Site icon NTD Indonesia

Etiket Sumpit Tiongkok: 13 Pantangan dan Maknanya

sumpit (©unsplash)

sumpit (©unsplash)

Suasana di sebuah meja restoran di Beijing itu tadinya riuh. Lalu, seorang pengunjung yang sedang menunggu hidangan berikutnya menancapkan sumpitnya secara tegak lurus ke dalam mangkuk nasi dan melepaskannya begitu saja. Sumpit itu pun berdiri tegak, mencuat dari tumpukan butiran nasi putih. Tak ada seorang pun yang berkata apa-apa. Seorang wanita yang lebih tua mengambil sumpit itu dan meletakkannya melintang di tepi mangkuk. Pria itu sebenarnya tidak bermaksud kasar; ia hanya tidak tahu bahwa dalam etika sumpit Tiongkok, tindakan tersebut memiliki sebutan khusus.

Berikut ini adalah 13 pantangan terkait sumpit. Dua belas di antaranya berasal dari tradisi lisan yang tersebar luas, masing-masing memiliki nama Mandarin dan gambaran visual yang tersirat di dalamnya. Pantangan ke-13 adalah aturan tambahan yang muncul di meja makan masyarakat Tiongkok pada masa kini.

Mengapa etiket penggunaan sumpit Tiongkok begitu sarat makna

Untuk memahami mengapa sepasang sumpit bambu bisa menyimpan begitu banyak makna, ada baiknya kita mengetahui sudah berapa lama benda ini hadir di meja makan.

Sumpit tertua yang wujud fisiknya masih ada hingga kini berupa enam batang perunggu sepanjang kira-kira 26 sentimeter, yang ditemukan di Situs Yin (殷墟, Yinxu) dekat Anyang, Provinsi Henan. Benda-benda ini berasal dari sekitar tahun 1200 SM, pada masa Dinasti Shang. Menariknya, para ahli meyakini bahwa benda-benda tersebut bukanlah peralatan makan, melainkan alat masak untuk menjangkau makanan dari dalam panci berisi air mendidih. Panduan tertua mengenai penggunaannya pun memiliki usia yang hampir sama tuanya: kitab klasik Book of Rites (礼记, Lǐjì) menginstruksikan bahwa untuk menyantap sup berisi sayuran, seseorang harus menggunakan sumpit, sedangkan untuk sup tanpa sayuran, sumpit tidak digunakan.

Selama lebih dari 2.000 tahun, orang-orang telah diajarkan cara menggunakan benda ini. Pada masa Dinasti Han, sumpit mulai digunakan bersamaan dengan sendok di meja makan. Memasuki masa Dinasti Ming, penggunaan sumpit menjadi dominan, lengkap dengan nama dan bentuk modernnya. Sejarawan Q. Edward Wang menguraikan seluruh perjalanan sejarah ini dalam bukunya, Chopsticks: A Cultural and Culinary History, yang menjadi rujukan akademis utama.

Nama benda ini pun berubah seiring berjalannya waktu, dan penyebabnya adalah sebuah takhayul. Kata lamanya adalah zhù (箸), yang pelafalannya persis sama dengan kata zhù (住) yang berarti “berhenti.” Para awak perahu di sungai-sungai Tiongkok enggan menggunakan kata yang menyiratkan penghentian perjalanan mereka. Sebagai gantinya, mereka mengucapkan kata kuài (快) yang berarti “cepat.” Kemudian, ditambahkanlah aksara bambu (竹) di bagian atasnya, sehingga terciptalah kata kuàizi (筷子) yang kini digunakan oleh miliaran orang. Kebiasaan ini dicatat oleh seorang cendekiawan Dinasti Ming bernama Lu Rong dalam buku catatannya dari abad ke-15, Shuyuan Zaji 《菽园杂记》.

Itulah hal penting yang perlu dipahami. Etiket penggunaan sumpit Tiongkok bukanlah sekadar soal rewel mengenai peralatan makan. Kebiasaan ini lahir dari budaya yang memandang benda sebagai sesuatu yang mampu menggambarkan hal lain, dan gambar sebagai sesuatu yang mampu menarik hal-hal tersebut ke arah kita. Di baliknya terdapat konsep (礼), sebuah nilai kepatutan yang dianggap oleh para pemikir Tiongkok sebagai salah satu pilar kehidupan yang bajik. Meja makan adalah ruang kelas pertama tempat seorang anak mempelajari nilai ini.

Empat pantangan yang berkaitan dengan kematian

Empat dari 13 pantangan yang ada tidak berkaitan dengan kebersihan ataupun kebisingan. Pantangan-pantangan ini muncul karena gerakan atau posisi sumpit tertentu—jika dibiarkan diam sejenak—akan menyerupai bentuk lain.

1. 三长两短 (sān cháng liǎng duǎn): ‘Tiga Panjang, Dua Pendek’.

Jangan pernah membiarkan sumpit yang tidak cocok tergeletak di atas meja—misalnya satu lebih panjang dari yang lain, atau ada satu batang sumpit tambahan di samping sepasang sumpit lainnya.

Bentuk yang menyerupai hal itu adalah peti mati. Sebelum tutupnya dipasang, peti mati tradisional Tiongkok terdiri dari lima papan: dua papan pendek di bagian kepala dan kaki, serta tiga papan panjang yang membentuk sisi samping dan dasar peti. Tiga panjang, dua pendek. Frasa ini kemudian menjadi ungkapan umum dalam bahasa Mandarin untuk merujuk pada kematian mendadak atau musibah tak terduga, dan masih digunakan dalam percakapan sehari-hari, jauh dari konteks meja makan. Meletakkan sumpit berbeda sama saja dengan membentuk sketsa peti mati tersebut di hadapan tamu anda. Sejajarkanlah ujung-ujung sumpit sebelum anda meletakkannya. Para ahli cerita rakyat Tiongkok telah mendokumentasikan kepercayaan ini di kalangan keluarga diaspora sebagai bagian dari tradisi lisan yang masih hidup, yang diwariskan dari nenek kepada cucu, bukan melalui buku.

2. 当众上香 (dāng zhòng shàng xiāng): ‘Menancapkan Dupa di Depan Umum’

Jangan pernah menancapkan sumpit secara tegak lurus di dalam mangkuk nasi. Inilah pantangan yang secara tidak sengaja dilanggar oleh pengunjung di Beijing tersebut, dan merupakan hal yang hampir selalu disebutkan oleh pemandu wisata tanpa disertai penjelasan.

Dalam upacara pemakaman Tionghoa, maupun di altar rumah setelahnya, semangkuk nasi dipersembahkan kepada mendiang dengan dupa yang ditancapkan di dalamnya. Batang dupa tersebut berdiri tegak di antara butiran nasi. Dalam tradisi Tionghoa, dupa membawa pikiran dan doa keluarga kepada leluhur; itulah sebabnya bentuknya sangatlah penting. Sepasang sumpit yang ditancapkan secara vertikal ke dalam mangkuk nasi menciptakan gambaran persis seperti itu. Nama pantangan ini menjelaskannya dengan gamblang: anda sedang mempersembahkan dupa—di hadapan umum—kepada sosok yang tak terlihat (roh orang mati).

Ini adalah aturan yang paling ketat dan berlaku di seluruh wilayah pengguna sumpit—mulai dari Tiongkok hingga Jepang, Korea, dan Vietnam—di mana pun persembahan nasi menyertai prosesi kematian. Berhati-hatilah saat menyerahkan mangkuk berisi makanan kepada orang lain, karena di saat itulah kesalahan paling sering terjadi. Sebaiknya, letakkan sumpit melintang di tepi mangkuk atau di atas tatakan sumpit.

3. 交叉十字 (jiāo chā shí zì): ‘Menyilangkan Sumpit Membentuk Tanda Silang’

Jangan pernah membiarkan sumpit anda tergeletak bersilang di atas meja menyerupai karakter 十.

Dalam pandangan masyarakat Tionghoa zaman dahulu, tanda silang merupakan simbol pembatalan atau peniadaan. Tanda ini biasa digoreskan guru untuk mencoret jawaban yang salah, dan pernah pula muncul pada dokumen pengakuan yang diperoleh secara paksa di pengadilan. Menyilangkan sumpit berarti menggoreskan tanda tersebut di atas hidangan dan—secara tersirat—di atas orang-orang yang bersantap bersama anda. Orang lain akan menganggapnya sebagai penghinaan halus, sekaligus bentuk pelecehan terhadap diri sendiri karena membiarkan hal itu terjadi. Sebaliknya, letakkan sumpit secara sejajar dengan ujungnya mengarah menjauhi orang-orang di sekitar anda.

4. 落地惊神 (luò dì jīng shén): ‘Jatuh ke Lantai, Mengejutkan Para Roh’

Jangan pernah menjatuhkan sumpit anda ke lantai.

Para leluhur bersemayam di bawah tanah, dan mereka tidak boleh diganggu. Bunyi gaduh sumpit yang jatuh ke lantai di atas tempat peristirahatan mereka dianggap sebagai pelanggaran kecil terhadap bakti anak kepada orang tua, kebajikan keluarga Tionghoa yang paling mendalam. Jika hal ini terjadi, adat istiadat setempat menawarkan tindakan pemulihan, bukan sekadar sikap acuh tak acuh. Ambillah sumpit tersebut, buatlah tanda silang di lantai menggunakan ujung sumpit—dari timur ke barat lalu dari utara ke selatan—serta ucapkan permintaan maaf dalam hati kepada mereka yang bersemayam di bawah sana. Setelah itu, lanjutkan kembali santapan anda.

Tiga pantangan yang mencerminkan sikap tidak hormat

Tiga pantangan berikutnya berkaitan dengan orang yang masih hidup dan pesan yang disampaikan sumpit anda kepada mereka tanpa sepengetahuan anda.

5. 仙人指路 (xiān rén zhǐ lù): ‘Dewa Menunjukkan Jalan’

Jangan pernah menunjuk seseorang dengan sumpit, dan jangan biarkan jari telunjuk anda menjulur lurus di sepanjang sumpit saat memegangnya.

Nama ini mengandung sindiran halus. Anda bukanlah seorang dewa, dan anda tidak sedang menunjukkan jalan kepada siapa pun. Di Tiongkok, jari telunjuk yang diarahkan ke wajah seseorang merupakan gestur tuduhan atau teguran keras di depan umum. Posisi tangan yang benar saat memegang sumpit mengharuskan jari telunjuk tetap dalam keadaan tertekuk. Gunakan telapak tangan terbuka jika anda perlu memberi isyarat, dan letakkan sumpit saat anda sedang berbicara.

6. 定海神针 (dìng hǎi shén zhēn): ‘Jarum Dewa Penenang Lautan’

Jangan pernah menusuk makanan dengan satu batang sumpit saja.

Nama ini merujuk pada tongkat besi legendaris milik Raja Kera (Sun Wukong), pilar yang menjaga kestabilan lautan. Menancapkan satu batang sumpit ke potongan daging layaknya tombak ikan bukanlah sekadar kecerobohan; tindakan ini dianggap sebagai gestur yang ditujukan kepada semua orang di meja makan. Sumber-sumber dari Tiongkok menyamakan dampaknya seperti mengacungkan jari tengah di Eropa. Jika anda kesulitan mengambil potongan makanan tertentu, mintalah agar makanan tersebut dipotong, atau gunakan kedua sumpit secara bersamaan dengan posisi datar di bawah makanan itu. Jangan pernah menusuknya.

7. 击盏敲盅 (jī zhǎn qiāo zhōng): ‘Memukul Cangkir, Mengetuk Mangkuk’

Jangan pernah memukul-mukul mangkuk, piring, atau cangkir dengan sumpit layaknya sedang menabuh genderang.

Mengetuk peralatan makan adalah cara pengemis zaman dahulu menarik perhatian orang yang lewat; mereka memukul mangkuk kosong hingga ada koin yang jatuh ke dalamnya. Melakukan hal ini di meja makan berarti anda memosisikan diri sebagai orang yang sangat kekurangan, sementara tuan rumah dianggap lambat dalam menyajikan makanan. Pantangan ini masih bertahan di restoran modern dalam bentuk yang sedikit berbeda: pelanggan yang tidak sabar mengetuk mangkuk untuk memanggil pelayan dianggap melakukan pelanggaran yang sama dengan yang dipahami oleh kakek buyut mereka.

Lima pantangan yang mencerminkan tata krama atau didikan

Lima pantangan berikutnya tidak berkaitan dengan kematian ataupun penghinaan. Sifatnya lebih halus daripada itu. Dalam bahasa Mandarin, anak yang melanggar aturan ini disebut méi jiājiào (没家教)—artinya tidak mendapat didikan keluarga yang baik—dan penilaian negatif tersebut tertuju pada orang tua sama besarnya dengan pada sang anak. Keluarga-keluarga zaman dahulu percaya—dan cukup masuk akal—bahwa kebiasaan menggunakan sumpit mencerminkan karakter seseorang.

8. 品箸留声 (pǐn zhù liú shēng): ‘Menikmati Sumpit, Meninggalkan Bunyi’

Jangan pernah memasukkan ujung sumpit ke dalam mulut untuk mengisap atau mengunyahnya, dan yang terpenting, jangan pernah menimbulkan suara saat melakukannya. Sumpit berfungsi membawa makanan; sumpit itu sendiri bukanlah makanannya.

9. 执箸巡城 (zhí zhù xún chéng): ‘Patroli Kota’

Jangan pernah membiarkan sumpit anda bergerak ke sana kemari di atas hidangan saat anda sedang memilih. Gerakan ini menyerupai penjaga yang mondar-mandir di atas tembok kota, dan hal itu menyiratkan bahwa nafsu makan anda lebih penting daripada giliran orang lain. Lihatlah terlebih dahulu, tentukan pilihan, lalu ambil dalam satu gerakan.

10. 迷箸刨坟 (mí zhù páo fén): ‘Sumpit Tersesat, Menggali Kuburan’

Jangan pernah mengaduk-aduk hidangan bersama dengan membalik-balik makanan demi mencari potongan yang anda inginkan. Istilah ini sangat keras: anda dianggap seperti penjarah makam yang mengobrak-abrik milik bersama. Ambillah bagian yang paling dekat dan mulai dari lapisan atas.

11. 泪箸遗珠 (lèi zhù yí zhū): ‘Sumpit Menangis, Menjatuhkan Mutiara’

Jangan pernah membiarkan saus atau kuah menetes dari sumpit saat anda memindahkan makanan ke mangkuk anda. Jejak tetesan itulah yang disebut sebagai “tangisan” sumpit. Bergeraklah perlahan, jaga agar mangkuk anda tetap berada di bawah makanan selama pemindahan, dan angkatlah piring kecil untuk menyambut makanan tersebut jika jaraknya cukup jauh.

12. 颠倒乾坤 (diān dǎo qián kūn): ‘Membalikkan Langit dan Bumi’

Jangan pernah makan menggunakan ujung sumpit yang tebal dan tumpul. Rasa lapar bukanlah alasan yang dapat diterima; tindakan tersebut menunjukkan bahwa anda terlalu rakus hingga tidak sempat memeriksa posisi sumpit yang benar. Dalam istilah tersebut, langit dan bumi telah bertukar tempat; begitu pula dengan martabat anda.

Pantangan ke-13: Lupa menggunakan sumpit saji

Dua belas pantangan di atas sudah ada sejak lama. Pantangan ke-13 tidak demikian, dan justru itulah yang membuatnya penting untuk diketahui.

Hidangan Tiongkok pada dasarnya dirancang untuk dinikmati bersama. Berbagai hidangan diletakkan di tengah meja, dan setiap orang mengambilnya sendiri. Selama sebagian besar sejarah panjang tersebut, orang-orang mengambil makanan menggunakan sumpit yang sama dengan yang mereka pakai untuk makan. Namun, dalam beberapa dekade terakhir—dan secara drastis sejak tahun 2020—rumah tangga maupun restoran di Tiongkok mulai menerapkan gōngkuài (公筷), yaitu “sumpit bersama”: sepasang sumpit khusus yang diletakkan di samping setiap hidangan bersama dan tidak pernah menyentuh mulut siapa pun.

