Budaya

Dengan Teguh Memperbaiki Kesalahan dan Selalu Meningkatkan Diri

Kaisar Tiongkok
Kaisar Tiongkok©pinclipart

“Berbuat salah adalah manusiawi,” adalah pepatah Tiongkok kuno. Ini menyiratkan bahwa bahkan seorang yang berbudi luhur pun pasti akan membuat kesalahan. Berbeda dengan orang biasa, orang bijak lebih cenderung melihat ke dalam, memperbaiki kesalahannya dan memperbaiki dirinya sendiri. Itu sebabnya dia hebat dan bijaksana.

Orang bijak kuno masa lalu menyarankan agar kita “menerima nasihat dengan lapang dada.” Kaisar Tang Taizong (23 Januari 599 – 10 Juli 649) adalah kaisar kedua Dinasti Tang. Nama aslinya adalah Li Shimin, yang berarti “melayani negara dan membawa perdamaian bagi rakyat.” Dari semua kaisar dalam sejarah Tiongkok kuno, dia dikenang sebagai yang terbaik dalam menerima saran dan dengan demikian dia memberikan contoh yang baik kepada kaisar-kaisar di masa mendatang.

Dia mendorong para pejabatnya untuk memberikan saran dan masukan serta kritik. Ketika pejabat menyampaikan pendapat mereka atau menunjukkan kesalahannya, dia dengan tulus menjawab, “Apa yang anda katakan masuk akal. Akulah yang tidak berpikir dengan hati-hati.” Ketika orang mengkritik Kaisar Tang Taizong tanpa alasan, beberapa pejabat menyarankan agar ia menghukum mereka.

Tang Taizong menjawab, “Saya tidak bisa melakukan itu. Jika saya menghukum mereka, tidak ada yang berani menunjukkan kesalahan saya.” Karena Dinasti Tang memiliki seorang kaisar yang bijaksana dan banyak pejabat berbudi luhur, pemerintahnya tidak korup, negaranya stabil, dan rakyatnya hidup damai. Itu adalah era yang makmur bagi Dinasti.

Tentang memberi atau menerima saran, seseorang harus melakukannya tanpa rasa takut dan menempatkan kebaikan orang-orang di atas segalanya. Qi Xuanwang (sekitar 350-301 SM, diberi nama Tian Bijiang) adalah raja Qi (salah satu dari Tujuh Negara Berperang). Dia memerintahkan agar istana dibangun kembali. Setelah tiga tahun pekerjaan itu masih belum selesai, tetapi tidak ada satu pun pejabat yang berani memberikan saran kepada raja. Seorang pria bernama Chun Ju khawatir bahwa keterlambatan pembangunan dapat menguras sumber daya negara.

Dia mempertaruhkan hidupnya untuk memberikan nasihat kepada Qi Xuanwang dan berkata, “Jika raja suatu bangsa tidak mempertimbangkan kemampuan rakyatnya untuk menahan diri atas sesuatu yang tidak wajar, apakah raja itu berbudi luhur?” Qi Xuanwang menjawab, “Tidak, raja tidak berbudi luhur.” Chun Ju mengajukan pertanyaan lain, “Yang Mulia sekarang membangun kembali sebuah istana besar di lebih dari seratus hektar tanah, dengan tiga ratus gerbang. Sebuah negara sebesar Qi bahkan tidak mampu menyelesaikan renovasi sebuah istana dalam tiga tahun, namun belum ada pejabat berani memberikan nasihat. Apakah Yang Mulia benar-benar mempunyai pejabat? ” Qi Xuanwang ragu-ragu sejenak dan menjawab, “Tidak, saya tidak punya.” Chun Ju meminta izin untuk pergi, lalu berbalik dan pergi.

Qi Xuanwang tiba-tiba mengerti, jadi dia bangkit dengan cepat dan berteriak, “Tuan Chun, tolong kembali! Mengapa anda tidak menasihati saya dari dulu? Saya akan mengeluarkan perintah untuk segera menghentikan pembangunan.” Dia kemudian memberi tahu para pejabatnya, “Tolong catat ini dalam catatan sejarah negara bagian bahwa saya ingin menghentikan pembangunan istana dan bahwa saya tidak berbudi luhur karena memboroskan anggaran negara. Tuan Chun yang menghentikan saya.”

Untuk memperbaiki kesalahan dan meningkatkan diri, seseorang juga harus memiliki pikiran yang luas dan terbuka. Selama era Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing (1661-1722 A.D.), Zhang Ying dari Kota Tong Cheng adalah pejabat di Istana Wenhua dan Sekretaris Kementerian Ritus dan Pendidikan. Tetangga Zhang Ying adalah keluarga Ye yang terkemuka.

Pada suatu kesempatan, kedua keluarga itu berselisih tentang pembatas halaman mereka. Istri Zhang Ying segera mengirim surat kepada suaminya untuk mengadu. Setelah membaca surat itu, Zhang Ying membalas surat istrinya seperti ini: “Dinda menulis surat kepada saya dari ribuan mil jauhnya hanya untuk mengadu tentang sebidang tembok? Tidak ada salahnya mundur tiga meter. Tembok Besar Tiongkok masih berdiri, walaupun Kaisar Qin sudah tidak ada. ” Oleh karena itu, Zhang memerintahkan para pekerja untuk mundur tiga meter untuk membangun tembok. Keluarga Ye sangat tersentuh oleh sikap ini dan memerintahkan tukang bangunan mereka untuk mundur tiga meter juga. Kedua keluarga itu menjadi tetangga yang baik.

Ketika seseorang mampu memperbaiki kesalahannya dan meningkatkan dirinya sendiri, dia benar-benar bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Dan untuk dapat mencapai itu, seseorang tidak perlu khawatir atas kesalahannya. Dan akan lebih buruk jika menutupi kesalahan itu sendiri. Seseorang harus mengingat, mengikuti, dan melaksanakan prinsip-prinsip meningkatkan diri sendiri setiap saat dan dalam segala keadaan. Bagi mereka yang telah melakukan kesalahan serius, implikasinya jauh lebih signifikan.

Ada pepatah kuno: “Tidak peduli seberapa besar kesuksesan yang telah diraih seseorang, itu tidak akan membuat dirinya menjadi mulia. Dan tidak peduli seberapa serius kejahatan yang telah dilakukan seseorang, itu tidak dapat membuat dirinya menjadi hina.” Karena ketika dia menyesali kesalahannya dan dengan teguh memperbaiki dirinya, maka itu adalah tanda kebijaksanaan. Sebaliknya, jika seseorang terus menjadi sombong, tidak mampu melangkah keluar dari “diri sendiri” dan “keegoisan,” dan terus mencari pembenaran atas perilakunya, maka ia akan sulit memiliki teman dan akan menuai apa yang ia tabur.

Zhou Liwang adalah Kaisar kesepuluh Zhou Barat dan memerintah selama hampir enam belas tahun. Dia adalah penguasa yang lalim dan dominan dan cukup bangga dengan kemampuannya untuk “mencegah kritik”. Meskipun orang-orang memiliki banyak keluhan, Zhou Liwang tidak akan membiarkan mereka berbicara dan memantau mereka yang mengkritiknya.

Segera setelah seseorang terdengar mengkritiknya, apakah itu seorang pejabat atau warga negara biasa, ia segera dihukum mati. Orang-orang tidak berani berbicara satu sama lain di jalan atau lebih-lebih, berdiskusi. Zhou Liwang lebih peduli “mencegah orang mengkritik dirinya daripada mengantisipasi sungai dari banjir.” Tiga tahun kemudian, mulai terjadi bencana banjir. Orang-orang tidak bisa lagi mentolerirnya. Mereka berkumpul di sekitar istana dan ingin membunuh Zhou Liwang. Para prajurit juga tidak mau melindunginya. Zhou Liwang ditinggalkan oleh sekutu dan keluarganya dan diasingkan ke Zhi.

Sejarah seperti cermin. Dan hasil akhir sangat tergantung pada kemampuan seseorang untuk menerima kritik. Kita harus memahami prinsip “Melakukan kesalahan adalah manusiawi, tetapi orang menghargai mereka yang mampu mengakui kesalahan dan bersedia berubah.” Kita seharusnya tidak takut membuat kesalahan. Kuncinya adalah mengetahui apa yang harus dilakukan ketika kita melakukan kesalahan. Beberapa orang takut mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan. Begitu mereka mendengar sesuatu yang menyentuh saraf, mereka menjadi marah dan mereka bahkan ingin menggertak orang lain dan membalas. Perilaku seperti ini tidak hanya akan melukai orang lain tetapi pada akhirnya akan melukai diri sendiri. Kita harus menjaga sikap yang benar dan melakukan yang benar, sambil terus meningkatkan tingkat pemikiran kita. Maka tidak ada yang bisa menghentikan kita untuk maju. (visiontimes/ron/ch)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI