Site icon NTD Indonesia

Dizi Gui: Mempelajari Teori dan Melaksanakan Praktek

Teori dan praktek harus seimbang

Teori dan praktek harus seimbang. (Epochtimes)

Dizi Gui (Standar untuk Menjadi Siswa dan Anak yang Baik) adalah teks Tiongkok kuno untuk anak-anak yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etika yang baik. Itu ditulis pada masa Dinasti Qing pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi (1661-1722) oleh Li Yuxiu.

Pengetahuan tidak ada nilainya kecuali anda mempraktikkannya.

Sejak zaman kuno, orang yang mengejar pengetahuan dan pendidikan telah dianggap sebagai orang terpandang. Namun yang menarik adalah pada baris pertama bab ini mengingatkan agar tidak sekadar mempelajari buku dan teori. “Jika seseorang hanya mempelajari buku dan teori, tetapi tidak mempraktekkan apa yang dipelajarinya, maka dia hanyalah seorang pintar yang dangkal… seperti tong kosong yang berbunyi nyaring…”

Strategi Lengan Kursi

Ada pepatah Tiongkok yang terkenal, yaitu “Membahas taktik militer di atas kertas”. Ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang hanya tahu bagaimana terlibat dalam diskusi teoritis, tetapi tidak pernah terjun ke lapangan, sehingga pendapatnya tidak bisa diterapkan di lapangan.

Ungkapan ini berasal dari periode di saat Tiongkok sedang dilanda peperangan. Ketika negara Qin berperang dengan negara Zhao. Tentara Qin yang dipimpin oleh Jenderal Wang He telah merebut salah satu provinsi Zhao, yaitu Shangdang dan berencana untuk menyerang lebih jauh ke Changping.

Jenderal Zhao, Lian Po, harus mempertahankan Changping dari pasukan Qin. Meskipun Jenderal Wang berulang kali menantang tentara Zhao untuk pertempuran lapangan terbuka, Lian Po yang cerdas dan berpengalaman menolak untuk bertempur secara langsung di lapangan terbuka melawan tentara Qin.

Segera setelah itu, beredar rumor di seluruh Negara Bagian Zhao bahwa “Jenderal Lian Po terlalu tua dan jompo untuk memimpin pasukan; Dan benar-benar ditakuti oleh Qin adalah Zhao Kuo”

Zhao Kuo sebenarnya adalah putra seorang jenderal terkenal. Zhao Kuo mempelajari ilmu militer sejak muda, ia adalah seorang pembicara yang fasih dan meyakinkan ketika berbicara tentang strategi militer. Namun Zhao Kuo adalah seorang yang sombong dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia bahkan menganggap dirinya jauh lebih unggul dari ayahnya sendiri, seorang jenderal berpengalaman.

Raja Zhao secara pribadi memanggil Zhao Kuo dan bertanya apakah dia bisa mengusir tentara Qin.

Zhao Kuo membual, “Jika Qin mengirim jenderal terhebat mereka, yaitu Bai Qi, maka hal ini akan menjadi sedikit lebih sulit. Tapi kali ini mereka mengirim Wang He dan dia hanya sebanding dengan Lian Po. Jika saya berada di posisi Lian Po, saya pasti bisa mengalahkan Wang He dengan mudah! “

Dengan senang hati, Raja Zhao segera mempromosikan Zhao Kuo menjadi jenderal papan atas, dan mengirimnya untuk menggantikan Lian Po.

Dengan gembar-gembor yang hebat, Zhao Kuo memimpin pasukan berkekuatan 400.000 orang lengkap dengan kereta perang menuju Changping. Di sana, dia mematahkan semua perintah Lian Po, dan mengeluarkan perintah baru, “Jika pasukan Qin menantang kita, kita akan pergi untuk bertempur dengan mereka. Kita akan mengejar mereka sampai tidak ada satupun prajurit mereka yang tersisa!”

Tetapi ketika Raja Qin mendengar bahwa Zhao Kuo telah menggantikan Lian Po, dia merasa senang karena rencananya telah berhasil. Dengan cerdik, dia mengirim Jenderal Bai Qi bukannya Wang He untuk bertempur melawan tentara Zhao.

Bai Qi meletakkan sebagian besar pasukannya untuk penyergapan dan berpura-pura kalah serta melarikan diri dari beberapa pertempuran pertama. Ketika Zhao Kuo yang naif dan kurang pengalaman di lapangan terdesak oleh pasukan Qin, mereka jatuh ke penyergapan Qin yang membagi tentara Zhao menjadi dua kelompok.

Dikelilingi oleh pasukan Qin dengan hanya separuh anak buah, Zhao Kuo tidak punya pilihan selain menunggu bala bantuan. Tetapi tentara Qin sekali lagi selangkah lebih maju, mereka memutus rute untuk bala bantuan dan persediaan tentara Zhao.

Selama empat puluh hari pasukan Zhao menderita dan akhirnya Zhao Kuo memutuskan untuk menyerang menerobos blokade Qin. Dia kemudian dibunuh oleh pasukan Qin. Ketika jendral mereka mati, tentara Zhao melemparkan senjata mereka dan menyerah.

Seperti yang pernah dikatakan Anton Chekov, “Pengetahuan tidak akan bernilai kecuali anda mempraktikkannya.” Setelah mempelajari teori dari buku-buku ayahnya, Zhao Kuo adalah “ahli strategi kursi” yang klasik dengan nol pengalaman praktis dalam perang terbuka. Tentara Zhao yang berkekuatan 400.000 dengan mudah dihancurkan di tangan jenderal mereka yang tidak kompeten.

Kisah Zhao Kuo ini cukup terkenal, sehingga berkembang menjadi pepatah Tiongkok, yaitu terkenal dengan istilah “perang kertas”. Pepatah Cina: “Membahas taktik militer di atas kertas”, menggambarkan seseorang yang hanya tahu bagaimana terlibat dalam diskusi teoritis, tetapi tidak memahami lapangan, sehingga pendapatnya tidak bisa diterapkan di lapangan.

Prajurit yang Tidak Berpendidikan

Hal sebaliknya juga sama merugikan, yaitu hanya melakukan praktek tanpa peduli dengan teori ilmu pengetahuan. “Jika seseorang hanya bekerja keras tanpa belajar, maka orang ini hanya memiliki pandangannya untuk diandalkan dan tetap tidak tahu inti persoalan yang sebenarnya.” [Dizi Gui]

Ada seorang jenderal militer Lu Meng yang bertugas di bawah panglima perang Sun Quan selama periode Tiga Kerajaan. Di awal karirnya, meskipun terkenal karena keberanian dan keterampilan bertarungnya, Lu sering dipandang rendah sebagai “pejuang yang tidak berpendidikan” karena kurangnya keterampilan literatur.

Pada kenyataannya panglima Sun Quan menganggap jendral Lu Su tidak berpendidikan sehingga ia enggan berdiskusi dengannya dan menganggap hal itu hanyalah membuang-buang waktu.

Pada awalnya Lu beralasan bahwa dia “terlalu sibuk” dan tidak punya waktu untuk mempelajari buku. Dia lebih memilih untuk melatih keterampilan bertarungnya. Tetapi dengan dorongan Sun Quan, Lu akhirnya mulai menggunakan waktu dan energi yang tersisa untuk mempelajari buku-buku militer.

Perlahan-lahan Lu menjadi pemimpin yang terpelajar dan kompeten, akhirnya berhasil Lu Su menjadi komandan garis depan pasukan Sun Quan. Di saat-saat terakhir kariernya yang sukses, ia memimpin invasi yang dilakukan dengan hati-hati ke wilayah Liu Bei di Provinsi Jing, mengalahkan dan merebut semua tanah dari jendral Liu Bei, Guan Yu.

Untuk pengembangan diri, kita perlu mencapai keseimbangan optimal dari pengetahuan dan praktik secara konsisten. Lu melanjutkan belajar bahkan di tahun-tahun terakhirnya. Ia membuat rangkuman mengenai seseorang yang mencurahkan upaya yang setara untuk teori dan praktik. Kualitas yang menentukan inilah terbukti menjadi kunci pencapaiannya yang luar biasa.

Dengan terus-menerus memperluas pengetahuannya, jenderal Tiongkok Lü Meng berubah dari “prajurit yang tidak berpendidikan” menjadi salah satu jenderal paling sukses di Tiongkok.

Prinsip yang sama berlaku sepanjang sejarah… Presiden Amerika Abraham Lincoln yang hanya memiliki satu tahun pendidikan formal, namun memiliki minat bacanya yang besar, sehingga ia sangat berpengetahuan dan berpengalaman. Dan di zaman kita sekarang, CEO dari perusahaan Fortune 500 membaca rata-rata empat hingga lima buku dalan sebulan. Mengembangkan diri sendiri bukan hanya berlatih saja, tetapi juga tentang mendapatkan pengetahuan secara konsisten. (visiontimes/ron/ch)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI