Dalam bab kelima Dizi Gui*, dituliskan penting bagi seseorang untuk memperhatikan perasaan orang lain. Untuk melakukannya, salah satu hal mendasar yang harus kita miliki adalah kesadaran akan suasana hati dan situasi orang tersebut.
Seperti yang disebutkan dalam Dizi Gui: Ketika seseorang sibuk, jangan ganggu dia dengan hal remeh temeh. Ketika seseorang bermasalah, jangan ganggu dia dengan ocehan. “Jika kita tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu kondisi seseorang, paling tidak yang kita bisa lakukan adalah meminimalisir rasa stressnya.”
Memberi Nasihat pada Waktu yang Salah
Kaisar Ming adalah kaisar kedua dari Negara Cao Wei selama Periode Tiga Kerajaan. Selama masa pemerintahannya, salah satu putri tercintanya meninggal.
Kaisar yang sangat berduka memutuskan untuk mengadakan pemakaman untuknya, dan menyatakan keinginannya untuk secara pribadi memimpin prosesi pemakaman untuk mengantarkan puterinya pergi pada perjalanan terakhirnya.
Mendengar hal ini, salah satu menteri, Yang Fu, berkata kepada kaisar, “Di masa lalu, ketika orang tua anda — Kaisar dan Permaisuri Kaisar sebelumnya — meninggal, Yang Mulia tidak secara pribadi memimpin prosesi pemakaman mereka. Itu tidak pantas jika anda menunjukkan perlakuan istimewa terhadap putri anda dibandingkan dengan Kaisar dan Permaisuri Kaisar sebelumnya”.
Tetapi kaisar terlalu sedih untuk mengindahkan kata-kata Yang, dan dia memutuskan untuk mengabaikan nasihat Yang.
Namun, Yang terus mengemukakan masalah ini. Sang kaisar yang terusik akhirnya kehilangan kesabaran dan mencopot Yang Fu dari status menteri, mengusirnya dari istana.
Menilai Kekuatan Atas Kekurangan
Kita juga harus memastikan bahwa hal-hal yang kita katakan tidak mencelakakan orang lain.
Seperti yang dijelaskan di Dizi Gui, “Ketika orang memiliki kekurangan, jangan mempublikasikannya. Ketika orang memiliki rahasia, jangan memberi tahu yang lain”.
Mengutarakan dan menyebar kekurangan seseorang dapat memberikan pendengar penilaian yang menyimpang dan tidak adil bagi orang itu.
Sebaliknya, Adipati Huan (齐桓公) — penguasa Negara Qi — memilih untuk fokus pada aspek positif orang itu, yang membantunya membuat keputusan yang tepat.
Di awal periode Musim Semi dan Musim Gugur, Adipati Huan mulai membangun kekuasaan atas negara-negara sekitarnya. Untuk menyelesaikan penaklukannya, ia mencari bakat dari seluruh negeri untuk membantu rencananya.
Dalam pencariannya, sang adipati menemukan seorang pria bernama Ning Qi, yang karakter dan kemampuannya sangat mengesankan sang adipati. Adipati Huan memutuskan untuk mempercayakan misi penting kepadanya.
Setelah mengetahui hal ini, penasihat adipati panik dan memperingatkan sang adipati, “Ning Qi sebelumnya adalah warga Negara Wei. Sebelum mempercayainya, Yang Mulia harus mengirim informan ke Negara Bagian Wei untuk mengumpulkan informasi tentang Ning Qi, untuk mencari tahu apakah dia benar-benar sebagus kelihatannya”.
Adipati Huan menjawab, “Itu bukan ide yang bagus! Saya percaya bahwa kita semua pernah membuat kesalahan kecil sebelumnya. Namun, kebanyakan manusia hanya akan mengingat kesalahan sepele yang dilakukan seseorang, dan mereka melupakan bakat dan kekuatan individu tersebut. Itu sebabnya banyak penguasa kesulitan menemukan orang yang berbakat”.
Maka Adipati Huan melanjutkan rencananya, dan seiring waktu Ning Qi membuktikan dirinya sebagai individu yang sangat mampu dan berbakat. Dengan bantuannya, sang adipati berhasil menyelesaikan penaklukannya.
Sang adipati sepenuhnya menyadari bahwa tidak ada orang yang sempurna, dan gosip negatif atau kabar angin tentang seseorang bukanlah representasi adil dari karakter sejati orang itu. Dalam hal yang sama, kita harus mempertimbangkan dan menahan diri untuk tidak mempublikasikan kekurangan orang lain, sehingga kita tidak secara salah membiaskan pandangan orang lain terhadap mereka. (epochtimes/bud/ch)
*Dizi Gui ( 弟子 规 ) Standar untuk Menjadi Siswa dan Anak yang Baik) adalah teks Tiongkok kuno untuk anak-anak yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etika. Teks itu ditulis oleh Li Yuxiu di era Dinasti Qing pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi (1661-1722).

