Bahasa Tiongkok dipenuhi dengan idiom yang penuh warna. Idiom-idiom ini berasal dari cerita rakyat, adat setempat, peristiwa sejarah, dan banyak sumber lainnya. Kali ini kita akan membahas idiom: 才高八斗 (Talenta 80 Liter), yang dilatarbelakangi cerita Cao Zhi yang nyaris dibunuh kakaknya sendiri.
Negarawan brilian dari Masa Tiga Kerajaan, Cao Cao, adalah ayah dari tiga orang putra, yang mempunyai kelebihannya masing-masing. Yang paling bungsu adalah Cao Zhi.
Cao Zhi selalu menjadi kesayangan ayahnya walaupun dia punya banyak kekurangan. Dia adalah seorang pemabuk dan sangat gegabah. Namun, dia juga adalah seorang yang jenius.
Di sisi lain, anak sulung Cao Pi, adalah orang yang serakah akan kekuasaan dan kurang peduli pada saudara-saudaranya. Telah lama tahu bahwa ada kemungkinan bahwa dia akan dilangkahi oleh saudaranya dan tidak menjadi penerus kekuasaan ayahnya, dia mengambil keuntungan dalam setiap kesempatan untuk bisa mendepak adik bungsunya.
Di malam ketika Cao Cao sekarat, setelah pertimbangan yang matang, negarawan tua ini akhirnya menurunkan kekuasaannya kepada putranya yang tertua. Masih iri dan merasa tidak aman, Cao Pi tak tahan ingin menyingkirkan adiknya untuk selamanya. Dia juga tidak bisa melakukannya secara langsung, karena itu adalah sesuatu yang bakal ditentang banyak orang. Jadi dia membuat rencana jahat.
Setelah ayahnya meninggal, Cao Zhi yang muda, minum sampai agak mabuk, dan sama sekali tidak menghadiri pemakaman. Melihat kesempatan ini, Cao Pi menyeret saudaranya ke pengadilan dan membuat syarat untuk membebaskannya dari hukuman: gubah sebuah puisi empat baris dalam waktu tujuh langkah, atau anda harus membayar dengan nyawa anda. Topiknya? “Persaudaraan.” Oh, dan anda tidak boleh menyebutkan kata saudara satu kalipun di dalam puisi. Mulai!
Cao Zhi, sang ahli metafora, kemudian mengucapkan bait-bait ini:
Kacang direbus untuk dijadikan sup.
Tangkai pohon kacang dibakar untuk menyalakan api dalam tungku,
Wahai batang, kamu tahu akar kita sama,
Jadi mengapa kamu mau menyiksa dengan merendahkan diri?
Terguncang perasaannya disertai kekaguman, Cao Pi membiarkan adik bungsunya bebas.
“Syair Empat Baris dalam Tujuh Langkah” telah menjadi karya dari Cao Zhi yang paling terkenal. Pada saat itu, Cao Zhi yang sudah menulis esai spektakuler pada usia 10 tahun dan bisa menghafal lebih dari 10.000 baris puisi pada usia 20, telah menjadi representatif penyair pada masanya sama seperti ayahnya yang seorang negarawan panglima perang. Melalui berbagai dinasti sampai sekarang, sekitar dua ribu tahun kemudian, keduanya telah dimuliakan sebagai orang dengan bakat besar.
Seorang sarjana di kemudian hari menulis bahwa jika ada 100 liter bakat diantara manusia, 80 darinya adalah milik Cao Zhi (mungkin adalah versi kuno dari prinsip Pareto 80/20). Hal ini telah menjadi sebuah idiom “bertalenta delapan puluh liter,” cái gāo bā dǒu (才高八斗), yang berarti seseorang yang berbakat luar biasa. (Disadur dari Shenyun Blog)

