Budaya

Dizi Gui (弟子规):Kesan Bukan Dibentuk Dalam Semalam

Konfusius
Konfusius (img: pngtree)

Menurut legenda, Konfusius yang agung belajar untuk tidak menilai seseorang dari kesan pertama setelah meremehkan potensi sejati muridnya, Zi Yu.

Dizi Gui (弟子 规) (Standar untuk Menjadi Siswa dan Anak yang Baik) adalah bacaan Tiongkok kuno untuk anak-anak yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etiket. Ditulis oleh Li Yuxiu pada masa Dinasti Qing di masa pemerintahan Kaisar Kangxi (1661-1722).

Kita hidup dalam masyarakat yang bergerak cepat yang sangat bergantung pada kesan pertama — wawancara kerja, presentasi, iklan, dan sebagainya.

Akibatnya, ada kecenderungan dalam masyarakat kita untuk lebih menekankan pada “kesan pertama” sepintas daripada kualitas nyata dari pekerjaan atau karakter nyata seseorang. Kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk berusaha memberikan “kesan pertama” kita, dan cepat membentuk penilaian orang lain berdasarkan “kesan pertama” kita.

Kesan yang Tak Terlupakan Bukan Dibentuk Dalam Semalam

* Menurut Dizi Gui (弟子 规): “Semua manusia harus dicintai secara setara. Kita semua dilindungi oleh langit yang sama dan kita semua hidup di planet Bumi yang sama. Seseorang yang bermoral tinggi dengan sendirinya memiliki reputasi yang baik di antara orang-orang. Hal ini bukan ditentukan dari seberapa menonjol penampilannya. Seseorang dengan kemampuan hebat dengan sendirinya akan dikenal luas. Dihargai orang lain bukan berasal dari memuji atau membual tentang diri sendiri. ”

Tetapi pada akhirnya, kita tahu bahwa kesan pertama bukanlah indikator yang paling dapat diandalkan tentang seberapa baik seseorang sebenarnya. Indikator terbaik adalah waktu — dan seberapa konsisten kinerja seseorang selama itu.

Ini menandakan jika seseorang benar-benar pandai dalam sesuatu, orang lain akhirnya akan menyadari dan mengenalinya juga. Ilustrasi yang bagus dari prinsip ini adalah kisah tentang dua murid Konfusius — Zi Yu dan Zai Wo.

Menilai Buku dari Sampulnya

Konfusius yang agung dikatakan memiliki 3.000 murid, di antaranya adalah seorang pria bernama Zi Yu.

Sekilas, Zi Yu tampak seperti individu yang tidak terlalu mengesankan. Wajahnya kosong dan terlihat kusam, dan tampak canggung dalam ucapan dan gerakannya. Konfusius tidak memiliki kesan yang sangat baik tentang dia selama pertemuan pertama mereka, dan berpikir dia tidak memiliki kemampuan yang baik.

Sebaliknya, Konfusius memiliki murid lain, Zai Wo, penampilannya menawan, rapi dan sangat santun. Konfusius sangat terkesan dengan pengetahuan dan kefasihannya, dan Konfusius yakin bahwa dia adalah seorang bakat yang akan mencapai hal-hal besar.

Tetapi segalanya berubah sangat berbeda dari apa yang diprediksi Konfusius. Zi Yu terbukti menjadi siswa yang sangat pekerja keras dengan pikiran ingin tahu dan haus akan pengetahuan. Dia akhirnya menjadi cendekiawan terkenal, dan banyak cendekiawan muda mencarinya untuk diajari.

Zai Wo, di sisi lain, terbukti menjadi siswa yang pemalas dan tidak tertarik belajar. Terlepas dari upaya Konfusius untuk mengajarinya, ia hanya membuat sedikit kemajuan, dan tidak tergerak oleh peringatan Konfusius. Konfusius yang frustrasi akhirnya menjulukinya “batang kayu busuk yang tidak bisa diukir” — seseorang yang karakter intinya sangat buruk sehingga dia tidak bisa dirawat.

Berkaca dari kedua muridnya, Konfusius berkata, “Jika seseorang dinilai berdasarkan penampilannya, maka dia akan membuat kesalahan dalam penilaian seperti yang kualami dengan Zi Yu. Jika seseorang menilai bakat seseorang dengan kefasihannya, ia akan membuat kesalahan seperti yang kualami dengan Zai Wo.”

Dua murid Konfusius yang sangat berbeda ini mengilustrasikan satu prinsip: penampilan dan kesan pertama hanya berdampak sementara pada orang lain. Seiring waktu, kebaikan dan bakat sejati seseorang pada akhirnya akan terlihat orang lain, dan orang-orang akan menyadari nilai sebenarnya orang tersebut. (Jade Pearce/eva/epochtimes)

Lebih banyak artikel Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI