Site icon NTD Indonesia

Dizi Gui: Tidak Menyimpan Dendam

Tujuh tahun yang lalu, Malala Yousafzi, yang saat itu berusia 15tahun, mendapat pengakuan internasional karena menentang keras penindasan Taliban terhadap pendidikan wanita di tempat asalnya di Pakistan. Akibatnya, dia ditembak di kepala oleh seorang militan Taliban, namun upaya pembunuhan ini tidak berhasil. Terlepas dari kesembuhannya yang menyakitkan dan mengakibatkan cacat tetap, hingga hari ini Malala tidak membalas kebencian Taliban, juga tidak menyimpan dendam.

Tentang konfrontasi dengan Taliban, dia berkata, “Mereka datang untuk membunuh saya, tapi saya akan memberi tahu mereka apa yang mereka coba lakukan adalah salah, bahwa pendidikan adalah hak dasar kami”.

Karena itu, tidak mengherankan bahwa Malala adalah salah satu dari dua penerima Hadiah Nobel Perdamaian, meskipun usianya masih muda, ia menunjukkan karakter berbudi sejati.

Bukankah dia seorang pria terhormat yang membalas kejahatan dengan kebaikan dan kebaikan dengan kebaikan? (Pepatah Konfusius)

Menurut Dizi Gui* (弟子 规): “Saat hendak melakukan sesuatu pada orang lain, tanyakan dulu pada diri sendiri; jika anda tidak ingin itu dilakukan untuk diri anda sendiri, maka segera berhenti. Seseorang harus membalas kebaikan dan melepaskan dendam di hati.”

Dia tidak melakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin dia lakukan untuk dirinya sendiri. Dia menempatkan dirinya pada posisi orang lain, dan mempraktikkan toleransi dan pengendalian diri.

Salah satu orang yang mempraktikkan kebaikan dan pertimbangan untuk orang lain adalah Wang Wengru, seorang pejabat pengadilan selama Dinasti Han (206 SM-220 M).

Seorang pejabat dari Kabupaten Wei, Wang Wengru bertanggung jawab atas penangkapan para bandit. Sebelum masa Wang, jika bandit dieksekusi, anggota keluarga dan kerabat mereka akan mengalami nasib yang sama. Bahkan orang tua dan anak-anak tidak selamat.

Di banyak daerah, ribuan orang terbunuh hanya karena mereka dikaitkan dengan pelanggar hukum.

Namun, ketika Wang bertanggung jawab atas penegakan hukum, ia hanya mengeksekusi para bandit, sementara anggota keluarga mereka yang tidak terlibat, tidak dihukum.

Sayangnya, penilaian Wang yang adil pada akhirnya menyebabkan dia kehilangan pekerjaannya, dan dia dicopot dari status resminya karena “gagal menegakkan hukum”.

Namun Wang tidak ambil pusing akan keputusan atasannya. Ia berkata: “Dikatakan bahwa jika anda dapat membebaskan seribu orang, keturunan anda akan menerima berkah dan diberikan posisi yang lebih tinggi”. “Sekarang saya telah membantu begitu banyak orang bertahan hidup, keturunan saya akan makmur”.

Memang, cucu Wang menjadi Permaisuri, putranya serta beberapa cucu juga diberi gelar bangsawan.

Lu Mengzheng yang Ramah dan Murah hati

Tokoh sejarah lainnya yang mewakili kualitas toleransi dan tidak menyimpan dendam adalah Lu Mengzheng, seorang perdana menteri pada masa Dinasti Song. Lu adalah orang yang jujur dan murah hati, yang memperlakukan semua orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat.

Lu Mengzheng dikenal sebagai warga sipil pertama yang menjadi perdana menteri pada Dinasti Song

Selama beberapa hari pertama Lu di istana sebagai perdana menteri, berbagai pejabat datang untuk memberi selamat kepadanya. Namun, seorang pejabat membuat komentar sinis di depan Lu, “Bagaimana orang seperti ini menjadi perdana menteri?”

Lu mengabaikannya dan terus menyapa para pejabat lainnya dengan gembira. Rekan-rekan Lu sangat marah dengan komentar pejabat kasar itu, dan ingin mengetahui nama dan pangkatnya.

Tetapi Lu segera menghentikan mereka, mengatakan, “Jika saya tahu siapa dia, saya tidak akan pernah melupakannya. Lebih baik tidak tahu”. Ini membuat rekan-rekan Lu sangat mengagumi kebaikannya.

Lu selalu berusaha melupakan ejekan dan tidak menyimpan dendam, yang membuatnya disukai banyak orang. Dia adalah senior yang baik hati dan berbesar hati kepada bawahannya, dan sering mempromosikan orang-orang berbakat.

Namun, kepada Kaisar, ia justru suka berterus terang mengatakan apa adanya, dan tidak berusaha untuk menjilat kepada bosnya.

Suatu kali, Kaisar Taizong dari Song meminta Lu untuk merekomendasikan pejabat yang berbakat dan bertanggung jawab sebagai duta besar untuk Kerajaan Liao.

Lu merasa bahwa seorang pejabat bernama Chen adalah orang terbaik untuk pekerjaan itu, jadi dia menyerahkan nama Chen kepada Kaisar. Namun, Kaisar menolak rekomendasi Lu dan menyuruhnya mencari pengganti.

Keesokan harinya, Kaisar bertanya kepada Lu apakah dia telah menemukan duta besar. Sekali lagi, Lu menyerahkan nama Chen, yang ditolak oleh Kaisar lagi.

Pada hari ketiga, Kaisar mengajukan pertanyaan yang sama kepada Lu, dan Lu mengirimkan nama Chen lagi. Kali ini, Kaisar kehilangan kesabaran. Dia melemparkan laporan Lu ke tanah dan berkata dengan marah, “Mengapa kamu begitu keras kepala?”

Lu dengan tenang mengambil laporannya dan berkata dengan perlahan, “Yang Mulia, bukan aku yang keras kepala, tetapi anda yang kurang memahami. Chen adalah orang terbaik dan satu-satunya yang dapat menangani hubungan diplomatik dengan Kerajaan Liao. Tidak ada pejabat lain yang bisa dibandingkan dengannya”.

Kaisar bergegas keluar dari ruangan dengan gusar, tetapi akhirnya kembali dan berkata, “Kapasitas Lu Mengzheng untuk bersabar dan memaafkan jauh melampaui kemampuanku! Baiklah, saya akan mengikuti rekomendasinya!”

Chen akhirnya menjadi duta besar untuk Kerajaan Liao, dan – seperti yang diprediksi Lu – menyelesaikan tugasnya dengan luar biasa.

Seperti Malala, meskipun Lu baik dan toleran terhadap orang-orang di sekitarnya, ia tidak membiarkan orang lain mengintimidasi atau mengubah penilaiannya. Dia hanya berdiri tegar dengan tenang dan damai.

Lu juga tidak menaruh dendam terhadap pejabat yang kasar atau Kaisar, juga tidak mengubah sikapnya terhadap mereka. Kualitas-kualitas ini membedakannya sebagai pria sejati. (epochtimes/bud/ch)

*Dizi Gui ( 弟子 规 ) Standar untuk Menjadi Siswa dan Anak yang Baik) adalah teks Tiongkok kuno untuk anak-anak yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etika. Teks itu ditulis oleh Li Yuxiu di era Dinasti Qing pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi (1661-1722).