Site icon NTD Indonesia

Festival Perahu Naga di Tangerang

Lomba Perahu Naga di Tangerang (Image: Pengan/NTD Indonesia)

Pada Sabtu (15/6) dan Minggu (16/6) dalam acara “Pesta Rakyat Tangerang” yang bertemakan “Kejujuran dan Kesetiaan yang Tak Lekang oleh Waktu”, panitia festival menggelar lomba perahu naga (“Duan Wu”). Di kalangan warga keturunan Tionghoa di Indonesia, tradisi ini lebih dikenal sebagai “Peh Cun”, umumnya disertai tradisi makan “bacang (bakcang)”, baik buatan sendiri maupun yang dapat dibeli di pasar menjelang tanggal 5 bulan 5 penanggalan bulan. Namun ternyata, banyak dari generasi muda sekarang yang tidak mengenal asal-usul munculnya tradisi ini.

Persiapan lomba perahu naga di Tangerang (Image: Pengan/NTD Indonesia)

Festival Perahu Naga (“Duanwu”) ternyata merupakan salah satu perayaan yang sudah berusia lebih dari 2.000 tahun. Siapa yang menyangka festival yang tampaknya ceria tersebut, berawal dari kisah kesetiaan tragis dari Qu Yuan, seorang pujangga dan negarawan yang hidup pada abad keempat hingga ketiga sebelum Masehi.

Qu Yuan, adalah menteri setia yang mengabdi pada negeri Chu. Ketika negeri tetangganya, Qin mulai menjadi ancaman, Qu Yuan memohon rajanya untuk bergegas menggalang aliansi dengan beberapa negara tetangganya. Sayangnya, kesetiaan, kejujuran dan kebijaksanaannya mengundang rasa iri hati para pejabat istana lainnya dan mereka pun berkomplot memfitnahnya hingga Qu Yuan malahan diasingkan.

Ketika belakangan ia mendengar bahwa ibukota Negeri Chu telah direbut Qin, ia demikian berduka sehingga mengakhiri hidupnya sendiri. Pada tahun 278 sebelum Masehi, pada hari kelima bulan kelima, setelah menulis puisi terakhirnya “Huai Sha” (“Memeluk Pasir”), ia menceburkan dirinya ke Sungai Miluo yang arusnya mengalir ke Danau Dongting.

Budaya Tiongkok tradisional menekankan pentingnya menjaga keutuhan tubuh setelah kematian. Ketika berita ini menyebar, penduduk Chu yang hidup di sekitar Danau Dongting dan sangat menghormati Qu Yun, bergegas mendayung perahu mereka secepat-cepatnya untuk menyelamatkan jasad Qu Yuan agar tidak dimakan ikan. Dalam perayaan Duanwu, orang-orang juga menyiapkan “zongzi” (kita menyebutnya “bacang” atau “bakcang”), makanan lengket yang terbuat dari ketan dan telur yang dibungkus daun besar. Konon, kala itu penduduk desa gunakan “zongzi” sebagai umpan untuk mengalihkan ikan agar tidak memakan jasad Qu Yuan. Demikianlah, tradisi ini berawal. (ntdindonesia/kar)

“Zongzi” (Image: Richmond Lee/Pixabay)