13. 私筷 (sīkuài): ‘Sumpit Pribadi Anda’

Etiketnya sederhana. Ambil makanan menggunakan sumpit bersama, letakkan kembali sumpit tersebut di dekat hidangan, lalu makanlah menggunakan sumpit anda sendiri. Jangan pernah mencampuradukkan keduanya. Banyak restoran kini menyediakan sumpit dengan warna atau panjang yang berbeda agar perbedaannya terlihat jelas. Beberapa keluarga bahkan menyediakan sepasang sumpit tambahan di setiap tempat duduk.

Hal yang istimewa dari pantangan ini adalah anda bisa menyaksikan proses terbentuknya. Sebuah budaya yang selama 3.000 tahun merumuskan tata krama makan dalam bentuk puisi empat aksara, hanya dalam satu generasi, telah menambahkan aturan ke-13. Aturan ini muncul bukan karena alasan yang berkaitan dengan peti mati atau leluhur, melainkan sepenuhnya demi kesehatan masyarakat. Etiket penggunaan sumpit di Tiongkok bukanlah sesuatu yang statis layaknya benda di dalam etalase museum. Aturan ini masih terus berkembang—seperti halnya tradisi yang hidup. Penataan meja makan lainnya pun memiliki aturan tersendiri, dan telah diuraikan dalam etiket makan Tiongkok di luar penggunaan sumpit dalam pembahasan terpisah.

Etiket penggunaan sumpit di Tiongkok, Jepang, dan Korea

Wisatawan sering kali mengira bahwa etiket sumpit Tiongkok berlaku sama di mana pun alat makan itu digunakan. Sebagian besar memang demikian, namun tidak semuanya, dan pengunjung kerap keliru pada hal-hal yang menjadi pengecualian. Sumpit menyebar dari Tiongkok ke Korea, Vietnam, dan Jepang sekitar tahun 500 Masehi—sebagaimana dicatat dalam sejarah alat makan tersebut oleh Smithsonian—dan setiap budaya menyesuaikan penggunaannya dengan kebiasaan makan setempat. Sumpit Tiongkok dan Jepang berbeda baik dari segi bentuk maupun aturan penggunaannya, sementara praktik di Korea berbeda dari keduanya.

Ada dua perbedaan yang paling sering membuat orang keliru. Menggosok-gosokkan sumpit sekali pakai untuk menghilangkan serpihan kayu adalah tindakan refleks yang lumrah di Tiongkok, namun dianggap sebagai penghinaan kecil di Jepang. Selain itu, mengangkat mangkuk nasi ke arah mulut—cara makan yang lazim di Tiongkok dan Jepang—dianggap tidak sopan di Korea; di sana, mangkuk harus tetap diletakkan di atas meja, dan sendoklah yang digunakan untuk menyantap makanan.

Pertanyaan umum seputar etiket sumpit

Mengapa sumpit tidak boleh ditancapkan tegak lurus di dalam nasi?

Menancapkan sumpit secara tegak lurus di dalam mangkuk nasi menyerupai praktik membakar dupa dalam wadah persembahan saat upacara pemakaman atau di altar leluhur. Tindakan ini memiliki sebutan dalam bahasa Tionghoa, yaitu dāngzhòng shàngxiāng (当众上香), yang berarti “mempersembahkan dupa di depan umum.” Karena tindakan ini meniru ritual untuk orang yang telah meninggal, melakukannya saat makan biasa dianggap sebagai upaya mengundang kematian ke meja makan.

Apakah tidak sopan mengarahkan sumpit ke arah orang lain?

Ya. Mengarahkan jari ke wajah seseorang merupakan bentuk tuduhan dalam budaya Tionghoa, dan sumpit memperpanjang jangkauan jari tersebut. Tindakan terlarang ini disebut xiānrén zhǐlù (仙人指路), yang berarti “dewa menunjukkan jalan.” Letakkan sumpit terlebih dahulu sebelum anda memberi isyarat, dan tekuk jari telunjuk anda saat memegangnya.

Apa makna menyilangkan sumpit?

Sumpit yang disilangkan membentuk karakter 十, yang menyerupai tanda silang. Secara historis, tanda silang melambangkan jawaban yang salah atau pengakuan yang dibuat di bawah paksaan, sehingga bentuk ini membawa kesan pembatalan dan nasib buruk. Meletakkan sumpit dalam posisi menyilang di atas meja (交叉十字) dianggap sebagai penghinaan terhadap teman makan anda. Sebaiknya, letakkan sumpit secara sejajar.

Mengapa memindahkan makanan dari sumpit ke sumpit dianggap tabu?

Larangan ini paling ketat di Jepang, karena hal itu mengingatkan pada kotsuage, sebuah ritual di mana kerabat memindahkan tulang-belulang orang terkasih yang telah dikremasi dari satu pasang sumpit ke pasang sumpit lainnya. Orang Tionghoa juga menghindarinya, meskipun kaitannya tidak sejelas atau seketat di Jepang. Letakkan makanan di piring orang lain alih-alih menyerahkannya langsung dari sumpit ke sumpit.

Apakah dianggap tidak sopan menggosok-gosokkan sumpit sekali pakai?

Di Tiongkok, tidak; itu adalah cara umum untuk membersihkan serpihan kayu dari sumpit kayu yang murah. Di Jepang, ya. Menggosokkannya di hadapan tuan rumah menyiratkan bahwa sumpit yang mereka sediakan berkualitas rendah. Jika ragu, periksa sumpit tersebut secara diam-diam dan gosok hanya jika benar-benar perlu.

Di mana sebaiknya anda meletakkan sumpit saat sedang tidak makan?

Gunakan penyangga sumpit jika tersedia. Jika tidak, letakkan secara sejajar di atas tepi mangkuk atau di atas bungkus kertas aslinya, dengan ujung sumpit mengarah menjauhi orang-orang di sebelah anda. Jangan pernah membiarkan sumpit tertancap tegak di dalam makanan, diletakkan bersilang, atau diletakkan begitu saja di atas meja.

Tata bahasa di meja makan

Bacalah ketiga belas pantangan tersebut secara bersamaan, dan sudut pandang anda akan berubah. Sembilan di antaranya sebenarnya tidak melulu soal sumpit. Pantangan-pantangan itu berbicara tentang peti mati yang tidak boleh anda gambar di hadapan teman, dupa yang tidak boleh anda persembahkan di meja orang yang masih hidup, sosok pengemis yang tidak boleh anda tiru, leluhur yang tidak boleh anda bangunkan, serta tetangga yang juga berhak menikmati hidangan sama seperti anda. Etiket sumpit Tiongkok adalah sebuah tata bahasa kepedulian. Setiap aturan mengarahkan perhatian menjauhi orang yang memegang sumpit dan menuju ke arah orang lain di ruangan tersebut. Inilah sebabnya aturan-aturan itu diajarkan melalui perumpamaan, bukan sekadar larangan. Seorang anak yang diberitahu “jangan mengetuk mangkukmu” hanya mempelajari sebuah batasan. Namun, seorang anak yang diberitahu nama jī zhǎn qiāo zhōng (击盏敲盅)—dan diperlihatkan sosok pengemis di dalamnya—belajar untuk melihat lebih dalam. Pengajaran semacam itulah yang akan membekas selamanya.

Anda tidak akan menyinggung siapa pun jika lupa satu aturan. Dalam praktiknya, tuan rumah di Tiongkok sangat ramah dan senang melihat tamunya berusaha mempraktikkan etiket tersebut. Namun, memahami pesan yang disampaikan oleh gerakan tangan anda adalah bentuk penghormatan yang tidak bisa digantikan oleh permintaan maaf apa pun; hal ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang bersedia memandang sepasang sumpit bambu dan melihat lima papan kayu, sebatang dupa, serta meja yang dipenuhi orang-orang yang layak untuk diperhatikan. Perhatian yang sama juga tercermin dalam seni membungkuk sebagai belajar kultivasi, serta dalam berbagai hal yang dituntut tradisi dari tubuh kita.

Ambil sumpit anda. Luruskan posisinya. Lalu, tataplah orang-orang yang bersantap bersama anda. Itulah inti dari semuanya. Ikutilah aturan-aturan ini saat menggunakan sumpit agar anda tidak menyinggung siapa pun.