Alkisah, ada sebuah gunung bernama Hirukurayama. Tempat tinggal orang suci, para bijak, juga bhikkhu. Sebagian besar bhikkhu ini berasal dari negeri delapan penjuru. Telah banyak orang mendengar nama besar gunung ini dan datang beribadah.
Seorang pengemis wanita muda yang yatim-piatu sejak kecil melihat pemandangan para umat masuk ke ruangan sembahyang. Dalam hati berpikir: “Mereka melakukan kebaktian, menghormati orang-orang kudus. Saya harus mengikutinya.”
Pengemis wanita melihat makanan yang akan disedekahkan sangat banyak. Dalam hatinya sangat kagum, ia tahu para umat yang kaya raya ini telah berbuat kebaikan di masa lalu, barulah kekayaan mereka berlimpah hari ini. Mereka kaya dan murah hati, kerap bersedekah memberi manfaat kepada orang lain, termasuk berderma makanan untuk Para Bhikku.
Pengemis wanita sedih memikirkan kondisi dirinya, kehidupan masa laluku tentunya tidak berbuat kebaikan, sehingga di kehidupan kini hina papa. Dia berpikir, jika saya tidak berbuat kebaikan di masa sekarang, kehidupan di masa depan akan lebih sulit lagi. Saat pengemis wanita berpikir dirinya tidak punya apapun untuk disedekahkan, ia sangat sedih.
Tiba-tiba ia terpikir dua keping uang yang ia temukan dari tempat sampah, ia sangat sayang dan tidak pernah mau membelanjakannya, sebagai simpanan saat dia tidak mendapatkan sedekah, ia tidak akan kelaparan.
Di akhir kebaktian, pengemis wanita ikut berbaris mendermakan 2 keping uang tersebut dengan hati yang sangat khidmat. Sesuai kebiasaan, sumbangan para dermawan akan diterima oleh para bikkhu dan dibalas dengan doa sebagai ucapan terima kasih.
Saat pengemis wanita menyerahkan dua keping uang, yang datang menerimanya ternyata kepala biara berpangkat tertinggi, ia membalasnya dengan doa, kepala biara ini tidak pernah melayani secara pribadi orang-orang yang mendermakan kekayaannya. Hal ini seketika menjadi perbincangan semua orang.
Setelah selesai mendoakan, kepala biara sengaja menyisakan setengah makanannya dan diberikan kepada pengemis wanita. Semua orang yang melihat mengikuti menyisakan setengah makanannya untuk pengemis wanita. Tentu saja pengemis wanita sangat senang mendapat makanan banyak sekali hari ini: Saya hanya sedikit berderma sudah mendapat balasan berkah sangat banyak.
Ia meninggalkan gunung Hirukurayama dan membawa serta makanan banyak sekali. Karena kelelahan, dia beristirahat di bawah pohon besar dan tertidur.
Di sini lain, permaisuri Negara tempat gunung Hirukurayama baru saja meninggal, raja diharuskan mencari penggantinya. Raja mengirim utusan, titah raja mencari seorang wanita dengan budi pekerti yang baik untuk dijadikan permaisuri. Saat utusan di tengah perjalanan, perdana menteri dari jauh melihat gumpalan awan kuning yang bergerak. Ia meramal dan berkata: “Ada seorang bijak di balik awan kuning.” Mereka menghampiri dan menemukan pengemis wanita yang sedang tertidur di bawah pohon besar. Meskipun lebatnya pohon menutupi cahaya matahari, bayangan sinar tetap disana. Perdana menteri berkata kepada utusan, “Wanita ini lah calon permaisuri.”
Pengemis wanita dibawa ke istana, dimandikan sampai harum, diberikan busana permaisuri. Aneh busana yang dipilihkan cocok dengan ukuran tubuh pengemis wanita. Ia dibawa ke hadapan Raja. Raja melihat wajah calon permaisuri dengan rasa sukacita, juga sangat menghormatinya. Pengemis wanita berubah menjadi permaisuri dalam semalam, juga sikap dan belas kasihnya sangat dicintai penghuni istana. (epochtimes/crl/chr)

