Site icon NTD Indonesia

DiZi Gui: Mencintai Semua Orang dengan Adil

Dizi Gui (弟子规)

Dizi Gui (弟子规)

Mungkin yang ada dalam pikiran Anda hanya orang-orang suci yang mampu memiliki kemurahan hati dan belas kasih tanpa batas. Lalu bagaimana manusia biasa bisa mencapai taraf demikian?

Namun yang ingin disampaikan Dizi Gui* adalah bahwa hanya butuh perubahan kecil dan sederhana dari sikap seseorang untuk mencintai orang lain secara adil, tak memihak siapa pun dan tak mementingkan diri sendiri.

(*Dizi Gui (Standar untuk Menjadi Siswa dan Anak yang Baik) adalah teks Tiongkok kuno untuk anak-anak yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etika yang baik. Itu ditulis pada masa Dinasti Qing pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi (1661-1722) oleh Li Yuxiu.)

Pertama, saat membandingkan sesuatu, berpikirlah luas dan bukannya iri terhadap apa yang diraih orang lain. “Jika Anda di posisi atas, janganlah sombong. Jika orang lain yang berada di atas, jangan menjelekkan mereka.”

Kedua, bersikap netral dalam memperlakukan orang lain. “Jangan menjilat orang kaya atau memandang rendah orang miskin. Jangan membenci seseorang atau kejadian masa lalu; jangan iseng mencari kesenangan semata.”

Intinya, langkah pertama untuk mencintai semua orang adalah berlaku adil dan menghargai orang lain, yang dapat tercermin dalam tindakan dan pilihan kita sehari-hari. Sebuah kisah dari Zizhi Tongjian, sebuah catatan sejarah Tiongkok kuno yang menggambarkan prinsip-prinsip pemerintahan, bisa dijadikan panutan:

Suatu hari Kaisar Tang Taizong tiba di Istana Cuiwei. Beliau bertanya kepada pejabat yang menyambut,”Sejak jaman nenek moyang, meskipun banyak Kaisar dapat menaklukkan Tiongkok pusat, namun mereka gagal dalam menarik suku minoritas Rong ataupun Di untuk bergabung. Dibanding para pendahuluku, kemampuanku tidaklah seberapa, tapi saya mampu menyempurnakannya lebih baik dari mereka. Saya tidak ingin mengatakan jawabannya saat ini, namun saya ingin bertanya kepada anda sekalian untuk memberikan jawaban yang sebenarnya.”

Seluruh pejabat yang hadir menjawab,” Kebajikan Yang Mulia besarnya bagaikan langit dan bumi, sangat sulit untuk melukiskan dengan jelas dalam beberapa kata.”

Lalu Kaisar berkata,”Bukan itu. Ada lima alasan mengapa saya dapat menyempurnakan apa yang telah saya kerjakan.

–   Pertama, sejak dulu, banyak Kaisar selalu merasa iri terhadap talenta orang yang melebihinya; dilain pihak, saya sendiri menilai kemampuan orang lain sebagaimana menilai diri sendiri.

–   Kedua, tidak ada orang yang sempurna, jadi saya tidak menghiraukan kekurangan orang namun menggunakan kelebihannya.

–  Ketiga, ketika yang lainnya menemukan orang yang berbakat dan bijak, mereka ingin menguasainya dan mendepak orang yang kurang cakap, bahkan sampai berharap dapat mendorongnya kedalam jurang. Ketika saya bertemu seseorang yang berbakat, saya menghargainya dan kepada orang yang kurang cakap saya mengasihaninya. Dengan cara ini keduanya mendapat tempat yang semestinya.

–  Keempat, sebagian besar Kaisar terdahulu tidak menyukai orang yang lurus, jujur dan vokal. Bahkan dengan diam-diam menindasnya atau terang-terangan menghukumnya. Namun dalam pemerintahan saya, pengadilan dipenuhi oleh pejabat yang lurus, dan tak ada seorangpun yang melanggarnya.

–  Kelima, sejak dulu para Kaisar selalu menilai lebih tinggi wilayah Tiongkok pusat namun meremehkan suku minoritas Rong dan Di, dilain pihak saya memperlakukan mereka sejajar. Oleh karena itu mengapa mereka menghormati saya seperti orang tuanya sendiri. Inilah 5 alasan saya mengapa saya dapat menyempurnakan apa yang telah saya kerjakan saat ini.”  (Jade Pearce/epochtimes/eva)

Lebih banyak artikel Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI