Budaya

Eksperimen Ilmiah Menunjukkan, Tanaman Memiliki Kesadaran

Ahli Poligraf, Cleve Backster
Ahli Poligraf, Cleve Backster. (Facebook/ CleveBackster)

Suatu pagi pada tanggal 2 Februari 1966, sebuah pikiran sekilas mendorong Cleve Backster, untuk menghubungkan tanaman Dracaena di kantornya ke alat pendeteksi kebohongan. Apa yang kemudian terjadi hari itu, jauh melampaui apa yang bisa dibayangkan oleh siapa pun.

Tanaman dan Detektor Kebohongan: Eksperimen yang Tidak Disengaja

Saat itu Backster adalah seorang veteran ahli poligraf (detektor kebohongan) CIA. Saat detektor kebohongan atau mesin poligraf dihubungkan ke tubuh manusia, suasana hati orang yang bersangkutan akan terpapar. Yang mengejutkan, hal yang sama ternyata dapat ditemukan jika subjeknya adalah sebuah tanaman. Misalnya, ketika sebuah tanaman disiram, tanaman itu kemudian menunjukkan reaksi yang tampak seperti sebuah rasa ‘kegembiraan’.

Tanaman memiliki ESP/ Extra Sensory Perception (Indera Keenam)

Penemuan luar biasa itu kemudian memicu keingintahuan Backster dalam menemukan reaksi tak terduga lainnya yang terjadi pada sebuah tanaman. Jadi, Backster memutuskan untuk mencelupkan daun dari tanaman yang sama ke dalam kopi panas, tapi sayangnya, hal itu tidak menghasilkan reaksi lanjutan.

Dia kemudian memutuskan untuk mencoba menginduksi lebih banyak perasaan pada tanaman, jadi dia bermaksud untuk membakar salah satu daunnya, namun bahkan sebelum dia menyalakan korek api, poligraf yang telah terhubung ke tanaman Dracaena tersebut, menunjukkan reaksi yang intens.

Ketika dia kembali dengan kotak korek api, dia melihat reaksi lain muncul. Tanaman itu tampaknya bisa merasakan kalau dia akan membakarnya, oleh karena itu, tanaman tersebut menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Bagi Backster, itu adalah bukti tak terbantahkan bahwa tanaman tersebut tidak hanya menunjukkan rasa takut tapi juga mampu membaca pikirannya atau mengetahui niatnya.

Jika dia menunjukkan keraguan atau keengganan untuk membakar tanaman, reaksi yang direkam oleh detektor kebohongan tidak jelas. Dan ketika dia hanya berpura-pura akan membakar daun itu, tanaman itu hampir tidak menanggapi. Tanaman itu bahkan bisa membedakan niat yang sungguh-sungguh dari suatu kepura-puraan.

Saat Tanaman Bertindak Sebagai Pendeteksi Kebohongan

Pada subjek manusia, poligraf mengukur tiga hal: denyut nadi, laju pernapasan, dan respons kulit galvanik, atau dikenal sebagai pengeluaran keringat. Saat Anda khawatir kebohongan Anda akan diketahui, level Anda akan melonjak atau turun.

Backster merancang eksperimen di mana dia menghubungkan detektor kebohongan ke sebuah tanaman dan kemudian mengajukan beberapa pertanyaan kepada seseorang. Hasilnya, Backster menemukan bahwa tanaman tersebut dapat mengetahui apakah orang tersebut berbohong atau tidak. Dia bertanya kepada orang tersebut tentang tahun kelahirannya, dia memberinya tujuh pilihan dan memerintahkan dia untuk menjawab “bukan” pada semuanya, termasuk satu jawaban yang benar. Ketika orang tersebut menjawab “bukan” untuk tahun lahir yang benar, tanaman bereaksi dan sebuah piramida runcing digambar di atas kertas.

Dr. Aristide Esser, kepala penelitian medis di Rumah Sakit Negara Bagian Rockland di New York, mereplikasi percobaan tersebut. Seorang pria diatur untuk menjawab beberapa pertanyaan di depan tanaman yang telah dia rawat sejak baru saja bertunas. Tanaman itu sama sekali tidak menutupi kebohongan pemiliknya. Jawaban yang salah tercermin dengan jelas pada grafik yang digambar di atas kertas. Esser, yang tidak mempercayai Backster, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa teori Backster itu benar.

Kemampuan Mengenali dari Sebuah Tanaman

Untuk memeriksa kemampuan pengenalan tanaman, Backster melakukan eksperimen lain di mana dia memanggil enam siswa, menutup mata mereka, dan meminta mereka mengambil selembar kertas dari sebuah topi. Setiap lembar kertas memiliki instruksi tertulis di atasnya, salah satunya memiliki instruksi untuk mencabut salah satu dari dua tanaman di ruangan itu dan kemudian menghancurkannya, dengan cara menginjaknya. ‘Si pelaku’ harus melakukannya sendiri, dan tidak ada yang tahu identitasnya, termasuk juga Backster. Dengan melakukan itu, tanaman yang lain tidak dapat merasakan siapa ‘pelakunya’ dari pikiran orang lain. Eksperimen itu dibuat sedemikian rupa sehingga si tanaman akan menjadi satu-satunya saksi.

Ketika satu-satunya tanaman saksi itu dihubungkan ke alat pendeteksi kebohongan, setiap siswa diminta untuk melewatinya. Tanaman tidak bereaksi terhadap lima siswa pertama. Ketika siswa yang melakukan “kejahatan” itu mendekat, pena elektronik itu mulai menggambar dengan panik. Reaksi ini menunjukkan bahwa tanaman memiliki kemampuan untuk mengingat dan mengidentifikasi orang atau benda yang telah merugikan mereka.

Sensitivitas Jarak Jauh

Tanaman memiliki ikatan yang erat dengan pemiliknya. Misalnya, ketika Backster kembali ke New York dari New Jersey, dia menemukan dari catatan di kertas grafik bahwa semua tanamannya telah merespons. Dia bertanya-tanya apakah tanaman akan menunjukkan bahwa mereka merasa “lega” atau “menyambut” dirinya ketika dia memutuskan untuk kembali. Dia memperhatikan bahwa saat tanaman bereaksi adalah saat dimana dia memutuskan untuk pulang.

Meskipun komunitas ilmiah kurang yakin dengan karyanya, keyakinan yang dimiliki Backster pada temuannya tidak pernah goyah. Dia terus merancang dan melakukan eksperimen sampai akhir hidupnya, memperluas teorinya tentang kesadaran non-manusia dan menemukan lebih banyak bukti tentang apa yang dia sebut sebagai interkoneksi fundamental antara semua makhluk hidup.

Dia pernah dikutip mengatakan, “Saya memiliki sekutu yang benar-benar luar biasa: Ibu Alam.”

Silahkan saksikan dokumenter singkat tentang eksperimen Backster:

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor