut, “Apakah Anda ingin saya menekan, atau menenangkan mereka?”

Kaisar menjawab, “Saya ingin mencari pejabat yang cakap untuk berdamai dengan mereka.”

“Baiklah, Paduka,” jawab Gong Sui. “Tapi, saya mendengar bahwa menangani orang-orang yang tidak tertib adalah seperti mengurai tali kusut. Akan berhasil jika dilakukan secara perlahan, karena sikap tergesa-gesa justru akan mengarah ke hasil yang sebaliknya. Saya berharap setelah sampai disana, kanselir dan pejabat lainnya tidak akan menghalangi pekerjaan saya, agar saya dapat menanganinya sesuai dengan situasi setempat.”

Kaisar Xuandi setuju dengan syarat ini, lalu memberinya bekal emas yang cukup dan kereta tambahan. Oleh Guang Sui, emas tersebut digunakannya untuk membeli gandum dan benih dari provinsi lain yang baru saja panen.

Setibanya di Kabupaten Bohai, Gong disambut oleh para pejabat setempat dengan upacara mewah. Namun, Gong, yang tidak senang sanjungan, justru memecat mereka semua. Setelah itu, ia mengumumkan ke seluruh warga Kabupaten Bohai bahwa mulai saat itu—siapapun yang membawa peralatan pertanian adalah warga negara yang baik dan tidak akan ditangkap. Hanya mereka yang membawa-bawa senjata yang akan dianggap sebagai perampok. Gong juga membuka lumbung yang besar dan memberi gandum dan benih tanaman bagi siapapun yang mau bekerja.

Kota segera menjadi tenang. Banyak perampok yang meletakkan senjata mereka, mengambil peralatan pertanian sebagai gantinya—dan mengunjungi lumbung untuk mendapatkan benih. Demikianlah Gong berhasil mengatasi krisis perampokan di Kabupaten Bohai tanpa menggunakan kekerasan sedikit pun.

Selama berada di sana, Gong juga menunjuk beberapa pejabat yang dianggapnya jujur, untuk menenangkan masyarakat. Gong mengajari masyarakat untuk berhemat, dan membangkitkan ulang semangat mereka untuk bercocok tanam. Ia menghimbau agar setiap keluarga menanam pohon buah, palawija dan bawang. Selain itu, setiap keluarga juga diminta memelihara dua babi betina dan lima ekor ayam, mendorong mereka untuk mengerjakan tanah selama musim semi dan musim panas, serta memanen di musim gugur.

Ketika melihat beberapa orang masih membawa pisau atau pedang, Gong menyarankan mereka untuk menjual pedang tersebut agar ditukar dengan sapi atau anak sapi. Selain itu, ia juga mendorong warga untuk menyimpan kacang, kastanye, dan produk pertanian lainnya. Seiring waktu, orang-orang di daerah Bohai telah memiliki tabungan, hingga tingkat kejahatannya menurun drastis.

Rendah Hati dan Dermawan

Beberapa tahun kemudian, Kaisar Xuandi meminta Gong untuk kembali ke ibukota. Wang Sheng, seorang pejabat yang bekerja untuk Gong, ingin ikut. Tetapi pejabat lain menentang hal itu, karena Wang sering minum terlalu banyak.

Gong yang baik hati, ingin memberikan Wang kesempatan dan tetap mengajaknya ke ibukota. Namun sesampainya di ibukota, Wang masih saja minum setiap hari hingga mabuk.

Suatu hari, Kaisar Xuandi memanggil Gong ke istana. Sebelum sampai ke istana, Gong bertemu dengan Wang yang sedang mabuk. Dalam kemabukannya, ia memberi Gong nasehat, “Jika Kaisar bertanya padamu bagaimana kamu menangani Bohai, katakanlah ‘bukannya saya mampu. Keberhasilan itu karena kebajikan Yang Mulia’.”

Seperti yang diramalkan Wang, Kaisar bertanya tentang Bohai dan Gong menjawab seperti saran Wang. Kaisar merasa senang akan jawaban ini dan bertanya pada Gong bagaimana ia bisa begitu rendah hati.

Gong memberitahu Kaisar bahwa adalah Wang yang menyarankan hal ini padanya. Kaisar terkesan dengan kejujuran dan kedermawanan Gong, yang selalu menghargai bawahannya. Karena Gong sudah sangat tua saat itu, Kaisar memberinya tugas untuk mengelola dekorasi taman kerajaan, kuil kerajaan, dan upacara, sementara Wang yang cerdas ditunjuk menjadi wakil Gong.