Pernahkah anda digosipkan, dan bahkan pada hal-hal yang tidak benar?
Gosip adalah sesuatu yang sering kita ucapkan sembarangan — kita begitu antusias bertukar desas-desus tentang ini itu. Dan terkadang, desas desus ini bisa menyebar seperti api.
Tetapi apakah anda pernah digosipkan tentang hal-hal yang tidak benar? Apa pun itu, itu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan dan mengecewakan.
Dalam Bab 4 dari Dizi Gui*, tertulis bahwa “ketika masih tidak yakin dengan apa yang anda lihat maka jangan katakan. Saat masih tidak yakin dengan apa yang anda ketahui maka jangan sebarkan”.
Setiap orang harus melatih kehati-hatian dan tanggung jawab dalam hal-hal yang dikatakannya. Mengulangi desas-desus dan kebenaran yang setengah-setengah dapat menyebabkan banyak kerugian dan kesedihan bagi orang lain, terutama jika hal-hal yang dikatakan itu tidak dilihat sendiri.
Setiap orang harus selalu berhati-hati dan bertanggung jawab dalam hal-hal yang dia katakan dan janji yang dia buat.
Berhati-hatilah dengan perkataan sekaligus janji — kita seharusnya tidak menganggap enteng. Seperti yang disebutkan dalam Dizi Gui, “Jika diminta melakukan sesuatu yang tidak pantas atau buruk, saya tidak akan menyetujuinya. Jika saya melakukannya, saya pasti yang salah tak peduli apakah saya menepati janji atau menghindar darinya.”
Berikut adalah beberapa kisah dari para pria sejati di Tiongkok kuno yang berhati-hati dalam perkataan mereka:
Zhi Buyi Menghentikan Desas Desus dengan Seketika
Zhi Buyi (直 不 疑) adalah seorang mantan pejabat dari periode Han. Dia adalah seorang pelajar yang giat dan seorang pria yang jujur, setia, membenci ketenaran dan keserakahan.
Istana kemudian mempromosikan Zhi Buyi untuk menempati posisi pejabat tinggi. Ini membuat beberapa orang iri kepadanya, dan mereka mulai menyebarkan desas-desus tentangnya: “Meskipun Zhi Buyi kelihatannya bersih, perilakunya benar-benar rusak, dan dia memiliki hubungan yang tidak pantas dengan istri saudara laki-lakinya”.
Desas-desus ini menyebar dari satu orang ke orang lain, dan tak lama kemudian hampir semua orang mendengarnya.
Desas desus itu akhirnya sampai ke telinga Zhi Buyi, yang kemudian berkata, “Orang-orang ini penuh dengan omong kosong. Saya bahkan tidak memiliki saudara laki-laki!” Desas-desus akhirnya reda.
Kisah ini menggambarkan bahwa ketika kita mendengar tentang gosip dan jika tidak ada dasarnya, kita tidak boleh mempercayainya terlalu cepat atau dengan sembarangan menyebarkannya. Dengan demikian, kita harus bertanggung jawab karena menimbulkan banyak kerusakan dan kerugian.
Setia terhadap Janji yang Diucap
Pada masa Dinasti Han di Tiongkok kuno, ada seorang pria bernama Zhao Rou (赵 柔) yang terkenal dengan pengetahuannya yang luas dan karakter moralnya yang tinggi.
Suatu hari, Zhao Rou dan putranya pergi ke pasar untuk menjual bajak.
Seorang lelaki menyatakan minat untuk membelinya, dan setelah tawar-menawar mereka
sepakat dengan harga 20 gulungan sutra (gulungan sutra adalah mata uang yang
digunakan selama Dinasti Han). Pria itu kemudian pergi untuk mengambil gulungan
sutra yang perlu dibayarkan.
Beberapa saat setelah dia pergi, seorang pedagang datang. Dia segera menyadari
bahwa bajak itu memiliki kualitas yang baik dan sebenarnya jauh lebih berharga,
dan dia menawarkan 30 gulungan sutra untuk ditukar dengan bajak.
Putra Zhao Rou ingin menjual bajak itu kepada sang pedagang, tetapi Zhao Rou berkata, “Ketika seseorang memberikan janjinya, ia harus tetap setia padanya. Bagaimana engkau bisa mengesampingkan kepercayaan dengan imbalan sedikit keuntungan lebih?, Ia akan sangat kecewa”
Pembeli pertama kemudian kembali, dan Zhao Rou dan putranya menjual bajak mereka kepadanya.
Beberapa orang akan berpikir bahwa apa yang dilakukan Zhao Rou adalah bodoh. Tapi Zhao Rou memberi kita pelajaran yang baik: sedikit keuntungan ekstra berlangsung untuk sementara waktu, tetapi kepercayaan bisa bertahan seumur hidup.
Karena itu, seorang pria sejati selalu bertanggung jawab dan berhati-hati tentang hal-hal yang dia katakan dan janji yang dia buat. (Jade Pearce/epochtimes/bud/eva)
*Dizi Gui ( 弟子 规 ) Standar untuk Menjadi Siswa dan Anak yang Baik) adalah teks Tiongkok kuno untuk anak-anak yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etika. Teks itu ditulis oleh Li Yuxiu di era Dinasti Qing pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi (1661-1722).

